My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Cekgu Fandi



***


Hari sudah mulai gelap berganti malam memperlihat kan sinar bintang-bintang, Rani masih enggan untuk pulang ke rumah. Tidak tahu Rey berlalu kemana setelah pergi melihat pertemuan dengan Sammy tadi. Terus melajukan mobil nya itu.


Rani melangkah berjalan menyusuri jalanan dengan pemikiran yang kosong, terus termenung.


Tiiiiiiiiiiit.


Suara klakson mobil. Mengaget kan ku secara tiba-tiba. Secara reflek kedua tangan ku terangkat menutup sisi mata dan wajah ku yang mengenai lampu mobil yang sudah terhenti tepat di depan ku itu.


Lampu mobil kembali mati. Kembali aku menurunkan kedua tangan ku. Menatap ke arah sosok yang di dalam mobil.


Fandi.


"Masuk lah." pinta Fandi melongo kan wajah dan kepala ke luar jendela mobil


"Kak Rey menyuruh nya." tanya ku penasaran


"Tidak, masuk lah." pinta Fandi mengulang ucapan nya menyuruh masuk


Aku melangkah masuk ke mobil Fandi.


"Kenapa di sini malam-malam seperti ini, jalanan ini sangat sepi dan berbahaya untuk seorang gadis seperti mu Rani." Kembali Fandi membuka pembicaraan dengan mengemudi kan mobil nya santai


"Aku sudah terbiasa Fandi, kamu tidak perlu khawatir." ucap ku mencoba tersenyum ke arah nya itu


"Aku akan mengantar mu pulang." ujar Fandi kembali


"Eum, baik lah."


"Aku baru selesai menemui Rey tadi, masih banyak pekerjaan yang belum selesai masih dengan masalah yang kemarin." Ujar Fandi membicarakan nya tanpa ku tanya sama sekali


"Bukan kah dia bertemu dengan Dian?" tanya ku kecoplosan dan menutup mulut ku dengan tangan secara reflek terus melihat ke arah luar mobil


Aduh, bodoh nya aku. Kenapa juga harus ku tanya kan itu. Aduh, memalukan sekali. Aku tahu kau akan melapor ke Rey. Kau kan tak bisa di pisah kan dengan nya itu. Gumam ku dalam hati dengan mata menyipit dan menggigit bibir atas.


Fandi tersenyum melihat ke arah ku.


"Dian. Ngomong-ngomong tentang Dian. Bukan kah dia begitu manis sekali." ujar Fandi melihat ke arah ku tersenyum


"Fandi, apakah mereka terlihat begitu dekat sekali di kantor?maksud ku kak Rey dan Dian." tanya ku mulai serius


"Eum, tidak. Rey sedikit tegas kalau sedang berada di kantor, dan menjaga sikap di depan semua karyawan. Kenapa bertanya seperti itu?" jawab Fandi dan kembali bertanya


"Tidak. Bukan kah kalau seorang Boss dekat dengan pekerja nya itu bagus." jawab ku seada nya dengan sedikit tersenyum


"Eum. Aku harap itu bukan karna cemburu Rani." ucap Fandi tersenyum jail


"Lah, mana ada."


"Kamu sedang ada masalah dengan Rey?" tanya Fandi kembali bertanya


Aku menatap Fandi sekilas, dan kembali melihat keluar lewat jendela mobil. Aku tak menjawab nya sama sekali.


"Maaf Rani. Aku sudah menyinggung permasalahan pribadi mu." ujar Fandi cepat


"Tidak, tidak perlu meminta maaf. Bukan kah setiap hubungan itu memang punya permasalahan-permasalahan kecil." jawab ku menatap Fandi


"Iya, betul Rani. Setiap dari konflik itu terkadang kita bisa belajar lebih dewasa." ucap Fandi tersenyum


"Bicara tentang konflik. Bukan kah dengan sedikit nya terjadi konflik hubungan akan semakin manis ke depan nya." kembali Fandi melanjut ucapan nya


"Cuma kita hanya perlu kontrol emosional saja. Bukan kah dengan mengalah sebelah pihak akan membuat hubungan kembali harmonis. Inti nya saling pengertian dan saling percaya. Bukan kah itu kunci kebahagiaan." ujar Fandi kembali melanjutkan


Aku tersenyum mendengar Fandi berbicara bak seorang guru besar yang sedang mengajari murid nya.


"Harus kah perempuan yang selalu mengalah?" tanya ku sedikit tertawa membuat Fandi tak mampu menjawab pertanyaan ku


Tak terasa pembicaraan dan pembualan di antara kami telah berlalu. Mobil sudah terhenti di depan rumah.


Aku berucap terimakasih karna Fandi sudah sudi mengantarkan.


"Rani, percaya lah. Rey sangat mencintai mu. Aku melihat nya. Dia bukan lelaki yang serakah ketika melihat banyak perempuan di depan mata nya. Kamu beruntung mendapatkan nya." Ujar Fandi kembali di saat aku akan turun dari mobil nya itu.


Aku hanya tersenyum.


BERSAMBUNG...