My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Mama kedatangan Tamu



***


"Selamat siang Bods." sapa seorang karyawan di kantor.


Rey tak menjawab terus berlalu pergi.


Kembali dia berpikir, benar kah ini sudah siang, Rey pun menyibak lengan baju kiri nya untuk melihat jam.


Ah, sial dia lupa memakai nya tadi. Entah apa yang merasuki nya kali ini. Rey terus naik lift menuju ke lantai ruang nya bekerja.


"Boss, awal hari ini." sapa seorang karyawan lain nya sambil tersenyum seperti ada yang lucu


Terlihat karyawan lain sedang berbisik-bisik. pasti kali ini membisikkan nya. Ah, biar lah. Mungkin karna Rey orang yang tepat waktu dan disiplin, tapi kali ini dia telat masuk bekerja.


Rey terus masuk ke ruangan, dan terlihat Fandi sudah menunggu nya di sofa.


"Kau lihat jam berapa sekarang" ucap Fandi membuka pembicaraan bak seorang Boss Besar.


"Kau lihat aku tak pakai jam" jawab Rey santai sambil menunjuk lengan nya ke arah Fandi.


"Kau ini, kenapa tak menolong ku disaat sulit seperti tadi sih, kau ini kenapa sekarang masuk kantor hilang-hilang dan sekarang sudah siang kau baru masuk Rey" ucap Fandi kesal.


"Wait, kau bilang menolong mu tadi, apa itu Fan?" tanya Rey sambil mengingat-ingat apakah dia ada meeting tadi, sembari mengeluarkan handphone di kantong jas nya.


Dan membuka handphone.


Owh ya ampun.


Bagaimana ini, begitu banyak telpon dan sms masuk dari Fandi dan sekretaris nya kalau dia ada meeting pagi tadi.


Bagaimana aku pun bisa lupa, pasti kami tidak mendapatkan proyek itu kali ini. Rey yang terlihat semakin panik sekarang, malahan Fandi yang terlihat lebih santai dan tersenyum melihat Rey.


"Kau ada masalah?" tanya Fandi lagi.


"No, but... Rani" jawab Rey yang setengah sadar dengan yang dikatakan nya.


Rey kembali mengingat kejadian pagi tadi dengan Rani, dan kembali tersenyum.


"Rani?? who is Rani, Rey?" jawab Fandi lagi yang setengah terkaget mendengar nama seorang perempuan yang di sebut Rey.


"No, No... bukan, aku aku..." jawab Rey tak melanjut, kini pikiran nya kembali membayangkan proyek itu, bagaimana ini.


"Kamu kenapa nii, lain macam aja aku tengok Rey?" tanya Fandi lagi yang sangat terlihat santai.


"Kau mendapatkan proyek itu?" tanya Rey to the point.


"Menurut mu" ucap Fandi bangga dan tersenyum lebar.


"No, heee..." jawab Rey menampakkan gigi nya ke arah Fandi dan tersenyum dibuat-buat.


"Aku dapat Brooo, hahahaaa" ucap Fandi setengah berteriak dan melompat-lompat memeluk Rey.


"Benar kah?" tanya Rey lagi.


"Iyah" jawab Fandi mengedipkan mata nya sebelah.


"Thank you broooo, thank you." jawab Rey sangat bahagia.


**


"Nia kemari lah, kenalkan ini kawan mama masa sekolah dulu Aunti Lina, sekarang sudah balik dari UK dan tinggal disini." mama memperkenal kan seorang perempuan paruh baya.


Wow, terlihat penampilan nya saja aku terkagum.


"Hai aunti" sapa ku dan menyalam tangan nya.


"Ini anak nya Aunti Lina, Sony" ucap mama lagi.


Mama bercerita panjang lebar dengan kawan lama nya itu. Dan ternyata Aunti Lina ini lulusan designer juga, kini usaha fashion nya sudah melejit pesat dan sudah membuka cabang di beberapa negara.


Wow, aku terharu mendengar nya.


Lama mendengar Mama dan Aunti Lina bercerita-cerita, aku kini mulai bosan dengan suasana ini.


Kenapa dengan laki-laki ini (maksud;Sony) terus saja menatap ku sedari tadi, pikir ku.


Aku mau berpamitan seperti nya nggak enak sama Mama dan Aunti Lina.


Kini tatapan nya malah semakin menjadi-jadi menatap ku, ih gatal, pikir ku.


Aku mengambil majalah di atas meja dan menutup wajah ku biar dia tak bisa melihat wajah ku lagi. Curi-curi aku melihat nya pandangan nya masih dengan tatapan menatap ku. Aku meletak kan majalah di meja, dan kini mengangkat dagu menantang nya.


Dia malah tersenyum, dan membuat gerakan tangan ke telinga nya sebagai tanda meminta nomor handphone ku menggunakan bahasa isyarat. Oh, Nekat ini orang pikir ku lagi.


Aku kembali mengangkat dagu menantang nya dengan mulut ku yang sewot.


Tiba-tiba terlihat Rey sudah berdiri pas di ruang utama sana agak jauh dari tempat kami duduk, ternyata kakak sudah lama menatap tingkah ku sedari tadi.


Karna arah ku duduk menghadap ke ruang utama.


Rey terlihat tidak suka dengan cara ku, apa lagi dekat-dekat dengan lelaki lain. Aneh memang kakak ku akhir-akhir ini, entah dia cemburu atau apa aku tidak pasti.


Toh, ini mama yang meminta untuk aku teman kan bukan aku sendiri yang ingin.


"Rey, sudah pulang." sahut mama yang kini sudah melihat Rey.


"Iya ma." jawab Rey seada nya.


Dan Rey menyalami kedua tamu mama itu.


"Ma, Rey pamit ke atas dulu, belum mandi soal nya" ucap Rey dan mama meng-iya kan.


Sebelum beranjak melangkah ke kamar nya, Rey menatap ku mengisyaratkan menyuruh pergi dari situ, menggunakan bahasa isyarat nya kali ini karna tidak enak kalau mengatakan dengan perkataan membuat mama tidak suka dan berkecil hati karna sedang melayani tamu.


Entah, aku pun jadi paham bahasa isyarat setelah lama duduk di depan Sony itu. Hahaa.


Kakak pun berlalu pergi menaiki tangga menuju ke kamar nya. Aku pun juga berpamit ke mama ingin ke kamar sebentar.


Dari tempat ku berdiri sekarang, aku melihat Rey sudah berhenti melangkah dan seperti nya menunggu ku.


BERSAMBUNG...