
***
Rey seketika menghidup kan lampu kamar.
"Sekarang mau lari kemana lagi?" tanya Rey tiba-tiba dengan senyuman sinis menakut-nakuti
Lari. Siapa yang lari. Dasar laki-laki aneh. gumam ku kesal.
Rey mendekat dan melepas jas kerja yang di pakai nya di lempar nya ke lantai. Dan membuka satu persatu kemeja yang di kenakan nya itu.
Rani terlihat semakin gugup. Takut Rey akan melakukan nya lagi seperti kemarin malam dengan pemaksaan.
"Kenapa terlihat begitu gugup sekarang?" tanya Rey tersenyum sinis dan semakin mendekat
Mati aku. Aku tidak boleh gugup sama sekali. Semakin aku gugup semakin mudah Rey memainkan ku. Gumam ku dalam hati.
Ya ampun, bagaimana ini sekarang dirumah hanya ada kami saja. Oke, oke aku harus lebih tenang dan rileks. Ku hela nafas panjang-panjang.
"Apa yang kakak ingin kan lagi sekarang?" tanya ku cepat sedikit masih gugup dan gemetar
"Hey, kenapa bertanya seperti itu. Sayang istri kakak." sahut Rey manja dan merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur dan meletak kan kepala nya di paha ku
"Kak, plis." sahut ku memohon dan menarik kaki ku ke sisi lain
"Kenapa ni? kenapa sayang? jawab kakak." sahut Rey masih dengan logat nya yang begitu manis dan manja
"Kenapa kakak begitu memaksa Rani kemarin malam?" tanya ku begitu polos menatap Rey dengan tatapan nanar
Rey terdiam sejenak dan tak berani membuka suara. Rey kembali duduk dan menatap ku dengan tatapan sangat dalam.
"Sayang, maafkan kakak." pinta Rey memelas
Aku menghela nafas panjang dan menunduk kan kepala.
"Kenapa kakak melakukan nya?" tanya ku begitu serius
"Rani tahu, Rani istri sah kakak sekarang. Dan kakak boleh melakukan apa saja yang kakak ingin kan ke Rani, tapi...." ujar ku pelan masih dengan tatapan tertunduk
"Sayang, bukan begitu maksud kakak." sahut Rey khawatir
"Kakak ingin menguji apakah Rani sudah tidak perawan atau masih, iya." sahut ku cepat dan menatap Rey tajam
"Sayang, sayang bilang apa ni." ujar Rey menatap heran
"Sayang sayang, maafkan kakak, kakak menyesal." sahut Rey pelan dan memeluk tubuh ku
Aku melepas pelukan nya dan melangkah ke kamar mandi meninggal kan nya sendiri di tempat tidur.
"Sayang, buka pintu nya. Kenapa begitu lama di kamar mandi." ujar Rey di depan pintu kamar mandi sangat khawatir
"Kakak pergi sekarang. Tinggalkan Rani sendiri." sahut Rani masih terisak menangis
Rey merasa sangat-sangat bersalah atas perbuatan nya itu. Rani benar-benar marah besar.
**
Rey masih belum mampu memenjam kan mata. Hari sudah mulai begitu pagi.
Rey turun ke bawah dan akan berangkat bekerja. Terlihat di meja makan sudah ada nasi goreng disana. Yah, siapa lagi membuat nya, Rania istri nya.
"Sayang, sayang, saat lagi marah pun Rani tetap memasak untuk kakak." bicara Rey sendiri dan tersenyum
"Eum, enak." ujar Rey berbicara sendiri sembari mengunyah nasi goreng
Rey meletak kan beberapa lembar uang di meja makan dan meletak kan gelas di atas nya. Kemudian berlalu berangkat bekerja.
Dari bilik kamar nya lewat jendela, Rani melihat Rey di halaman depan rumah sudah memasuki mobil dan pergi berangkat bekerja.
Rani kembali turun ke bawah.
"Heum, habis di makan nya." bicara Rani sendiri tersenyum lebar
"Uang. Uang apa ini?" bicara Rani kembali sendiri
Rani mengambil secarik kertas yang di tinggalkan Rey bersama uang itu.
*Terimakasih nasi goreng nya sayang, rasa nya sangat ngena di hati. Hehe.
Nanti malam kakak pulang sedikit lambat. Jaga diri dan kunci semua pintu rumah. Kalau ada apa-apa call kakak cepat.
Terkasih, Rey*.
BERSAMBUNG...