My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Aku merasakan berbeda



***


"Kaak... Cepat lah." Pinta ku memelas dengan ciri khas ku yang begitu manja.


"Cepat?. Kenapa ni?." Tanya Rey penasaran.


Aku kembali tak menjawab yang masih dipelukan nya.


"Bersabar lah sebulan lagi. Kita tunggu papa dan mama balik dari luar kota dulu, setelah itu kita persiap kan semua nya." Jawab Rey menenangkan ku.


"Iya." Jawab ku tersenyum.


Ah, Aku sudah tidak sabar menjadi istri nya. Melayani nya setiap hari, membuatkan roti di pagi hari untuk nya, menyediakan pakaian untuk nya, memasak untuk nya, dan pasti nya kami akan tinggal bersama dan mempunyai anak-anak. Ah pemikiran ku sungguh terlalu jauh sekali. hehee...


"Kakak punya permintaan." pinta Rey terlihat serius.


"Eeummm... katakan." Sahut ku polos.


"Rani berjanji dengan kakak tidak akan bekerja lagi setelah kita menikah nanti." Ucap Rey sangat-sangat serius.


"Tapi... Rani..." Ucap ku terpotong.


"Kakak ingin istri kakak hanya melayani kakak saja dirumah, dan tidak bekerja di luar." Ucap Rey melanjutkan bicara nya.


"Kak... " jawab ku memelas dengan menyipitkan kedua mata.


"No." Ucap Rey singkat yang berarti sudah tidak boleh membantah.


"Lagi pun apa pun dan berapa pun yang Rani minta kakak kasih." Ucap Rey tersenyum.


"Cukup dirumah, melayani kakak saja." Ucap Rey kini tersenyum lebar.


Ya, ya. Aku mengalah kali ini. Tapi nanti lah aku pikir cara untuk meyakin kan nya agar di beri izin untuk bekerja diluar.


Aku tahu kakak tidak suka wanita yang bekerja di luar rumah. Tapi apalah daya aku yang terkadang keras kepala tidak mendengar perkataan nya.


Aku pun tahu, kakak sangat menyayangi ku dan tidak ingin terjadi apa-apa dengan diri ku ini. Aku beruntung mendapatkan kakak sekaligus calon suami yang begitu peduli dan baik hati.


"Rani... pergi lah untuk tidur sekarang." Ucap Rey tiba-tiba


"Iya..." Jawab ku dan berlalu pergi mendengar perkataan nya itu tak ingin membantah.


**


**Maafkan aku bila aku telah banyak mengukir luka di hatimu, maaf pula jika aku telah banyak meneteskan air mata yang keluar dari matamu. Yang ku lakukan hanya bisa meminta maaf bila aku tidak bisa memahamimu, memahami keinginanmu. Tapi yang perlu kamu tahu, bahwa hanya kaulah yang ingin ku jadikan satu-satunya menjadi pendamping hidup ku, dan aku benar-benar menyayangimu. Selamat malam dan selamat beristirahat Rey.


By. Dian**.


Rey menghembus nafas panjang dan memenjamkan mata. Kembali mengingat kisah silam nya dengan Dian di Newyork dulu semasa menempuh pendidikan dan bekerja di sana. Sesekali Rey tersenyum mengingat kisah nya dengan Dian. Kembali dia tersadar kalau Dian sudah melukai hati nya.


"Tuan... Non Nia terjatuh di tangga, dan kaki nya tak bisa di gerak" Bicara Bik Sum mengagetkan Rey, memberi tahu dengan nafas nya yang tak beraturan.


"What..?" Ucap Rey dan terus beranjak lari menemui Rani.


"Kenapa bisa seperti ini?" Ucap Rey yang terlihat khawatir dan memegang kaki ku yang tengah duduk di sofa.


"Rani gak kenapa-kenapa, ini hanya keseleo saja. Nanti Rani oleskan minyak juga sudah oke." Sahut ku menahan sakit.


"Rani ke kamar dulu kak." Ucap ku dan bangun melangkah perlahan,


Tapi Rey yang tak ingin melihat ku terjatuh lagi untuk ke dua kali nya, terus menggendong ku melangkah menuju ke kamar.


Aku hanya mampu menatap wajah nya dan tersenyum.


Rey meletak kan pelan tubuh ku di atas tempat tidur. Menutup tubuh ku dengan selimut dan terus berlalu pergi tanpa mengecup di kening ku sama sekali.


Aku menarik tangan nya manja dan tersenyum.


Rey paham yang ku maksud. Yang berarti aku menyuruh nya untuk mencium ku di kening.


Tapi dia tak melakukan nya. Hanya tersenyum kecil saja melepas tangan yang ku pegang dan setelah itu berlalu pergi tanpa berpamit.


Aku merasakan tatapan dan sentuhan kakak yang sangat berbeda dengan ku kali ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan nya sekarang. Kenapa begitu dan sangat berbeda sejak kembali tadi setelah beberapa minggu tidak kembali ke rumah ini.


Apakah kakak sudah tidak menginginkan ku lagi?


Dulu di saat kakak melihat ku begitu bernafsu sekali dan terus menggoda ku berkali-kali dan bercanda.


Pertanyaan demi pertanyaan terlontarkan di pikiran ku sendiri. Tapi aku tak menemukan jawaban nya.


Aku berusaha memenjamkan mata agar tertidur. Tapi tetap tak bisa.


Kembali memikir kan Rey.


BERSAMBUNG...