
Namaku Rania, biasa di panggil Nia baik oleh keluarga dan teman-teman ku.
Aku tinggal bersama Nenek ku di salah satu Desa terpencil. Aku sebenarnya mempunyai keluarga yang sempurna seperti keluarga lain pada umumnya, tapi karna aku dari kecil sudah sering ditinggalkan Papa dan Mama pergi bekerja, aku lebih dekat dengan Nenek dan pengasuhku, maka aku lebih memilih untuk tinggal bersama nenek.
Sempat beberapa tahun lalu terjadi percek-cokan antara Papa dan Mama karna hal pendidikan ku untuk melanjut ke Sekolah Menengah Atas.
“Tetap pada keputusan Papa” ucap Papa dengan lancang dan tegas.
"Tapi Pa, Nia sudah lama tinggal dengan Ibu di desa, dia sudah besar, biar dia yang memilih pendidikan nya sendiri." ucap mama membela.
Nia membisu di kamar nya mendengarkan perbincangan antara papa dan mama nya yang belum mendapatkan titik terang akan hal pendidikannya, tangan nya memeluk boneka teddy bear berwarna pink itu, berharap papa akan mendengarkan yang di katakan mama.
Nia sangat berharap agar dia bisa melanjutkan Sekolah Menengah Atas di desa neneknya, yang sudah dia tinggali dari sejak kecil. Nia berbeda dengan gadis lain pada umumnya yang suka tinggal dan melanjutkan pendidikan di pusat kota.
Ya, berbeda. Memang Rania sangat berbeda, Nia lebih suka akan kedamaian dan ketentraman, jauh dari hiruk pikuk nya keributan ibu kota. Sifat dan sikapnya yang lembut dan manja mencerminkan kepribadian nya yang memilih tinggal di perkampungan.
**
Entah, aku tidak begitu peduli bagaimana persis nya papa sampai mengizin kan ku untuk tetap melanjutkan sekolah di desa Nenek, tidak pasti rayuan maut apa yang disampaikan mama ke papa kala itu.
Aku bersyukur mempunyai keluarga yang sayang sama aku, walau terkadang susah nak berharap kasih sayang dari mama dan papa secara langsung dikarnakan mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Aku lebih meluahkan segala perasaan ku sama nenek dan juga kasih sayang nenek yang luar biasa terhadap ku.
Atau kah mungkin aku saja yang terlalu manja dan kekanak-kanakan. Ah, tidak pasti.
Aku tatap dilayar handphone, Mama. Iya, mama yang menghubungi ku.
Huh.. sungguh malas rasanya untuk mengangkat panggilan masuk dari mama, yang bertubi-tubi selalu menanyakan kapan aku akan balik kerumah, berhubung aku sudah libur panjang dan menunggu ijazah terakhir keluar.
Kali ini pun juga pertanyaan dan ocehan yang sama juga pikir ku dalam hati, kalau papa dan mama sangat merindukan anak gadisnya yang sangat manja ini.
Toh, setidaknya mereka yang datang menjenguk nenek dan aku, tapi itu lah hidup papa dengan mama yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing yang entah kapan akan berakhirnya.
Dengan terpaksa aku mengangkat telepon dari mama.
"Ya ma." Sahut ku memulai pembicaraan.
“Sayang... Kapan nia akan balik nak?. Biar Pak Uki yang akan menjemput” Mama langsung to the point dengan pembicaraan nya itu.
Pak uki adalah sopir pribadinya keluarga Rania.
Nah kan, aku pun bingung menjawab apa karna sudah berkali-kali mama menanyakan hal yang sama. Aku enggan meninggalkan desa ini, dengan halaman rumah yang begitu luas dan terasa sangat adem dan begitu nyaman, penuh dengan bermacam-macam bunga dan juga pepohanan yang rindang, pun pohon mangga di depan rumah yang setiap kali berbuah aku petik buah nya biasa kami merujak bersama dengan teman-teman dihalaman depan rumah, dikelilingi sawah dan cuitan burung-burung setiap pagi. Aku akan sangat merindukan tempat ini nanti nya.
“Baiklah Ma, Nia besok pagi-pagi akan balik, nanti Nia ijin ke nenek dulu” jawab ku datar tanpa berpikir lagi.
BERSAMBUNG...