My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Rani yang polos



***


Yah, sentuhan yang tanpa pemaksaan sama sekali. Rey kembali melepas ciuman nya itu.


Aku menatap Rey terpana lama. Dan kemudian menunduk kepala. Rey kembali tersenyum setelah mencium bibir ku lembut.


"Apakah dengan cara itu membuat kakak lebih baikan?" tanya ku kembali menatap nya


"Heum" jawab Rey manja


Aku hanya mampu tersenyum melihat tingkah suami ku, Rey.


"Sayang, kakak tanya satu hal boleh?" tanya Rey mulai serius


"Heum, apa itu?" tanya ku melihat nya segan


"Kenapa sayang selalu menolak disaat kakak ingin melakukan nya?" tanya Rey dengan siratan wajah serius


"Kak, Rani..." sahut ku terpotong "Kita jangan bahas masalah ini dulu." pinta ku memohon.


Rey tak menjawab, masih menatap ku serius.


"Bukan kah kemarin malam kakak sudah puas melakukan nya" sahut ku kembali menatap nya yang kini menjadi geram


"Yah, benar. Tapi kakak tidak menikmati nya." sahut Rey masih terlihat serius


Tidak menikmati kata nya, bagaimana dengan aku yang memohon-mohon jangan melakukan nya. Aneh. Ciiih.


"Hah, bagaimana bisa kakak tidak menikmati nya. Bukan kah itu sangat mengesan sekali." ujar ku cuih


"Yah, kakak sedikit menikmati nya dan Rani sama sekali tidak." ucap Rey cepat


"Kenapa Rani berbohong?" tanya Rey kembali sangat serius


"Bohong. Bohong apa?" sahut ku cepat


"Siapa laki-laki itu?" tanya Rey kembali membuat ku penasaran


"Laki-laki. Laki-laki siapa?" sahut ku ketus


"Sayang, cerita sama kakak sekarang. Apa yang sebenar nya terjadi dulu sampai Rani menghindar seperti ini. Setelah Rani bertemu dengan lelaki di pantai hari itu, sikap Rani semakin aneh dengan kakak setiap kali kakak ingin melakukan." ujar Rey ingin tahu


"Tidak, tidak ada. Kenapa kakak bisa berpikir sejauh itu." ucap ku sama sekali tak menjelaskan


Aku beranjak melangkah pergi dari hadapan Rey dan menuju ke kamar.


Rey pun sama, melangkah di belakang ku menuju ke kamar.


**


Ku melangkah mendekat pintu kamar mandi. Memanggil nya berkali-kali tapi sama sekali tak ada sahutan, hanya terdengar suara air saja.


Perlahan ku membuka pintu.


Brak..


"Awwww, sakit laaah." ujar ku kesakitan memegang dahi yang mengenai kepala Rey sedang mengeringkan rambut dengan handuk nya


"Kenapa sayang ini, sudah tahu kakak di kamar mandi, kenapa malah kemari." sahut Rey tersenyum


"Kenapa mandi begitu lama?" tanya ku masih mengelus dahi yang sakit


Rey tak menjawab sama sekali. Hanya mengernyitkan dahi melihat ke arah kamar mandi.


"Kenapa?" tanya ku kembali yang semakin penasaran


"Kakak hanya mandi seperti biasa. Tidak mungkin kakak akan tidur disana kan." jawab Rey seakan bercanda


"Jangan bohong. Kakak tadi ngapain selama di luar." tanya ku penasaran


"Hey, kakak bekerja sayang. Tidak mungkin kakak..." sahut Rey tersenyum manja tak melanjut kan


"Kakak apa??" tanya ku semakin ingin tahu


"Sayang cemburu ya?" tanya Rey menggoda


"Issh, No." jawab ku jutek


"Ya sudah, ayuk." pinta Rey mengedipkan mata ke arah ku


"Kemana?" tanya ku cepat


"Kita..."


"Kita apa?" tanya ku polos


"Yaaa, kita. Masak harus kakak jelas kan." sahut Rey mulai bimbang


"No." sahut ku cepat dan berlari keluar kamar


Rey hanya mampu tersenyum melihat tingkah Rania yang masih begitu polos dan kekanak-kanakan.


BERSAMBUNG...