My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Dress berwarna hitam



***


Weekend yang tak di rencanakan telah usai. Aku dan Rey kembali balik ke rumah dan masing-masing kami sudah kembali bekerja seperti hari-hari sebelumnya.


Ini hari yang begitu melelahkan, banyak desain yang belum selesai aku lukis.


Aku kembali bekerja sedikit terlambat hari ini. Karna ada beberapa hal yang harus ku selesai kan untuk presentasi besok pagi di ruang kerja Boss. Kalau semua desain ku tak ada yang menarik sama sekali habislah aku. Siap-siap mendapat ceramah manja dari Boss ku yang manja nan galak.


Yah semua beres.


Sekarang go to home.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, aku baru sampai kerumah.


Aku sangat lapar.


Langkah ku menuju ke meja makan di dapur tanpa mandi terlebih dulu. Tiba-tiba pandangan terhenti pada satu pandangan di depan ku.


Wedding Organizer.


Ya, itu.


Akan ada acara apa dirumah?!


Kenapa mama dan papa tak memberitahu sama sekali.


"Telat balik?" tanya mama yang datang tiba-tiba.


"Iyah ma... tadi ada desain yang belum habis Nia selesai kan. Tapi ini udah kelar kok." jawab ku dengan pandangan masih melihat ke sekitar.


"Ma... ini.." tanya ku yang belum habis mengatakan dengan menunjuk jari telunjuk ke arah yang di hias dengan bunga-bunga itu.


"Nia belum tahu." jawab mama lagi membuat ku semakin penasaran.


"Maksud nya mama?." tanya ku lagi yang memang betul-betul tidak paham sama sekali.


"Rey... Rey akan melangsungkan pertunangan nya besok malam." Ucap mama tersenyum lebar.


Aku setengah kaget mendengar nya. Apakah dengan Ameli. Ya, tidak salah lagi, memang dengan Ameli.


"Ma... Nia pamit ke kamar dulu." Ucap ku yang kini sudah tak lapar lagi mendengar perkataan mama.


Di sudut ruangan sana pun Rey sedang sibuk berbicara dengan seseorang di telepon. Rey hanya menoleh ku sebentar dan kembali fokus berbicara di telepon.


Semua orang di rumah ini sekarang sedang berbahagia, kecuali aku. Ya, Kecuali aku Rania.


Aku terduduk lemah di atas tempat tidur, kini menatap foto ku dengan Kak Rey di layar handphone ku yang masih ku simpan.


Ameli. Ya, Ameli sangat beruntung mendapatkan kamu kak. Kakak yang perhatian dan baik hati. Beruntung Ameli bisa memiliki dan mendapatkan kakak.


Aku menitik kan air mata, menangis sejadi-jadi nya.


Maafkan Rani yang harus berbohong dengan perasaan Rani sendiri terhadap kakak. Kalau Rani jujur dan mendengar setiap yang kakak bilang semua tidak akan terjadi seperti ini.


Tapi... Rani tak bisa, Rani tak bisa melakukan nya kak. Rani sangat sayang kan mama dan papa yang telah membesarkan Rani sampai se-dewasa sekarang. Rani sangat menghargai mama dengan papa. Rani tak bisa egois, mementingkan perasaan Rani sendiri. Semoga pilihan mama dengan papa, itu lah yang terbaik untuk kakak.


Rani akan sangat berbahagia kalau kakak juga bahagia.


Terdengar ketukan pintu kamar. Aku secepat nya menyapu air mata di pipi.


"Masuk" ucap ku dari dalam kamar.


"Non Nia ini baju untuk Non Nia pakai besok di hari pertunangan Tuan Muda. Nyonya menyuruh nya mengantarkan untuk Non Nia tadi." Ucap Bik sum menerangkan.


"Baik lah Bi, Terima kasih." ucap ku datar.


Aku beranjak dari tempat tidur dan melihat baju yang di antar Bik Sum ini. Ini Backless Dress, Dress yang sangat mewah sekali, berwarna hitam di penuhi swarovski yang begitu indah, Dress yang memamerkan bahu dan punggung, juga kedua belahan dada depan.


Aku tersenyum melihat Dress ini. berusaha kuat menerima kenyataan yang akan aku hadapi besok.


BERSAMBUNG...