
***
Hari berganti hari, Minggu berganti ke minggu, dan lanjut berganti ke bulan. Dan ini hari baru untuk ku, Rania.
Aku hari ini memulai mencari pekerjaan setelah sekian lama hanya jingkrak-jingkrak kaki dirumah setelah selesai belajar.
Teringat mama pernah menawarkan agar aku bekerja dengan aunty lina. Tapi seperti nya aku tidak berminat sama sekali apalagi harus melihat aunty lina yang kalau bicara tidak ada warning nya sama sekali terhadap orang lain. Apalagi untuk diri ku ini.
Sebenarnya, Rey sama sekali tidak memberi kan ijin untuk aku bekerja, menyuruh ku untuk dirumah saja. Tapi aku bersikeras ingin bekerja dan merasakan hidup mandiri dan bisa mendapat kan uang sendiri.
Aku mencoba mencari info lowongan kerja di beberapa situs dan surat kabar. Ada beberapa yang sedang membutuhkan tenaga kerja di bidang ku. Aku mencoba untuk masuk mendaftar siapa tahu aku bisa mendapatkan nya.
**
Ngomong-ngomong aunty lina lagi.
Kenapa kata-kata aunty lina masih selalu terbayang-bayang di pikiran ku, aku anak yang mama papa ambil saat masih bayi. Iya benar, aku anak yang di pungut keluarga ini. Sungguh malang nasib mu Rania.
Kini dengan perkataan orang terhadap ku yang seperti itu membuat ku tersadar dari mana asal ku dan apa yang harus ku perbuat. Tidak mungkin hari berganti hari aku hanya selalu dirumah tanpa bekerja sama sekali.
Apalagi untuk mendapatkan cinta Tuan di rumah ini, tak lain tak bukan ialah Rey. Walau sudah terlalu jauh rasa sayang ini untuk Rey. Aku harus melupakan nya. Walau bagaimana pun tidak akan mungkin mama dengan papa setuju dengan hubungan kami. Siapa aku dan siapa Rey.
Dulu, Nenek pula pernah bercerita. Bapa sebelum meninggal memberikan amanah ke papa, berpesan agar harta kekayaan nya itu di jaga oleh papa (Papa Rey) sampai sekarang.
Tapi aku berpikir kadang itu tidak seberapa besar nya dengan biaya yang mereka (mama & papa) keluar kan dan kasih sayang nya untuk ku setiap hari sampai sudah dewasa.
Aku tak bisa terlalu jauh hanya menikmati. Sudah saat nya untuk aku bangkit sekarang menggapai impian ku dan hidup mandiri juga membanggakan mereka yang sudah bersusah payah membesarkan ku menjadi seperti sekarang.
Aku menatap foto ibu dengan Bapa yang sedang menggendong ku semasa kecil, tak terasa air mata langsung terjatuh. Rania rindu, seandai nya ibu bapa masih ada Nia akan sangat bahagia, tapi Nia tahu Allah lebih sayangkan papa dan mama.
**
Rania yang dulu sangat manja kini hari demi hari sifat dan sikap nya perlahan berubah. Rey pun melihat perubahan itu, dan kini Rani semakin menjauh dan menjaga jarak dengan kakak nya, Rey.
"Tolong lah kak plisss, yang sudah berlalu jangan di ungkit lagi. Kita sama-sama khilaf melakukan nya." ucap ku ke Rey bersikap tegar dan kuat.
"Kenapa?apa masalah Rani sekarang, setiap kakak bicara Rani selalu menjauh." ucap Rey tak mengerti dengan sikap ku.
"No, bukan menjauh, cuma Nia sangat sibuk bekerja sekarang, tolong lah kakak paham" jawab ku memelas dengan menyebut nama ku sendiri Nia bukan Rani lagi seperti dulu.
Dan aku berlalu pergi menaiki tangga masuk ke kamar.
Aku tak menoleh dan tak menjawab, terus berjalan masuk ke kamar.
Ku letak kan tas di meja sudut kamar, sekarang aku sudah di depan cermin, kembali melihat diri ku di dalam cermin dan menyapu wajah ku di cermin dengan tangan. Terlihat ada setitik air mata di sudut mata ku.
Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya tapi aku takut. Aku terduduk terjatuh menangis dengan kedua tangan menutup wajah. Sepanjang malam aku terus menangis.
**
Alarm berdering.
Ku lirik sudah pukul 7 pagi.
Owh Tuhan aku akan telat pergi bekerja hari ini.
Mana Buk Bos nya galak lagi. Buru-buru aku ke kamar mandi dan setelah selesai berpakaian langsung bergegas turun ke bawah sarapan dengan satu roti saja dan sedikit minum susu.
Setelah itu berlalu pergi setelah berpamitan ke mama dan papa. Tidak dengan Rey, aku tidak berpamit dengan nya. Menjauh adalah cara yang terbaik menjaga perasaan yang telah ku kunci di salah satu ruang di hati ku.
"Tunggu..." ucap Rey cepat.
"Apalagi, Nia udah telat ni" ucap ku yang kini kembali menyebut nama ku sendiri dengan sebutan Nia.
"Kakak antar." ucap Rey datar.
"Kak plis, Nia boleh pergi sendiri." dan berlari keluar pergi tanpa memperdulikan Rey.
"Ma, mama lihat sekarang Rani, berubah, dia sangat-sangat berubah" ucap Rey kesal dan kembali melangkah ke arah meja makan.
"Berubah bagaimana, sama mama papa baik-baik saja, ya kan pa" jawab mama mengiyakan ke papa.
Papa tak menjawab hanya mengangguk saja karna mulut sedang mengunyah roti.
"Ma, paksa Rani untuk berangkat kerja dengan Rey atau suruh pakai mobil yang di depan biar tidak setiap pagi Rani pergi naik bus" ucap Rey memohon.
"Mama sudah capek bicara dengan adik mu itu Rey" jawab mama sambil melihat papa.
"Paaaa..." ucap Rey lagi memohon yang sudah seperti anak kecil.
BERSAMBUNG...