My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Aku lapar.!!



***


Aku menatap nya sangat menyesal, ini semua karna kesalahan yang ku buat membuat Rey seperti ini.


"Kak, Rani............ " belum habis ku melanjutkan perkataan ku Rey cepat-cepat membalikkan tubuh nya menatap ku lagi.


Aku tak melanjutkan lagi perkataan ku. Aku melangkah mendekati nya, dan menuntun nya untuk duduk di sisi tempat tidur.


Aku ambil tangan kanan Rey yang terluka itu dan mengelap darah yang keluar itu membalut nya dengan syal yang ku pakai di leher tadi. Rey tak berkedip menatap setiap gerak-gerik ku.


Aku menatap nya dalam, tapi hanya tatapan sebagai seorang adik terhadap kakak bukan sebagai seorang kekasih.


"Kak... Rani minta maaf. Sejauh ini sudah membuat kakak kecewa dengan sikap Rani." Ucap ku memulai pembicaraan memegang tangan Rey.


"Rani tahu, betapa sayang nya kakak terhadap Rani. Bahkan melebihi dari pada seorang adik." ucap Rey meyakinkan ku akan perasaan nya terhadap ku.


"Iya... Rani tahu, bahkan Rani tahu bagaimana isi hati kakak sekarang terhadap Rani. Kakak sangat membenci Rani kan?." ucap ku menatap mata Rey.


"Menikahlah dengan kakak?." Pinta nya lagi masih dengan obsesi nya itu.


"Tidak kak, Rani hanya menganggap kakak tidak lebih dari pada seorang kakak dengan adik nya." Aku mengucap menunduk kepala tak mampu menatap mata Rey.


"Tatap mata kakak, kata kan kalau Rani tidak pernah cinta sama kakak." pinta Rey kepada ku.


Seketika Handphone Rey yang tadi di letakkan di sisi tempat tidur berdering, ada panggilan masuk.


Tatapan ku menatap cepat ke arah handphone Rey. Ameli, Ya Ameli yang call.


Aku tak ingin mengganggu nya bicara dengan Ameli. Baik nya aku keluar dari sini sekarang.


Tapi ku lihat Rey sama sekali tidak mengangkat panggilan masuk dari Ameli di handphone nya.


"Alasan nya Ameli. Yah, alasan nya Ameli sehingga Rani bersikap acuh dengan kakak." Ucap Rey membuat ku terhenti melangkah, tapi masih tak menoleh ke arah nya.


"Apa sebenar nya yang Rani pikir kan, sampai menjauhkan diri dengan kakak hanya karna Ameli. Rani cemburu. Oke kalau Rani cemburu tapi bukan seperti ini cara nya berdiam dengan kakak, lalu apa hubungan yang telah sama-sama kita bangun dan bina selama ini harus terhenti seperti ini. Sia-sia Rani, sia-sia." Ucap Rey menundukkan kepala sangat kecewa.


Kembali aku menoleh ke arah nya. Jauh di lubuk hati yang paling dalam aku tak kuasa melihat Rey terluka seperti ini, kenapa aku begitu kejam menghukum nya seperti ini.


Tapi... Aku tahu, aku bukan perempuan dan menantu pilihan mama, aku hanya seorang anak perempuan yang di besarkan oleh nya.


"Bukan, Rani tak pernah cemburu dengan Ameli. Justru Rani berbahagia melihat kakak dengan nya bahagia. Bukan kah itu yang di inginkan mama dan kedua pihak keluarga kita dengan keluarga Ameli." ucap ku dan membuka pintu hendak pergi.


"Tunggu Rani." Ucap Rey menahan ku melangkah.


"Coba Rani katakan maksud kedua pihak keluarga, keluarga kita dengan keluarga Ameli. Rani tahu sesuatu. Katakan." Ucap Rey penasaran dengan tangan memegang kedua lengan ku.


"Kak... Sudah lah, Rani lelah dengan semua ini. Kakak tanya lah sendiri dengan mama" Ucap ku melepas tangan Kak Rey dan berlalu turun untuk makan.


Ciuman itu, sedikit membuat ku kenyang tadi. Tapi kenapa disaat-saat sulit seperti ini perut ku malah semakin tak bisa di ajak kompromi.


Aku tahu kau Raja nya (Raja;Perut). Tapi jangan lah membuatku lapar sampai gemeteran seperti ini.


Ah, Sungguh aku sudah sangat lapar sekali.


BERSAMBUNG...