My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Drama di Perusahaan



***


*Bwana Group*


Terlihat dari jauh wartawan sudah berkerumunan di lobi masuk. Rey memutar mobil nya masuk dari arah belakang. Dan masuk melalui tangga darurat. Rey terlihat terburu-buru.


Sial, bagaimana dengan Rani yang kaki nya sedang sakit menaiki tangga. Aku menggendong nya, Pikir Rey. Tidak, bukan mudah untuk Rey menaiki tangga menggendong nya menuju ke lantai atas.


Rey menelpon Fandi untuk membawa Rani via lift, tapi handphone nya tiba-tiba tidak ada sinyal. Sial, terpaksa Rey menggendong Rani menaiki tangga demi tangga.


Aku cuma bisa tersenyum, disaat Rey terburu-buru seperti ini.


Sungguh lelaki bertanggung jawab. Pikir ku dengan pemikiran yang bermacam-macam saat Rey terus melangkah dan menggendong ku.


Lagi pun siapa suruh mengajak ku ikut, ini lah hukuman nya untuk mu sayang, ketawa ku cekikikan. Tapi Rey tak peduli masih dengan wajah serius nya itu.


Lagi pun apa masalah nya sih sampai harus ada wartawan pula seperti ini, kejadian seperti ini kan hanya ada di film saja, pikir ku lucu dan menganggap nya aneh.


Hah.


Desah Rey karna kecapean menggendong ku.


Rey menurunkan tubuh ku dari gendongan nya itu, dan menyuruh ku berjalan perlahan mengikuti langkah nya.


Ah, semua karyawan tatapan nya menatap ku. Aku bersikap seperti biasa saja dan tersenyum melihat mereka satu persatu.


Terlihat semua karyawan sudah berkumpul di ruang pertemuan.


Rey menjemput ku untuk duduk di tempat duduk nya, sedang kan dia sendiri memilih berdiri dengan kedua tangan memangku di meja yang besar itu.


"Boss... Wartawan sudah bisa di kendali kan sama petugas keamanan di bawah." Ucap Fandi tiba-tiba masuk ke ruangan itu dan membuka pembicaraan.


Rey terlihat sedikit lega dan bernafas panjang.


Ah serumit ini kah menjalan kan bisnis, pikir ku mengernyit kan dahi. Untung aku tidak mendengar arahan papa dulu. Mungkin kalau mendengar nya entah bagaimana sudah rambut ku putih beruban karna memikirkan nya. Haha.


Kenapa aku masih bisa bercanda dengan sendiri nya disaat keadaan tegang seperti ini.


"Boss... Ini data-data yang sudah saya input tadi malam, dari data yang saya dapat, ini adalah pekerjaan orang dalam." Ucap Pia sekretaris Rey memberikan berkas itu untuk Rey.


"Orang dalam?" Tanya Rey cepat.


"Seperti saya bilang tadi malam Boss, ini pasti pekerjaan orang dalam." Ucap Fandi membenarkan.


Tadi malam, jadi tadi malam kakak keluar terburu-buru menemui Fandi untuk membicarakan dan menyelesaikan permasalahan ini. Gumam ku dalam hati.


"Fandi tolong panggil semua yang bekerja di bagian Produksi." Ucap Rey menyuruh Fandi bergerak cepat.


"Baik Boss." Ucap Fandi cepat dan berlalu keluar.


**


Seorang wanita, Yah seorang wanita itu siapa. Seperti tidak asing, seperti aku pernah melihat nya. Tapi dimana, berkali-kali aku mengingat tapi masih tak tahu melihat nya dimana.


Siapa sebenarnya wanita itu, kenapa menatap ku sedari tadi tidak memindahkan mata. Terus menatap ku dari atas sampai bawah, dan sedikit pun tak tersenyum dengan ku. Ah, aku tak mau peduli.


"Kalian sudah tahu permasalahan nya apa?" Tanya Rey cepat kepada karyawan di bagian produksi.


Mereka terlihat mengangguk dan menunduk. Mungkin takut Rey akan memarahi nya satu per satu.


Sekarang aku seperti menonton drama korea. Duduk santai melihat aksi-aksi mereka semua.


Ya Tuhan, kenapa aku berkali-kali harus bercanda seperti ini, bukan kah ini situasi nya sedang sangat menegangkan sekali.


"Yang lain tolong keluar semua, tinggalkan karyawan yang bekerja di bagian produksi." Ucap Fandi mengikuti arahan Boss nya Rey.


Terlihat hanya tinggal beberapa orang saja sekarang, ini mereka yang berperan penting di bagian pekerjaan nya itu.


Wanita itu, Owh jadi dia termasuk juga, pikir ku dalam hati.


Aku kembali menyaksikan drama yang sedang berlangsung di depan mata ku.


"Yang merasa melakukan nya melangkah maju ke depan." Ucap Rey tegas.


Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik..... dst.


Tidak ada seorang pun yang berani maju melangkah ke depan. Mereka terlihat menunduk dan ketakutan akan di marahi Rey.


"Oke kalau tidak ada, sekarang kalian katakan apakah ada orang lain selain kalian yang masuk dan memalsukan produk kita, sampai sudah terjual di pasaran." Bicara Rey dengan suara lancang dan keras.


Aku pun ketakutan mendengar nya, tak pernah melihat kakak seperti ini.


Aku menatap Fandi, tapi dia mengisyarat kan agar aku untuk duduk dan berdiam saja menutup rapat mulut ku.


"Kalian tahu efek nya untuk perusahaan apa?" Lanjut Rey bicara masih dengan kekesalan nya.


"Kalian sebenar nya di gaji mahal-mahal untuk apa." Lanjut Rey sudah semakin tak bisa menahan emosi nya.


Aku bangun dari duduk, berdiri dan memegang tangan Rey dengan menyipitkan mata, mengisyaratkan memohon agar Rey tidak memarahi mereka terlalu jauh.


Mungkin memang benar mereka tidak melakukan nya.


Setelah itu aku berpamit untuk menunggu di luar saja sudah tidak tahan menonton drama yang sedang berlangsung di perusahaan ini.


BERSAMBUNG...