My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
ANEH.!!!



***


Samar-samar terdengar suara Mama, Papa dan Rey di ruang tengah keluarga. Aku tidak tahu pasti apa yang tengah di bincang kan mereka.


Mungkin masalah pekerjaan di perusahaan yang sudah dilimpah kan semua oleh papa untuk Rey. Aku tak mau ambil pusing dan tak berminat untuk ingin tahu.


Saat aku tengah berjalan turun menyusuri tangga ingin turun ke dapur, tiba-tiba berpas-pasan muka dengan Rey.


Aku tersenyum seperti biasa nya dan hendak menanyakan sesuatu hal.


Tapi, terlihat wajah Rey sangat murung dan membalas tersenyum pun tak berselera dengan ku.


Terus bergegas langsung menuju ke kamar nya dan menutup rapat pintu kamar itu.


Ada apa? pikirku dalam hati.


Disudut dapur pun terlihat Bik Sum dengan wajah yang sebegitu tegang.


Aku merasa aneh dengan keadaan dan wajah semua orang di dalam rumah ini sekarang.


Kenapa semua orang begitu tegang setelah perbincangan di ruang tengah keluarga tadi, yang aku memang tidak tahu pasti apa yang di bicarakan nya itu.


"Biiii... Bibi masak apa?Bau nya sedap sekali." tanya ku ingin tahu.


Aku menuangkan air ke dalam gelas sembari menarik kursi untuk duduk di meja makan.


"Ini bik sum masak sup kesukaan tuan Rey. Ini sudah selesai, kalau Non Nia mau biar Bik Sum sajikan sekali untuk Non Nia" jawab Bik sum pelan.


"Eh eh tak perlu bik, nanti Nia ambil sendiri saja." Jawab ku tak mau merepotkan Bik Sum.


Kasihan Bik Sum yang sudah seharian bekerja untuk kesiapan dan keperluan dalam mengurus rumah ini.


"Ya sudah, bik sum pergi mengantar sup dulu ke kamar tuan muda Rey ya." Lanjut Bik Sum bicara.


Setengah bik sum berjalan melangkah, Aku memanggil nya.


"Bik, biar Nia saja yang pergi mengantarkan sup nya untuk kak Rey." Pinta ku dan cepat-cepat mengambil sajian sup di tangan Bik sum itu, sebelum bik sum menjawab.


Yah, Mati lah.


Bik sum mau menahan tapi Nia sudah duluan mengambil mangkuk sajian sup nya. Situasi tengah begitu tegang sekarang. Aduh Non Nia. Bik Sum terlihat khawatir.


Dan aku tahu, Bik Sum seperti nya tak ingin aku yang mengantarkan sup ini untuk Rey. Hehe.


Terlihat jelas itu wajah Bik Sum tegang persis seperti tadi saat aku berpas-pasan dengan kak rey di tangga. Wajah Rey pun sama tegang nya seperti itu juga. Aneh. Yah memang aneh sekali.


Ada apa sebenar nya dengan orang-orang di rumah ini.


Ah, aku tak mau peduli, maksud di sebalik wajah-wajah mereka itu.


Ini kesempatan aku bisa lebih dekat dengan Rey. Setelah sekian lama kami terpisah jarak.


Harap-harap nanti bisa membantu ku merayu ke papa dan mama masalah keinginan ku melanjutkan ke University yang aku harap selama ini, bukan yang seperti papa dan mama inginkan. Dan ini saat yang tepat. Yah, tepat sekali.


**


Nia mengetuk pintu kamar Rey perlahan, dan beberapa kali tetap tidak ada sahutan sama sekali dari arah dalam.


Perlahan aku coba memegang gagang pintu mungkin tidak terkunci.


Yah, tak terkunci sama sekali dan aku menyelinap terus masuk kedalam.


Terlihat kamar yang begitu luas, bersih dan rapi, tak ada sedikit pun debu dan begitu harum ruangan kamar ini yang dipenuhi aroma bunga lavender.


Tidak ada kakak, dimana dia?


Dikamar mandi kah?


Aku meletakkan sup yang tadi aku bawakan di meja sudut kamar.


Dan kembali berbalik arah.


Deg.


"AAAAHHHH." aku teriak keras dan menutup wajah dengan kedua tangan.


Penampakan yang sangat memalukan sekali. Rey hanya memakai handuk saja, terlihat bidang dada nya yang begitu sixpack dan lengan berotot.


"Hey... kenapa disini?" tanya Rey pun yang juga kaget, cepat-cepat menuju ke bilik pakaian dan memakai baju.


"Maaf kak, tadi Nia dah ketuk pintu, tapi kakak tak menjawab. Mana Nia tahu kakak sedang dikamar mandi, Nia terus masuk saja." jawab ku yang kini sudah duduk di tepi tempat tidur sambil menekan-nekan kasur dengan jari telunjuk.


"Ada apa?" tanya Rey cepat.


Hah. Ada apa?


Kenapa dia malah bertanya seenak nya seperti itu, dah baik-baik aku mau mengantarkan sup untuk nya. Walau di sebalik itu semua aku juga yang sedang membutuhkan nya sih. Iya, membutuhkan bantuan nya. Hee.


"Eeummm " Nia menggaruk kepala nya dan sudah berdiri di sisi tempat tidur.


Terlihat Rey sedang berdiri di depan cermin merapikan baju nya, sedikit pun tak menoleh ke arah ku.


"Nia antarkan kakak sup, Nia sudah meletakkan nya di atas meja." lanjut ku berbicara sambil menunjuk ke arah sup yang ku letak kan tadi.


"Eemmm" Jawab Rey singkat.


What?


Cuma Emm, kenapa dengan diri nya itu.


Kerasukan jin kah?


Kemarin terlihat masih bersikap manis saja terhadap ku. kenapa hari ini begitu cuek dan tak peduli sama sekali terhadap adik nya ini.


"Nia balik ke kamar sendiri dulu kak." lanjut ku berbicara lagi, terus berlalu pergi tanpa peduli apa yang akan di jawab dan di perbuat Rey.


BERSAMBUNG...