My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Rey terburu-buru



***


Jam menunjuk kan sudah pukul 10 malam. Rey terburu-buru keluar dari rumah mengendarai mobil nya. Rani melihat lewat jendela kamar nya itu. Kemana dia akan pergi lagi, bahkan hampir setiap malam Rey keluar. Ah, mungkin sedang menyelesaikan permasalahan di kantor dengan Fandi. Aku melanjut untuk tidur dan akan pergi bekerja besok.


Kaki ku pun sudah lumayan bisa di gerak kan setelah di pijat-pijat sama Bik Sum tadi. Memang Bik Sum ahli memijat juga selain pekerjaan nya sebagai pengurus rumah tangga.


**


"Sory aku telat." Ucap Rey yang baru sampai dan langsung duduk di depan Fandi.


Fandi tak menjawab, merasa kesal sendiri terhadap Rey.


"Kau baca sekarang." pinta Fandi melempar kan berkas-berkas itu.


(Mungkin disini ada pembaca yang komplen, Thor kenapa kok Fandi memanggil Rey terkadang dengan nama, kadang memanggil begitu formal dengan sebutan Boss. Jadi ini cerita nya kita sesuaikan dengan tempat dan situasi yah kakak. Diluar dari pada pekerjaan mereka adalah teman akrab dan tidak mungkin Fandi memanggil nya Boss kan, hehe.


Ya udah kita lanjut lagi ya 💚)


Rey membuka satu per satu lembar berkas itu dan membaca nya. Kini tatapan nya menatap Fandi.


"Kau lihat?" tanya Fandi kesal.


"Hey, aku tidak percaya orang lain yang melakukan nya, ini ulah Dian." Ucap Rey membela.


"Rey... kau buka mata lebar-lebar sekarang. Dia bisa saja melukai hati mu dulu. Tapi tidak dengan sekarang aku lihat. ini hal pekerjaan." Ucap Fandi membenarkan.


"Hey, kenapa dengan dirimu, kau terus membela nya, sudah jelas-jelas dia mengaku itu perlakuan nya. kau jatuh cinta dengan nya?" Ucap Rey yang masih membela diri nya itu.


Fandi tak menjawab. Jatuh cinta. Bisa saja memang Fandi mulai jatuh hati kepada Dian.


"Kalau ini yang mau kau perlihat kan kepada ku baik nya aku pulang sekarang." Ucap Rey dan bergegas bangun melangkah keluar dari cafe itu.


**


Rey mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, hati nya begitu panas. Pengakuan Dian membuat nya tak bisa mengontrol emosi nya. Apa yang kau ingin kan dari ku, tidak cukup kah kau membuat hatiku terluka beberapa tahun yang lalu. Pikir Rey keras.


Rey menghentikan mobil nya tiba-tiba, dia menabrak seseorang. Sial, kenapa bisa seperti ini. Rey cepat-cepat turun dari mobil dan melihat. Seorang wanita, yah seorang wanita dengan masih berpakaian kerja. Terjatuh pingsan di depan mobil nya itu. Terlihat di ujung jalan sana ada tiga orang laki-laki yang sedang mengejar perempuan ini.


Rey menyelamatkan perempuan itu terus menggendong nya membawa masuk ke mobil dan menuju ke rumah sakit terdekat.


Wajah nya tak terlihat karna tertutupi dengan rambut nya yang panjang. Rey terus melajukan mobil nya. Dia mulai khawatir akan terjadi sesuatu dengan perempuan itu, terlihat sedikit darah di kepala nya itu.


**


"Tuan anda sudah boleh masuk menjenguk nya, dia tidak apa-apa hanya kelelahan dan luka kecil saja di kepala nya." Ucap seorang perawat rumah sakit.


"Baik, terimakasih." Ucap Rey dan masuk ke ruangan tempat di mana perempuan itu tempati.


Terlihat dari jauh wanita itu masih tertidur memenjamkan mata.


Deg. Dian.


Iyah kenapa dia. Iya, kenapa Dian. Aku ingin keluar secepat nya dari kamar itu.


"Terimakasih, karna telah menyelamatkan ku Rey." Ucap Dian lirih membuat Rey terhenti melangkah.


Rey kembali membalikkan tubuh nya. Melangkah ke arah Dian.


BERSAMBUNG...