My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Malam yang Indah



***


"Seperti nya itu kecoa, sudah naik ke atas tempat tidur dan masuk selimut" ucap Rey dan terus keluar kamar.


"AAAAAAAAAA... " Teriak ku kencang sekali dan berdiri di atas tempat tidur sambil melompat-lompat dan terus keluar kamar.


Bik Sum dan Pak Uki terus naik ke atas melihat kenapa aku berteriak.


"Kenapa Non Nia?" tanya Bik Sum khawatir


"Di dalam selimut ada kecoa Biiik" Aku menjawab yang masih setengah ketakutan dan gemetar.


"AAAAA..." Bik Sum pun teriak ketakutan dan berdiri sembunyi di belakang ku yang masih juga gemetar.


"Coba lah Bang masuk dan lihat di bawah selimut Non Nia, kali aja kecoa nya masih di sana " ucap Bik Sum ke Pak Uki suami nya, terlihat Bik Sum pun ketakutan seperti diri ku.


Terlihat Rey sudah tidak ada di sini. Aku baru ingat dia tadi berpamit mau tidur ke kamar nya dan sebelum pergi mengaget kan ku dengan kecoa yang masuk ke dalam selimut. Aku juga sih terlalu jorok dalam beberapa hari kemarin. Meletak kan barang asal-asal dan membuang sampah sembarangan dilantai, maka nya kecoa bisa sampai masuk ke kamar, pikir ku terus dengan tangan dan kaki yang masih sangat-sangat gemetar dan ketakutan.


"Tidak ada apa-apa Non Nia, coba lah masuk dan lihat" ucap Pak Uki dengan santai.


"Bagaimana tidak ada Pak Uki, tadi jelas-jelas kecoa nya masuk selimut" jawab ku lagi memastikan Pak Uki.


"Saya sudah cek Non Nia tapi tidak ada" jawab Pak Uki lagi meyakinkan ku.


Aku menyelinap masuk dengan kepala yang sudah masuk kamar dan tubuh masih diluar pintu kamar.


"Eiits itu apa Non Nia" Bik Sum mengagetkan ku lagi.


"Aaaaa... Aduh Bik tolong lah, itu hanya kain." ucap ku lagi


"Sudah-sudah baik nya Non Nia tidur sekarang, sudah sangat larut sekali" ucap Pak Uki dan berlalu pergi turun ke bawah.


Terlihat Bik Sum pun ikut turun bersama suami nya.


"Biiiikk..." ucap ku memelas ke Bik Sum.


"Pergi lah tidur" jawab Bik Sum dengan gerakan kedua tangan mengusir ku untuk masuk ke kamar.


Kak rey kenapa gak datang disaat seperti ini, aku takut. hiks hiksss.


Aku masih berdiri di depan pintu kamar dan tak berani masuk. Diam-diam Rey menyelinap di depan pintu kamar nya mengintip Rani pelan-pelan. Rey puas mengerjai Adik nya, Rani.


Terlihat Rani beranjak pergi dari kamar nya dan menuju ke kamar kakak nya Rey. Rey cepat-cepat menutup pintu kamar dan bersembunyi di balik selimut seakan sudah tertidur, khak khak.


"Kak... Kak" Panggil ku berkali-kali tapi tak ada jawaban.


Apa kakak sudah tidur, pikir ku.


Aku kembali akan pergi ke kamar ku untuk tidur tapi langkah terhenti lagi. Aku balik lagi menuju ke kamar kakak dan memanggil lagi, tetap sama saja tidak ada jawaban.


"Kaaaaakk..." panggil ku lagi-lagi dan kini sudah menangis.


Oke. Kalau kakak tidak mau peduli kan Rani. Lihat lah apa yang akan Rani lakukan.


Rani mengusap air mata nya dan tanpa peduli lagi terus masuk ke kamar kakak nya Rey. Rani melihat kakak nya sudah tertidur dengan tubuh di tutupi selimut. Aku akan tidur dimana, pikir Rani lagi.


"Baiklah aku tidur di sini saja di samping kakak, lagi pun kakak sudah tertidur pulas, dan tidak akan tahu kalau aku tidur disini. Besok awal-awal aku bangun biar kakak tidak tahu kalau aku tidur di samping nya." bicara ku sendiri


Aku sudah sangat capek dan ngantuk. Terus aku merebahkan tubuh disamping kakak dengan membelakangi nya dan menutup tubuh ku dengan selimut. Hendak memenjamkan mata.


Deg. Kakak memeluk ku dari belakang, Owh Tuhan bagaimana ini. Aku menepis nya tapi tak mampu, pelukan nya terlalu kuat. Berkali-kali aku berusaha mencoba melepaskan pelukan nya tapi pelukan nya semakin erat dan mendekat.


Desahan nafas kakak terdengar sangat jelas di telinga kiri ku, dan bibir nya mengenai leher bawah telinga ku.


mungkin kah kakak belum tidur, gumam ku dalam hati.


Waktu terus berjalan dan malam semakin larut, aku masih tak bisa tidur, kakak tak melepas-lepaskan pelukan nya, malah memeluk semakin erat.


"Kak..." panggil ku pelan meyakin kan apakah kakak sudah benaran tidur atau belum.


"Euum" jawab Rey tenang dan tak melepas kan pelukan nya.


Owh Tuhan, Kak Rey belum tidur. Jadi sedari tadi dia tahu aku tidur disini dan dia tersadar kalau sedang memeluk ku. Aku sangat-sangat malu dan kalau saja lampu kamar nya hidup pasti sudah terlihat pipi ku yang sudah memerah menahan malu ini.


Aku kembali berusaha melepaskan pelukan nya Kak Rey, tapi tetap saja hasil nya nihil. Kenapa kakak begitu kuat memeluk ku.


"Tidur lah, malam sudah sangat larut" ucap Rey dengan tangan yang masih memeluk dan bibir menempel di leher ku.


Aku sudah tak menjawab apa-apa. Aku berusaha memenjam kan mata perlahan dan sampai aku terlelap tertidur dengan tangan kakak yang memeluk ku dari belakang.


BERSAMBUNG...