
David melanjutkan membaca agenda milik Calista dan lagi-lagi dia tercengang. Usai Falice ditemukan terbunuh, lagi-lagi catatan di agenda membuat semua orang disana terkejut.
Aku bertemu dengan Mr Angel dan kami berkencan mencoba vagi*na ku dan aku merasakan nikmatnya ...
David langsung menskip bagian yang vulgar lalu membalik halaman agenda lainnya.
"Dave, Kok ga diterusin bacanya?" protes Toro.
"Lu bakalan kebayang novel stensil, tahu!" sungut David.
"Astaga! Elu umur berapa Dave, kok tahu novel stensil? Jangan-jangan elu tahu Enny Arrow?" gelak Randy.
"Lha si batak tahu Enny Arrow" ledek Toro.
"Gara-gara almarhum bokap punya simpanan novel stensil di gudang dan aku Nemu waktu SMA, akhirnya bokap cerita lah!" cengir David.
"Sekarang dimana tuh novelnya? Lumayan jadi barang most wanted di Amazon atau eBay" kekeh Jimmy.
"Ga tahu hilang kemana" jawab David cuek.
"Eh tapi di gudang barang bukti ada lho! Aku pernah lihat" cengir Randy.
"Nah bener tuh!" sahut Jimmy.
"Novel stensil itu apa?" tanya Yulia bingung.
Keempat polisi itu menoleh ke arah Yulia dan Viola yang bingung.
"Kapan-kapan aku jelaskan" sahut Jimmy.
( Ingat Yaaaaaa, ini generasi kelima keluarga Pratomo, jadi tahunnya berbeda jauh )
David melanjutkan membaca agenda Calista.
Hari ini kami berkencan di Rainbow meskipun aku tidak begitu suka disana tapi Mr Angel sangat menyukai tempat ini. Kami banyak minum dan temanku, Judy datang. Dia sempat menggoda Mr Angel namun pria itu hanya diam saja.
David menatap Jimmy. "Oke korban ketiga. Julianto Harahap, Judy." Jimmy menatap David. "Apa kamu tidak melihat pola disini, Dave?"
"Semua orang yang pernah melihat Mr Angel semua berakhir di meja dokter Tini Srikandi" ucap David lamat-lamat.
"Dan kalian bertiga secara tidak sadar juga melihat Mr Angel" celetuk Randy ke Yulia dan Viola.
"Tapi kami tidak tahu yang mana Mr Angel karena ketika kami bertiga bertemu dengan Calista, dia langsung berdiri dan pria yang bersamanya menghilang." Yulia menatap Randy serius.
Keempat anggota kepolisian itu saling berpandangan.
***
Anandhita mendatangi kamar mayat rumah sakit Bhayangkara guna bertemu dengan dokter Tini Srikandi. Selain seniornya, Anandhita juga ingin tahu pendapat dokter Tini tentang kasus ini.
Kebetulan jadwal operasi yang harusnya dilaksanakan hari ini harus ditunda karena pasien mengalami tensi tinggi jadi Anandhita memiliki waktu luang. Ditambah David berpamitan padanya harus keluar kota mengejar petunjuk tentang kasus lain selain kasus pembunuhan waria dan trans*gender.
"Selamat siang" sapa Anandhita ke ruangan para dokter forensik dan tampak wajah dokter Tini Srikandi mendongak melihat siapa yang datang.
"Anandhita! Apa kabar?" seru Dokter Tini sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Alhamdulillah baik. Dokter Tini gimana kabar?" Anandhita mencium punggung tangan dokter senior itu.
"Biasa urus mayat" kekeh Dokter Tini. "Aku baru tahu kalau kamu tuh tunangannya Letnan David tho."
"Iya dok. Kami sudah hampir empat tahun pacaran tapi mas David tidak pernah mau publikasi meskipun di keluarga saya sudah pada tahu sih."
Klontang!
Dokter Tini dan Anandhita menoleh ke arah suara itu dan tampak Dokter Farah berdiri disana dengan wajah memucat. Mangkuk stainless yang berisikan scaple, pisau lainnya jatuh berantakan.
"Apa kamu bilang? Mas David?" desis dokter Farah dengan geram."
"Lho mas David memang pacar saya" ucap Anandhita tenang.
"Pacar David itu pria! Namanya Didit! Kamu jangan ngarang ya!" bentak Dokter Farah.
Anandhita melongo. Owalaahhh, gara-gara manggil aku Didit, jadi mungkin orang pada mengira mas David belok.
"Nama saya Anandhita. Mas David punya panggilan kesayangan ke saya Didit jadi banyak yang mengira pacarnya pria" senyum Anandhita. Mas, mas... jadi ramai kan?
"Bohong! Kamu bukan pacar Letnan David!" teriak dokter Farah masih tidak terima David sudah memiliki kekasih cantik.
"Demi Allah, dok. Saya memang pacarnya mas David, bahkan mas David sudah melamar ke papa saya." Anandhita mengambil ponselnya dan menunjukkan foto mereka berdua, serta foto bersama Arya Ramadhan dan Amberley saat mereka berempat ke Bali saat menengok Opa Gozali.
"Farah, sudah. Berarti David bukan jodoh mu. Hapus perasaan kamu ke David. Kamu tahu mereka sudah lamaran lho."
Farah menatap tajam ke Anandhita. "Selama janur kuning belum melengkung, masih ada jalan untuk merebut David dari kamu!"
Anandhita menanggapi santai. "Kamu tidak tahu seperti apa David sebenarnya."
"Ohya, aku tahu bagaimana sifat dan karakter Letnan David!" seringai Dokter Farah.
"Monggo kalau bisa merebut hati mas David" senyum Anandhita.
Dokter Farah kemudian berbalik meninggalkan ruang dokter dan membiarkan semua peralatan autopsi bertebaran di lantai.
Anandhita lalu berjongkok untuk membereskan semuanya. "Dia obsesi banget sih sama mas David?"
"David itu cool, Dhita. Jadi dokter Farah penasaran." Dokter Tini pun membantu Anandhita.
"Dia tidak tahu saja mas David gimana" kekeh Anandhita sambil meletakkan mangkok stainless itu ke meja. "Dok Tini cuma berdua?"
"Masih ada dokter Rizal tapi dia lebih suka jaga malam."
"Untung dokter Farah jadi dokter forensik" kekeh Anandhita.
"Memang kenapa Dhita?"
"Karena orang mati tidak bakalan protes kalau salah bedah" gelak Anandhita. Dokter Tini ikut tertawa.
"Benar juga, Dhit. Karena kalau dia jadi dokter umum, sudah dituntut banyak orang tuh."
"Dok, apa benar GHB yang terkandung di darah korban berbeda jenis sama yang dijual di Jakarta atau Indonesia?"
"Beda, Dhita. Ini obatnya jauh lebih keras daripada yang biasa kita temui."
Anandhita tampak berpikir. Siapa kira-kira pelakunya.
***
Setelah David membuat deduksi berdasarkan agenda Calista yang belum sampai ke korban keempat Alisia karena catatannya berakhir dua hari sebelum ditemukan tewas.
"Sepertinya aku harus berdandan seperti kalian supaya bisa masuk ke dalam lingkungan komunitas kamu berdua."
Randy, Toro dan Jimmy melongo. "Elu mau jadi banci?" seru Randy.
"Kamu juga Ran" seringai David.
"Eh bangkeee. Kukira menyamar biasa saja. Kok jadi bencis sih?" sungut Randy.
"Totalitas bro!" gelak Toro.
"Kalian jadwalnya kemana kalau Kamis ini?"
"Rainbow Nightclub, pak pol" jawab Yulia.
"Oke. Nanti kita kesana. Viola, Yulia, bantu aku dan Randy berdandan. Toro dan Jimmy, kalian jaga melalui layar monitor. Fajar, kamu jaga sini, jaga Tasya" perintah David.
"Siap!"
***
Jimmy dan Toro masih berkutat dengan berbagai barang milik Calista ketika menoleh saat pintu kamar terbuka. Tampak Yulia dan Viola sudah berdandan cantik lalu di belakangnya Randy berdandan seperti dua orang sebelumnya dan pria itu ngomel-ngomel karena harus mencukur bersih goatiesnya.
Namun penampilan David lah yang membuat Jimmy dan Toro melongo tidak percaya.
"Astaghfirullah! Pak David?" Fajar pun terjatuh dari kursinya.
***
Deduksi adalah istilah yang berkaitan dengan logika penalaran. Dalam berpikir ilmiah, deduksi adalah penalaran yang digunakan untuk mencapai kesimpulan logis yang benar. Sebutan lain dari metode deduksi adalah penalaran deduktif.
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa Cyiiinnn
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️