
***
Mama pun berlalu pergi. Hanya aku yang masih di ruang tamu ini. Yah, betul sekali Rey yang menang kali ini. Walau yang di inginkan nya dalam minggu ini proses akad nikah nya itu. Dua minggu, bukan kah hanya menghitung hari saja. Hiks hiks.
Sedangkan aku, bagaimana aku bisa menikah dengan nya dalam waktu dekat ini. Aku sedang begitu marah dengan nya sekarang. Bagaimana nasib ku nanti akan tinggal bersama nya.
Rey kembali melangkah mendekat ke arah ku tersenyum sengek-sengek sendiri. Aku nggak acuh memasang wajah kesal dan geram.
"Dua minggu." bisik Rey mendekat ke arah telinga ku tertawa manja
Aku menatap nya menyipitkan dua mata begitu geram. Ingin saja ku cabik-cabik diri nya itu.
"Bukan kah ini yang kita tunggu-tunggu selama ini. Menikah, malam pertama, tinggal bersama, punya anak, punya cucu..." ujar Rey manis sedikit tertawa
"Cukup." sahut ku kencang dan menutup kedua telinga mendengar ucapan Rey yang belum habis di katakan nya itu
Aku begitu geram mendengar nya. Tapi Rey masih saja bisa tertawa.
"Ngomong-ngomong malam pertama, bukan kah itu sangat menyenangkan sekali sayang." sahut Rey kembali menatap ku manja dan tersenyum kecil menggoda
Menyenangkan. Hah. Ini sungguh menggelikan bagi ku. Gumam ku dalam hati.
"Kira-kira kita akan bulan madu kemana ya nanti?" ujar Rey lagi begitu manis menatap ku
Wajah ku sudah begitu memerah menahan setiap godaan nya itu. Telinga ku sudah begitu panas mendengar dan pipi ku yang sudah memerah menahan malu. Kenapa Rey begitu gatal sekarang bicara nya. Iiiih.
Aku beranjak melangkah ke kamar ku. Rey pun beranjak melangkah ikut di belakang ku.
Apa-apaan sih ini, pikir ku. Aku berhenti melangkah dia pun berhenti. Kembali aku mempercepat langkah ku menaiki tangga. Rey pun sama melangkah naik tangga menuju ke atas yang masih di belakang ku. Aku kembali berhenti dan melihat ke arah nya begitu geram.
"Tolong jangan ikuti Rani lagi." ucap ku memohon menyipit kan mata dan menundukkan kepala ke arah nya
"Sial. Kenapa juga aku harus bicara dengan nya baru saja. Bukan kah memang kak Rey sedari tadi mengikuti ku. Ih, kenapa seolah-olah dia tidak melakukan nya. Jelas-jelas kalau mau ke kamar nya kan dia bisa saja melewati lewat sisi sebelah ku yang sedang melangkah. Memang suka mengada-ngada." bicara ku sendiri begitu kesal dan geram
**
Malam masih sunyi seperti biasanya, menghadirkan kamu diam-diam dalam kepala ku.
Rani masih belum bisa memenjam kan mata. Yah, dalam waktu dekat akan menjadi seorang istri. Istri dari pada pengusaha ternama di kota itu. Yah, istri dari Reynand Afiq Zakir. Bagaimana nanti aku akan hidup berumah tangga dengan nya.
Bagaimana dengan Dian yang masih mencintai Rey?
Atau memang mereka masih sama-sama menyimpan perasaan yang sama.
Ada notifikasi pesan masuk.
Rey.
Jangan terlalu memikir kan nya. Pergi lah tidur. Esok akan lebih menyenangkan. Selamat malam dan selamat beristirahat sayang 😘
Aku membuang handphone ke sisi tempat tidur. Benar. Rani memang sangat sayang dan mencintai mu Kak. Tapi apa yang terjadi dalam beberapa hari ini membuat Rani belum bisa menerima nya.
Di tambah dengan papa begitu cepat melangsungkan pernikahan.
Owh Nenek. Aku butuh bahu mu untuk bersandar dan bercerita. Hiks hiks
Hanya terdengar suara rintik hujan diluar yang menemani ku malam ini.
BERSAMBUNG...