
***
Drrrtt.. Drrrttt...
Handphone Rey berdering keras, terletak di meja nakas disisi tempat tidur.
Dengan mata terpejam Rey mengambil handphone nya dan mengangkat panggilan yang masuk itu.
"Heum." sahut Rey pelan dengan mata masih memenjam
"Kamu masih tidur?" tanya suara di seberang telepon yaitu Fandi
"Ada apa sepagi ini menelpon?"
"Kamu lihat jam dulu, ini sudah hampir siang." sahut Fandi tertawa
Rey masih enggan membuka mata nya dan tak begitu menanggapi yang di katakan Fandi.
"Euum, sejak beberapa hari Ameli terus ke kantor ingin bertemu dengan mu." sahut Fandi sangat pelan karna takut Rey akan marah
Rey membuka mata, masih tak menjawab yang di katakan Fandi. Melihat di sisi samping nya Rani masih tertidur begitu nyaman.
"Kenapa?" tanya Rey
"Dia ingin membicarakan tentang Tuan Sa..." sahut Fandi terpotong
"Kamu tahu, saya lagi cuti sekarang." ujar Rey cepat tak mendengar Fandi selesai berkata
"Euum, oke Boss. Sorry mengganggu pagi nya." sahut Fandi serius
Pagi. Ini sudah hampir siang. Semenjak menikah memang Rey sudah tidak bisa membeda kan pagi siang dan malam seperti nya. Hahaa. Ujar Fandi dalam hati.
Rey menghela nafas panjang. Dia tahu kali ini Tuan Salim yang telah mengkhianati nya ingin menggunakan Ameli anak nya untuk merayu kepada nya membantu perusahaan mereka yang sudah di ambang kesulitan.
Rani menarik selimut nya ke bawah dan perlahan membuka kan mata. Terlihat Rey terduduk di sisi nya dengan handphone di tangan. Rani pun beranjak duduk dan meletak kan wajah, sisi dagu nya di bahu Rey.
"Sayang, kenapa?" tanya ku pelan
"Heum, tidak ada." sahut Rey tersenyum melihat ke arah Rani
"Apakah tidur nya nyenyak?" tanya Rey tiba-tiba
"Heu em." sahut ku mengangguk pelan
"Harus nya tugas seorang istri bangun lebih awal" ujar Rey sedikit menggoda dan jahil
"Oh ya, benar kah?" sahut ku begitu polos dengan mata terbelalak
"Kenapa begitu malas?" tanya Rey pelan
"Euum, tidak juga. Hehe." sahut ku dengan mulut manyun
Rey membalikkan arah wajah nya melihat ku. Tatapan kami beradu, bak sepasang pengantin yang sedang di mabuk asmara. Pelan tapi pasti, tatapan kami semakin dekat. Rey menyentuh halus bibir ku. Aku hanya mampu menikmati setiap gerakan yang di lakukan nya itu. Kembali melepas ciuman nya itu dan menatap ku dalam dengan pandangan ku yang tertunduk.
Tanpa permisi Rey kembali melanjutkan sentuhan halus nya di bibir ku. Berlangsung begitu lama, aku sudah tak mampu menghitung berapa menit sudah berlalu. Aku hanya mampu menikmati setiap gerakan dan sentuhan-sentuhan tangan lembut nya di bagian-bagian sensitif ku.
**
"Ini apa?" tanya ku polos sama sekali tidak melihat jeli yang di berikan Rey
Rey tersenyum tak menjawab sama sekali.
"Tiket penerbangan" ujar ku kembali melihat yang di berikan nya itu
"Bagaimana? bukan kah sayang ingin berbulan madu ke sana." sahut Rey pelan
"Iya, tapi.." sahut ku tak melanjut kan
"Pergi lah, mama pun sudah lama tidak kesana. Ingin rasa nya ke sana lagi pergi berbulan madu. Ya kan Pa?" sahut mama tiba-tiba sambil tertawa geli
Papa yang sedang meminum kopi tertumpah keluar kembali dari mulut nya mendengar yang di katakan mama.
Rey dan Rani tertawa cekikikan.
BERSAMBUNG...