
***
"Sayang." panggil Rey melihat Rani sedang menuangkan teh ke gelas yang di meja makan
Rey melihat sekitar memastikan tidak akan ada orang yang melihat dan mendengar pembicaraan nya.
"Sayang, kakak minta maaf. Kakak menyesal." ujar Rey pelan dan mendekati ku
Aku sama sekali tak menyahut dan berlalu melangkah ke dapur. Rey mengikuti kemana langkah ku berjalan. Memohon-mohon meminta maaf atas yang terjadi malam tadi.
"Sayang kemana tadi? kakak mencari seisi rumah tidak ada." ucap Rey memutar pembicaraan lain karna sudah begitu lelah memohon maaf tapi tidak ada jawaban sama sekali
"Heum, mama tadi pagi mengajak Rania keluar belanja bahan dapur." sahut mama mendengar yang ditanya Rey ke Rani
"Oh, bukan nya Bik Sum yang biasa nya belanja ma." ujar Rey
"Iya, Bik Sum cuti seminggu katanya sudah lama tidak pulang kampung." sahut mama dan duduk di kursi meja makan
"Pak Uki?" tanya Rey penasaran
"Iya, Pak Uki juga sekalian balik kampung."
"Ooooh" jawab Rey mengangguk
Rani masih sedang merapikan piring-piring yang berserakan di dapur. Tatapan Rey tak berpindah menatap.
"Rey, kapan kamu akan pindah ke rumah yang di pondok sari?" tanya mama tiba-tiba
"Rencana besok ma."
"Eeum, bagaimana kalau kalian dalam beberapa hari tinggal di sini saja dulu." ujar mama
"Kenapa ma?" tanya Rey penasaran
"Begini, mama dengan papa ada urusan ke luar kota dalam beberapa hari." sahut mama melihat ke arah ku dan Rey
"It's oke. Rey nggak masalah ma." sahut Rey polos
"Bagaimana dengan Rani?" tanya mama lagi
"Ma, Rani rencana akan pulang ke kampung nenek dalam beberapa hari." sahut ku pelan
Mama tak menyahut, melihat ke arah Rey dan sesekali menatap ku terheran.
"Eum, baik lah. Ya sudah mama ke kamar dulu." ujar mama dan berlalu pergi
Ini satu-satu nya jalan menjauhi Rey sementara waktu dengan kembali pulang ke desa nenek. Aku pun sudah sangat merindukan nenek.
"Sayang, bagaimana bisa Rani akan pulang kampung juga. Sedangkan kakak.." ujar Rey terpotong
"Siapa yang akan menemani kakak selama orang-orang dirumah tidak ada." kembali ujar Rey pelan
"Bukan kah kakak sudah dewasa." sahut ku kesal dengan wajah masam
"Oke. Tapi Rani istri kakak sekarang, Rani ingat itu." sahut Rey dan berlalu melangkah keluar dari rumah
Aku terpaku dan terduduk di sofa. Air mata kembali terjatuh membasahi kedua pipi. Yah, benar. Dan aku istri nya sekarang. Aku tidak boleh mengikuti kehendak ku tanpa berdiskusi dengan nya dulu.
**
Malam sudah begitu larut. Aku sudah memasak dan menyajikan makan malam tertata rapi di atas meja makan.
Jam menunjuk kan pukul 21:35 malam. Rey masih belum menampak kan batang hidung nya sama sekali. Mungkin lembur dan sedang banyak pekerjaan di kantor.
Aku berbaring di kamar ku sendiri. Dan tidak ingin menemui Rey sama sekali jika dia pulang bekerja nanti.
Tit, tit, tit, titt...
Terdengar suara klakson mobil memasuki halaman rumah. Aku sama sekali tidak ingin peduli dan menutup kedua telinga ku dengan tangan. Mematikan lampu kamar dan melanjut untuk tidur.
Rey beranjak melangkah masuk. Melihat makan malam di meja makan tertata rapi.
"Sayang... sayaaaang." panggil Rey dengan suara sedikit mengeras
Sama sekali tidak ada sahutan.
Apa mungkin sudah tidur. pikir Rey.
Rey melangkah menaiki tangga-tangga kecil itu dan menuju ke kamar tidur milik mereka. Tidak ada Rani sama sekali di kamar.
Kemana Rani?
Apakah dia masih marah.
pikir Rey keras.
Rey kembali memanggil-manggil istri tercinta nya dan sama sekali tak ada sahutan. Rey kembali beranjak ingin turun ke bawah tapi seketika Rey tertegun dan terhenti melangkah di depan pintu kamar Rani. Yah, kamar Rani semasa sebelum mereka menikah dengan Rey.
Tanpa mengetuk, Rey membuka pintu kamar itu dan sama sekali tidak bisa di buka. Pintu nya terkunci dari dalam.
Kembali Rey memanggil-manggil Rani dari luar kamar. Sama sekali Rani tak menyahut.
"Sayang, kalau tetap tidak Rani buka pintu nya kakak dobrak." ujar Rey mulai kesal
Ayuk, dobrak lah. Kalau memang kakak begitu kuat. Bukan kah kemarin malam kakak begitu kuat menyentuh setiap lekukan tubuh ku dengan pemaksaan dan sesuka hati.
Gumam Rani kesal.
"Kakak hitung sampai tiga. Satu... Dua..."
Sama sekali Rani tak menyahut.
"Tigaaa..."
"Oke.." ujar Rey kesal
Brruk, bruuuk, Brrrraaaaaak.
Pintu kamar terbuka lebar dan Rani terduduk di atas tempat tidur dengan mata melotot menatap Rey tajam.
BERSAMBUNG...