
***
"Apakah itu sakit sekali?" tanya ku polos
"Yah, bagaimana tidak sayang. Sedangkan kaki kakak masih terluka." sahut Rey meringis kesakitan memegang kaki nya
"Tapi hati ini jauh lebih sakit kak, melihat kakak dengan Dian duduk berduaan di ruang kerja seperti tadi." sahut ku geram
"Sayang, tadi nya ada Fandi. Fandi keluar mengambil perkakas P3K untuk mengobati luka kakak." Rey menjelaskan
"Lagi pula Dian hanya membantu kakak saja tadi. Kenapa sayang begitu mudah menafsirkan semua ini sendiri dengan cepat. Kakak dengan Dian sama sekali tidak ada apa-apa." kembali Rey menjelas kan
"Keluarkan Dian dari perusahaan ini, tempat kan ke kantor cabang." pinta ku begitu aneh karna di landa kecemburuan yang mendalam
Apakah aku terlalu egois. Ah, tidak penting. Aku hanya menginginkan hubungan ini lebih baik ke depan.
"Baik. Akan kakak lakukan itu." sahut Rey tegas dengan wajah tersenyum
Rey kembali mendekat dan menyentuh wajah ku lembut dengan tangan nya. Menyibak rambut ku ke belakang dan menenggelam kan wajah nya di sisi bahu dan leher ku.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari arah luar seketika mengagetkan ku dan Rey. Kembali kami menatap dan menjaga jarak.
"Masuk." sahut Rey dari arah dalam
Dian.
Kenapa dia kemari. Apa lagi yang di ingin kan nya. Kali ini dia menatap ku tersenyum dan -- sosok Fandi di belakang nya. Apa yang Fandi lakukan dan bicara kan tadi dengan nya sampai dia tersenyum dengan ku kali ini. Bukan kah Dian selalu mengganggap ku selama ini seperti melihat musuh dan tidak ingin tersenyum sedikit pun.
"Rey, aku minta maaf." pinta Dian membuka pembicaraan
Terlihat Rey mengernyit kan dahi nya itu, mungkin merasa heran.
Aku tidak tahu lakonan apa yang ingin di lakukan Dian kali ini di depan Rey. Entah akan merayu Rey kembali kepada nya atau dia sendiri yang akan pergi meninggal kan Rey, tanpa di minta. Toh, memang itu yang pernah di lakukan nya dulu terhadap Rey, sampai Rey se--terluka itu.
"Rey, aku tidak mengetahui sebelum nya kalian sudah bertunangan. Maafkan aku, aku berpikir selama ini kamu masih seperti dulu menyayangi ku. Setelah kamu menyelamatkan aku di malam itu perasaan ku semakin yakin kamu masih sangat mencintai ku Rey." ujar Dian di sela tangis nya dengan kepala tertunduk
"Malam itu. Aku hanya mengerjakan tanggung jawab ku sebagai seorang Boss di perusahaan ini karna kamu terlibat dalam masalah pemalsuan produk, aku melindungi mu dari bahaya 3 orang lelaki yang mengejar mu itu. Dian, tidak lebih dari pada itu. Rasa itu sudah lama mati terhadap mu." sahut Rey menjelaskan
"Jadi itu hanya rasa simpati saja Rey?" tanya Dian begitu halus
"Yah, tidak lebih dari pada itu Dian." sahut Rey lancang
Tapi, kenapa kali ini aku merasa kasihan melihat Dian yang di depan ku itu dengan wajah memelas. Terlihat di sirat wajah nya yang masih menyimpan cinta dan sayang kepada Rey.
"Rani, aku minta maaf." ujar Dian kembali menatap ku dengan air mata masih terjatuh di wajah nya
Sekilas aku menatap Rey, dan perlahan melangkah ke dekat Dian.
"Kenapa meminta maaf Dian, kamu sama sekali tidak berbuat salah." Sahut ku tersenyum dan memegang mengelus lembut punggung tangan nya itu
"Tapi aku sudah sejauh ini membuat mu cemburu semenjak kehadiran ku di kantor ini, maafkan aku Rani." pinta Dian menatap mata ku dalam
Aku sama sekali tak menjawab, memeluk Dian cepat dan mengelus halus punggung nya.
Aku melihat Fandi yang berdiri di belakang Dian tersenyum-senyum sendiri melihat ke arah ku yang memeluk Dian.
Oh, jadi kamu yang mengatakan semua nya ke Dian. It's Oke.
Aku melepas peluk ku yang memeluk Dian.
Dan melangkah mendekat Fandi. Sedikit berbisik ke telinga nya.
"Kau menyukai Dian?" tanya ku menggoda pelan dan halus
Membuat Fandi tersontak kaget dengan tiba-tiba wajah yang sudah memerah menahan malu.
BERSAMBUNG...