
***
"Rania..." Seorang wanita paruh baya memanggil ku membuat ku tersentak kaget melihat nya.
"Ya." ucap ku pelan dan melihat ke arah nya.
Dia adalah Aunti Lina.
Terlihat raut wajah nya sedikit aneh menatap ku. Entah apa yang sedang di pikirkan nya tentang ku sekarang.
Dia hendak berbicara dengan ku, tapi tiba-tiba nama ku terpanggil oleh seorang MC di acara ini untuk maju ke depan.
Aku yang masih di depan nya berlalu pergi meninggalkan nya.
Ini hanya panggilan nama keluarga saja untuk maju ke depan. Mama dan Papa pun juga tadi di panggil menuju ke depan.
Rey entah dimana aku tidak tahu dan tak ingin tahu, barangkali juga dengan Ameli.
Aku berdiri disamping mama dan menggandeng tangan nya lembut dan terus tersenyum manja menjejerkan gigi.
"Nona Sania, untuk maju ke depan" ucap MC lagi dengan sedikit tertawa memanggil nama tersebut karna melihat yang berjalan menuju ke depan adalah nenek ku.
Tetamu mulai tertawa semua, melihat ke arah nenek ku yang masih sangat muda. Iya, hati nya itu yang sangat muda sekali bukan raut wajah nya.
Ah, aku melihat nenek ku berjalan menuju ke depan mendekati kami. Jauh di dalam hati ingin sekali tertawa mencandai nenek yang di panggil Nona, jelas tidak sesuai dengan usia nya itu, apa lagi dengan raut wajah nya.
Tapi aku menahan tak ingin membuat kelucuan disaat seperti ini, aku akan mengganggu nenek nanti. Gumam ku dalam hati. Hee.
Nenek berdiri di samping ku dan mengandeng lembut tangan ku. Kini aku di gandengi 2 wanita terhebat yang telah membesarkan ku sampai dewasa ini.
Tiba-tiba semua lampu mati seketika. Dan tetamu mulai riuh. Kembali Mc berteriak mengarahkan agar menghidupkan lampu LED flash di handphone masing-masing milik para tetamu.
Blak, Blak, Blak...
Satu persatu mereka mulai menghidupkan nya. Seketika angin berhembus sangat dingin dan pelan. Aku memenjam kan mata menikmati nya beberapa detik.
Tiba-tiba tetamu mulai riuh lagi kali ini mereka bersorak kegirangan. Cepat aku membuka mata.
Hah.
Dan melihat ke arah depan.
Rey... Iya Rey terus melangkah menghampiri kami berempat dengan Papa juga yang di depan. Dengan membawa kan buket mawar berwarna merah di tangan kanan nya. Dan tangan kiri memegang cincin.
Aku menatap mama dan nenek. Mereka tersenyum begitu ikhlas terhadap ku. Aku kembali melihat ke depan ku, Rey terus melangkah.
Dan aku terus mencari-cari melihat sosok Ameli, dimana dia pikir ku. Kenapa dia tidak di sini sekarang.
Rey pun semakin mendekat dan kini pas di hadapan ku dia berdiri.
Rey mengarahkan buket mawar itu untuk ku.
"Tapi..." ucap ku pelan yang tak paham.
Aku menatap kembali ke arah nenek dan mama.
"Ambil lah Nia." ucap mama kepada ku.
"Ma... tapi ini bukan" ucap ku yang belum habis bicara Nenek cepat menggerakkan tangan ku untuk mengambil nya.
Rey masih tersenyum melihat ke arah ku. Aku mengambil buket mawar itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
Owh Tuhan.
Kenapa ini, tetamu bertepuk tangan keras dan kembali berteriak cincin... cincin... cincin...
Aku memberani kan diri menatap Rey dan tersenyum.
Berhasil.
Yah, Rey berhasil memasangkan cincin di jari manis tangan kanan ku.
Kenapa suasana nya jadi seromantis ini, pikir ku dalam hati.
Terdengar begitu riuh para tetamu berteriak lagi cium cium cium.
"Bagaimana perasaan nya sekarang Tuan Putri?" tanya Rey yang kini sudah di samping ku.
Sungguh hebat semua orang bersandiwara dengan ku ya, diam-diam merencanakan pertunangan ini. Gumam ku dalam hati.
Aku tak menjawab, hanya membelalakkan mata menatap Rey kesal dengan yang dilakukan nya.
"No, jangan di sini memarahi kakak nanti kita selesaikan di dalam." ucap Rey bercanda dan tertawa.
Aku mencubit pinggang nya.
**
Aku melangkah untuk mengambil minum.
"Kau terlihat sangat cantik malam ini." ucap Aunti Lina memuji melihat ku dengan ujung mata nya dari atas sampai ke bawah.
Owh Tuhan, terlihat tatapan nya begitu marah dan sombong dengan ku.
Tapi pujian nya tak membuat ku senang sama sekali. Ini bukan pujian tapi lemparan batu keras mengenai kepala ku. Lagi pun apa masalah dia sebenarnya dengan ku, dia begitu membenci ku. Aku tak pernah meminta dan mengemis uang dari nya sedikit pun.
Aku sama sekali tak menjawab dan berlalu ingin pergi dari hadapan nya.
"Dasar anak tak punya adab dan sopan santun. Begitu kah orang tua mu mengajari mu saat bicara dengan orang tua." Lanjut bicara nya karna melihat ku pergi.
"Owh saya lupa, kalau orang tua nya sudah mati karna kecelakaan puluhan tahun yang lalu." lanjut nya lagi bicara dengan kata menyindir-nyindir.
Sungguh sakit sekali hati ini mendengar bila telah menyebut-nyebut dan membawa nama orang tua ku yang sudah tiada.
Aku berhenti melangkah, dan memutar balik langkah ku ke hadapan nya.
"Maaf Nyonya besar, apakah kita punya masalah sebelum ini?" tanya ku santai dan tak ingin membuat keributan.
Dia tak menjawab yang ku tanyakan.
"Kau pikir diri mu itu hebat sekali sekarang mentang-mentang sudah bertunangan dengan Rey tadi, dan dengan berpenampilan seperti ini, kau hanya menghabiskan uang dan harta keluarga ini saja." ucap nya lagi dengan langkah mengelilingi di sekitar ku.
Aku hanya terseyum sekena nya saja.
"Asal aku tidak menghabiskan uang dan harta mu Nyonya." ucap ku santai dengan tatapan tajam melihat nya.
Terlihat dia geram dan ingin memukul ku dengan tangan yang sudah terangkat. Tersadar, dia menahan karna melihat di sekitar begitu ramai orang.
"Aku sangat menghargai mu sebagai orang tua, dan sebagai teman mama. Aku tidak pernah memusuhi mu, dan tidak pernah mengusik kehidupan pribadi mu, tapi diri mu dengan mudah menilai seseorang hanya dari kehidupan yang ku alami dulu dan sekarang ini. Karna anda sudah terlalu jauh terlibat dalam masalah ku. Aku sepatut nya membayar anda berapa Nyonya?" Ucap ku yang kini sudah sedikit panas dan tatapan menatap nya tajam.
"Hey... hebat nya mulut mu itu perempuan" Tiba-tiba seorang perempuan datang dari arah belakang ku.
Dia Ameli. Ya, Ameli.
"Kau tahu dia mama ku, dan kau menanyakan sepatut nya kau membayar nya berapa, sedangkan kau tidak tahu bagaimana kehidupan keluarga kami tidak seperti mu menumpang hidup dengan orang lain." ucap Ameli membuat ku terasa sangat sakit mendengar nya.
"Ameli, kau tidak tahu permasalahan nya." ucap ku melihat ke arah Ameli dan ke mama nya itu.
"Rania... Aku pikir kamu wanita baik-baik seperti yang di ceritakan Rey kepada ku. Seharus nya kau sadar diri Rania dan bersyukur keluarga ini menerima mu bukan hanya sebagai anak tapi sebagai menantu mereka." Ucap Ameli terus mengomeli ku.
"Sayang, kenapa di sini, bukan nya tadi mengambil minum. Mana minum nya?" Ucap Rey yang kini sudah di samping ku.
"Aku akan mengambilkan sekarang." ucap ku dan beranjak melangkah pergi.
"Kau ajar lah tunangan mu itu Rey agar bersikap sopan dengan orang tua." Ucap Aunti Lina dan berlalu pergi.
Rey terheran-heran karna tak paham.
"Kau bilang dia wanita baik-baik Rey, tapi tidak dengan pandangan ku sekarang." Ucap Ameli kesal.
"Maksud mu Ameli?" tanya Rey.
"Kau tahu, dia ingin membayar mama ku dengan uang karna kesalahan yang dia buat. Baru saja menjadi tunangan mu dia sudah lancang berkata Rey. Bagaimana nanti jikalau menjadi istri mu" ucap Ameli memanas-manaskan Rey.
Rey beranjak pergi dari hadapan Ameli.
BERSAMBUNG...