
***
Ah, kepala ku sangat pusing mendengar ocehan Rey yang sedang memarahi karyawan nya karna bekerja tidak teliti.
Aku beranjak pergi melangkah ke ruangan Rey, dan menunggu nya disana.
Sungguh ruangan kerja yang sangat rapi, aku merebahkan tubuh ku di sofa, tubuh ku terasa lelah sekali. Sampai aku benar-benar tertidur di sofa itu.
**
"Baik lah kalau di antara kalian tetap tidak ada yang mengaku. Saya akan membawa permasalahan ini ke jalur hukum." Ucap Rey dan berlalu pergi ke luar.
"Boss... Saya yang melakukan nya." Ucap seorang pekerja wanita yang baru beberapa bulan masuk di bagian produksi, tak lain tak bukan ialah Dian.
"Kalian semua boleh keluar sekarang." Lanjut Rey lagi bicara dengan karyawan yang masih berdiri berjejer mematung di hadapan nya.
"Fandi, kamu juga keluar. Tinggalkan kami hanya berdua saja." Pinta Rey ke Fandi.
"Tapi Boss." Ucap Fandi ragu.
"Keluar." Ucap Rey lagi dengan tatapan masih menatap Dian tajam tak berkedip.
"Oke Boss." jawab Fandi dan melangkah mundur untuk keluar.
Kini hanya mereka berdua. Rey dan Dian. Rey masih dengan tatapan menatap Dian tajam. Tatapan yang penuh luka dan kebencian yang mendalam.
"Kau butuh berapa lembar, biar ku berikan sekarang?" tanya Rey cepat.
"Maksud mu Rey?" Ucap Dian dengan logat ke-inggris-an nya itu menatap Rey tak paham.
"Baik lah, Kau katakan sekarang kenapa kau ingin melibatkan perusahaan ini?" Tanya Rey dengan lembut tapi menusuk sekali dan terlihat sinis.
"Karna aku tidak ingin melihat mu bahagia dengan menyiksa ku yang seperti ini Rey." Ucap Dian dengan wajah polos tak berdosa.
Dan berlalu pergi berlari keluar dari ruang itu, Dian menangis sejadi-jadi nya.
Rey menghembus nafas kasar dan mengacak-ngacak rambut nya dengan kedua tangan.
**
Rey masuk ke ruang kerja nya dan mendapati Rani sedang tertidur di sofa begitu terlelap.
Terlihat di luar masih sangat dingin dan hujan rintik-rintik pun enggan berhenti seperti nya.
Rey mengambil jas nya dan menutup tubuh Rani agar tidak kedinginan.
Perempuan yang akan di nikahi nya beberapa bulan lagi. Gadis manja, keras kepala dan nakal. Rey tersenyum kecil melihat wajah Rani yang begitu merona sekali masih terlihat kekanak-kanakan.
Ketukan pintu membuat Rey tersentak dengan lamunan nya itu.
"Masuk." Sahut Rey dan berdiri melangkah menuju ke meja kerja nya itu.
Fandi, Iya Fandi masuk membawakan berkas untuk di tanda tangani Rey. Fandi melihat sekilas ke arah Rani setelah itu kembali dengan tugas nya.
"Kau mempercayai nya, kalau Dian yang melakukan nya." Bicara Fandi membuat Rey menatap nya tajam.
"Dia sudah mengaku. Kenapa kau terlihat khawatir?" Tanya Rey bingung.
"Tidak, aku bukan apa. Hanya saja aku tidak percaya kalau dia yang melakukan nya Rey. Kau tahu kinerja kerja nya begitu bagus. Tidak mungkin seorang Dian melakukan nya Rey." Ucap Fandi membela.
"Fandi, kau diam sekarang. Dia baru..." Ucap Rey terpotong karna melihat Rani terbangun dengan pembicaraan mereka berdua.
Rani membuka mata nya dan mendapati dua lelaki sedang berbicara, membuat nya yang tertidur terbangun. Cepat Rani duduk dan merapikan baju nya.
"Maaf kak, Rani tertidur." Ucap Rani dengan ciri khas nya yang begitu manja saat berbicara.
"Kau... keluar lah sekarang." Pinta Rey ke Fandi
"Oke Broo." jawab Fandi dan mengedipkan mata ke arah ku.
Aku hanya tersenyum simpul.
"Apakah waktu kerja nya sudah selesai? Sudah boleh kah kita untuk balik pulang?" Tanya ku kepada Rey.
"Kita akan menginap di sini." Jawab Rey sangat serius.
"No, Rani akan pulang sendiri." Ucap ku terus berdiri dan melangkah.
Tiba-tiba terjatuh ke lantai, karna aku terlupa kalau kaki ku masih sakit.
Rey tersenyum melihat tingkah ku yang begitu ceroboh.
"Iiih... Tolong lah, jangan tertawa saja." Pinta ku memohon karna tak mampu bangun.
"Maka nya lain kali jangan nakal, dengar apa yang kakak bicarakan." Ucap Rey sembari menolong.
"Rani sangat lapar." Pinta ku lagi memelas ingin makan.
BERSAMBUNG...