
Manchester Inggris
Taufan dan Natasha saling berpa*gutan satu sama lain seolah saling melepaskan kerinduan satu sama lain. Ternyata berpura-pura sok cool itu tidak enak dan menyiksa diri masing-masing.
"Nat..." ucap Taufan di sela-sela cumbuannya.
"Apa... Fan" bisik Natasha yang merasa merinding ketika bibir Taufan menciumi leher Natasha.
"Jangan...pakai baju seperti ini ... lagi."
"Ini milik... Oh... Fan... Dolce and... Gabanna..." tubuh Natasha gemetar saat lidah Taufan bermain disana. "Taufan... stop..."
"I can't stop, Nat... Kamu yang memancingku" bisik Taufan sambil menurunkan kerah Sabrina Natasha yang memperlihatkan penutup dadanya yang tanpa tali bewarna krem.
"STOP TAUFAN!" bentak Natasha. Apakah tadi itu bentakan? Sepertinya kok bukan ya.
Taufan menatap wajah Natasha yang memerah antara n@fsu dan malu. Pria itu pun merasakan tubuh gadis itu gemetar dan akhirnya Taufan membenarkan baju Natasha dan memeluknya erat.
"Maafkan aku Nat, aku khilaf. Maaf, tapi jujur, aku hanya khilaf kepadamu..." bisik Taufan di sisi telinga Natasha. "Aku sangat mencintaimu, Nat. Dan setelah ini, aku akan kembali ke Surabaya dan menemui pak Mark untuk melamar mu karena aku tidak yakin akan bisa tahan jika kita tidak segera menjadi pasangan halal."
"Tapi Fan... bukannya masih ada sebulan..."
"No Nat, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kita ijab qobul saja dulu, soal resepsi bisa nanti. Aku tahu kamu mau menghormati pak Levi dan pak Quinn yang baru saja kehilangan nyonya Ayame karena itulah kita ijab saja dulu. Bagaimana Nat? Mau?" Taufan menatap Natasha dengan tatapan serius.
Natasha hanya bisa mengangguk karena dirinya sendiri tidak yakin akan bisa berjauhan dengan Taufan.
***
Surabaya Jawa Timur
Mark Neville yang dikabari oleh Taufan bahwa dirinya serius ingin melaksanakan ijab qobul dahulu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Dasar tidak sabaran! kekehnya.
Mark pun menelpon ke semua keluarga besarnya meminta ijin untuk memajukan tanggal ijab Natasha dan Taufan.
"Natasha nggak DP dulu kan Mark?" tanya Bara yang bingung kenapa harus maju sebulan dari jadwal.
"Enak saja! Justru mereka minta maju biar nggak kebablasan apalagi mereka tinggalnya cuma beda satu blok. Dan aku pikir itu yang terbaik, Bar."
"Kami yang di London akan datang Mark" ucap Arjuna.
"Aku hanya laporan sekaligus undangan buat kalian tapi karena hanya ijab qobul, kalian bisa datang saat resepsinya bulan depan sesuai tanggal yang seharusnya ijab."
"Tenang saja Mark, yang bisa datang pasti datang" timpal Marco Bianchi.
***
Natasha tidak terkejut ketika Oom dan Tantenya yang di Inggris membantu persiapan acara ijab qobul di sebuah mesjid di Manchester.
Dengan kekuatan uang, keluarga Neville dan Taufan mempersiapkan semuanya dan Natasha hanya duduk manis istilahnya.
Sekar pun datang menemui keponakannya yang sedang melamun di kamarnya. Ya, Natasha sekarang tinggal di mansion Neville bersama dengan Tristan dan keluarga besarnya karena Mark tidak mau Natasha dan Taufan sering-sering bertemu.
"Nat..." panggil Sekar.
"Eh Tante Sekar" senyum Natasha sambil menghampiri Tantenya.
"Apa kamu sudah siap menjadi istri Taufan?" tanya Sekar sambil duduk di sebelah Natasha.
"Insyaallah siap Tante apalagi mungkin ini obsesiku sejak umur lima tahun tapi kenapa mendekati acara besok, aku semakin gugup."
Sekar memeluk keponakannya. "Wajar lah kalau kamu gugup Nat. Semua orang akan gugup jika hendak ijab qobul. Hanya Bima saja yang cuek ijab heboh" gerutu Sekar mengingat suami Arimbi itu.
"Mas Bima tuh memang kacau, Tante" kekeh Natasha.
"Apa Tante dan Oom Juna pernah bertengkar?" Natasha sendiri melihat bagaimana harmonisnya kehidupan keluarga besarnya. Bahkan generasi ketiga yang tersisa pun masih saja bersikap mesra satu sama lain dengan pasangannya.
"Bohong kalau Oom dan Tante tidak pernah ada masalah. Semua orang yang hidup di dunia ini pasti akan mendapatkan masalah tergantung besar kecilnya dan semua itu berpulang bagaimana kita menyelesaikan masalah tersebut. Jangan sampai kamu memberikan celah buat pelakor dan pebinor, Nat, karena dikhianati itu sangat menyakitkan. Mungkin kita bisa memaafkan tapi tidak melupakan yang akan menjadi duri dalam daging kehidupan rumah tangga kita. Tidak semua orang kuat jika sudah ada pengkhianatan, dibutuhkan hati yang jembar untuk menerima semuanya."
"Apakah Oom Juna pernah...?"
"Oh astaghfirullah... Nggak Nat. Alhamdulillah Oom Juna mu itu bucinnya sangat haqiqi ke Tante" gelak Sekar. "Tante hanya memperingatkan jauh-jauh hari. Taufan itu good looking, kamu juga good looking dan orang-orang yang berhubungan dengan kita tidak semuanya baik Nat. Kita harus waspada dan pesan Tante, ada baiknya kita mengenang bagaimana sulitnya mendapatkan pasangan kita. Kamu menunggu Taufan sekian puluh tahun dan terkadang kamu pas pillow talk, mencoba mengenang masa lalu antara kalian berdua agar sama-sama saling menjaga hati bahwa jalan kalian untuk bersatu itu tidak mudah."
Natasha memeluk Sekar dengan erat. "Iya Tante. Jaman sekarang itu orang-orang pada nekad untuk berusaha merebut apa yang bukan hak miliknya."
"Itulah. Semoga Taufan seperti halnya para pria yang masuk ke keluarga besar kita yang memutuskan menikah itu sekali seumur hidup dan hanya dipisahkan oleh maut. Seperti halnya para Opa dan Oma kita."
"Aamiin. Insyaallah Nat dan Taufan berjuang dalam mempertahankan rumah tangga kami kelak."
Sekar mengelus rambut Natasha. "Menikah itu ilmunya tidak dapat di sekolah tapi ujiannya setiap saat dan sering tidak ada remidi."
Natasha tertawa. "Doakan Nat dengan Taufan ya Tante."
"Kami semua yang tua-tua selalu mendoakan seluruh anggota keluarga klan Pratomo selalu guyub, rukun, akur... meskipun Tante tidak yakin kalau Oom Juna, Oom Levi dan Oom Fuji kumpul bakalan damai." Natasha terbahak.
"Belum mas Bima dan mas Hoshi Tante."
"Ah iya tuh! Heran Tante, awet gelut dari jaman Bima SMA sampai sekarang sudah punya anak" kekeh Sekar.
***
"Saya terima nikahnya Natasha Jennifer binti Mark Neville dengan mas kawin tersebut tunai!" ucap Taufan dengan nada tegas dan tanpa keraguan.
"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu yang merupakan imam masjid Didsbury Manchester.
"SAH!"
"Alhamdulillah."
Taufan melirik ke arah Natasha yang pagi ini mengenakan gaun pengantin berbahan brokat dengan banyak Swarovski disana.
Akhirnya ya Nat... kita menikah juga.
Natasha melirik ke arah Taufan.
Tidak sia-sia menunggu dua puluh tahun.
Keduanya saling tersenyum.
Akhirnya ya neng
Jangan disia-siain bang...
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️