My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
SAH.



***


"SAH." ucap semua para saksi yang menghadiri pernikahan


Tatapan Rey memesona, menatap tak mengedip kan mata semenit pun. Aku yang sudah di ambang penuh kebahagian pun sama menatap nya tak melepaskan pandangan.


**


Ini hari bahagia.


"Sayang, kenapa belum bersiap-siap?" Tanya Rey melihat ku termenung masih mengenakan baju pengantin


Sedari tadi aku hanya duduk di sisi tempat tidur. Sedangkan Rey sudah bersiap-siap mengenakan setelan nya rapi.


Rey mendekat, duduk di sisi kiri ku.


"Kakak tahu Rani begitu lelah sejak pagi tadi. Acara ini tidak akan lama, bersiap-siap lah dan berdandan cantik. Diluar sudah begitu ramai para tetamu yang datang" ujar Rey menyentuh wajah ku lembut


Aku tersenyum pelan.


"Kakak akan menunggu di bawah."


Rey melangkah keluar, setelah mencium lembut bibir ku. Aku hanya mampu tersenyum saat ini.


Aku sudah menjadi istri dari seorang lelaki yang selama ini menjaga ku dan melindungi ku ialah kakak ku sendiri.


**


"Lihat lah pengantin perempuan nya sudah turun, bukan kah dia begitu cantik?"


"Kamu lihat mata nya sangat indah sekali."


"Istri Tuan Rey terlihat begitu anggun."


"Dia sangat manis, lihat lah tidak berhenti tersenyum melihat kita."


Puluhan bahkan ratusan lontaran kata manis yang di ucap para tetamu untuk Rania istri Rey.


Rey menjemput Rani yang sedang turun menyusuri anak-anak tangga.


**


"Sayang masih lelah?"


"Sedikit." sahut ku tersenyum


"Pergi lah berehat ke kamar." pinta Rey menatap ku


**


Drttt drttt drttt...


Handphone Rey berdering keras, ada notifikasi pesan masuk. Memecahkan kesunyian malam ini, aku terbangun dari lelap.


Mencari Rey.


Di sisi samping ku bantal masih tersusun rapi. Seperti nya Rey belum masuk dan tidur. Aku sama sekali tidak sadar karna terlelap begitu lama.


Ku lihat jam sudah pukul 23:45 malam, kemana Rey.


Aku hendak beranjak turun dari tempat tidur dan melangkah keluar mencari Rey. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Rey masuk membawa kan segelas minum.


"Kenapa sayang?" tanya Rey tiba-tiba


"Handphone kakak berdering sedari tadi. Kakak lihat mungkin ada yang penting." bicara ku pelan


"Tidak ada yang lebih penting dari pada Rani sekarang." ujar Rey yang sudah di samping ku sekarang dan meng-off kan phone nya itu seketika tanpa melihat isi pesan dari siapa


"Hey, kenapa masih tersenyum. Tidur lah." ujar Rey melihat ke arah ku


"Bagaimana perasaan kakak?" tanya ku polos


"Bahagia. Sangat bahagia." sahut Rey tersenyum


"Terimakasih sebab Rani sudi menerima kakak." ujar Rey pelan


"Terimakasih juga sebab kakak telah menjaga Rani selama ini."


Aku merebah kan kepala ku ke dada Rey dengan tubuh kami berpelukan. Sungguh tak mampu di ucap kan dengan kata-kata, dan ini adalah hari paling bahagia.


"Sayang, malam ini kita....." ucap Rey terpotong


"Rani masih sangat ngantuk sekali kak. Mari kita tidur lagi." sahut ku cepat memotong pembicaraan nya itu


Aku menutup tubuh ku dengan selimut dan memenjam kan mata, seakan melanjut kan tidur ku kembali.


Aku tahu, Rey akan meminta jatah nya malam ini. Aku sama sekali belum siap, mengelak dengan membuat-buat alasan aneh seperti baru saja yang ku katakan ke Rey.


Maafkan istri mu Tuan Muda Rey. Gumam ku dalam hati.


Rey kembali mencium kening ku pelan dan melanjutkan tidur memeluk ku.


BERSAMBUNG...