
David terbangun saat suara dering ponselnya berbunyi tanpa henti membuatnya meraih benda pipih yang terdapat di atas nakas sebelah tempat tidurnya. Pria itu sempat melirik jam yang terdapat di ponsel. 02.25.
Setelahnya, David menggeserkan tombol hijau di ponselnya untuk menerima panggilan yang ternyata dari salah satu anak buahnya.
"Ha..Lo" sapanya.
"Malam Let, maaf mengganggu. Ada kasus Let" ucap Putra, anak buahnya yang piket malam.
"Kasus apa Putra?" tanya David sambil membenarkan duduk nya.
"Ada waria dibunuh di dekat Plasa Senayan" ucap Putra. "MO ( modus operandi ) nya sama Let."
"Oke! Kamu tunggu disana amankan TKP dari kontaminasi. Saya akan segera kesana." David memutuskan hubungannya ke Putra dan segera memakai baju karena dia terbiasa tidur hanya mengenakan celana pendek tanpa baju. Usai memakai baju, pria itu segera membangunkan keempat rekannya.
***
Dua puluh menit kemudian kelima anggota kepolisian itu tiba di TKP dan kelimanya juga merasakan hawa dingin dan merinding ketika melihat seorang pria mengenakan kemeja hitam berjongkok disana.
Pria itu!
David memandang ke arah rekan-rekannya dan mereka pun paham tatapannya.
"Selamat malam" sapa.David.
"Malam. Wah akhirnya saya bertemu juga dengan letnan eh Iptu David Hakim. Perkenalkan... Maaf saya tidak bisa salaman karena sudah memegang korban. Dokter Rizal Lee, saya yang akan menjadi dokter forensik menggantikan dokter Tini." Dokter Rizal tersenyum manis.
Dokter Rizal Lee
David tersenyum. "Akhirnya saya bertemu dengan anda Dokter."
***
"Apa yang anda beritahu kepada saya tentang korban?" David pun bersikap biasa saja meskipun tahu pria di hadapannya inilah yang mereka temui saat menyamar di Rainbow Nightclub.
"Korban ditusuk dengan benda tajam tipis dan mungkin sama seperti korban-korban sebelumnya. Lengkapnya jika saya sudah memeriksa menyeluruh di ruang autopsi" Suara dokter Rizal terdengar halus seperti khas dokter lainnya.
"Dokter keturunan ya?" tanya Toro kepo sambil memasukkan beberapa barang bukti ke kantong evidence.
"Iya, papa saya orang Korea Selatan" jawab dokter Rizal. "Korban saya bawa langsung ke ruang autopsi ya pak David. Biar lebih cepat mendapatkan hasil autopsi."
"Silahkan dokter. Saya masih harus memeriksa TKP dan mewawancarai para saksi." David memberikan kode ke petugas koroner untuk mengangkut jenazah korban.
Setelah dokter Rizal pergi, keempat rekan David mengerubungi pria itu.
"Dave, dia kan..."
"Tahu."
"Harusnya kamu..."
"Sabar. Kita kumpulkan semua bukti."
"Bahaya Dave.."
"Tunggu tanggal mainnya."
"Jadi neng Dhita buat aku?"
Semua orang langsung menoleh ke arah Toro yang berbeda sendiri.
"Kok sampai ke Dhita tuh lho!" sungut Randy.
"Kalian pada heboh dokter Rizal, aku heboh dokter Anandhita. Duh neng, Aa kangen..." ucap Toro sambil menerawang.
"Kasus lu, Teng!" Jimmy meninggalkan rekannya dan mulai mencari barang bukti lainnya sedangkan David menatap tajam ke arah Toro.
"Segitunya mau rebut Didit dari aku?" ucap David dingin.
"Semangat Toro!" Toro mengacuhkan ucapan dingin lalu berjalan menuju TKP.
David menggelengkan kepala sembari memajukan bibirnya dan pria itu pun menemui kopral Putra yang sedang mewawancarai para saksi. Randy sendiri mulai memeriksa sesuatu melalui ipadnya. Ada hal yang membuatnya penasaran.
***
Dirasa sudah mendapatkan apa yang membuatnya penasaran, Randy pun menghampiri rekannya.
"Salah satu? Bagaimana kamu bisa bilang salah satu?"
"Jika pelakunya adalah dokter Rizal, alibinya kuat pada saat seseorang menyerang Tasya. Aku barusan memeriksanya bahkan aku langsung memeriksa CCTV ruang dokter forensik pada saat kejadian dan dia ada disana." Randy memperlihatkan ipadnya.
"Damn it! Kita harus memeriksa CCTV di ruang koroner sebab tidak mungkin bisa disetting atau apapun. Aku merasa kok dia bermain sendirian." David menatap dokter Rizal di layar iPad yang pada saat itu sedang bekerja.
"Aku coba hack CCTV sekarang. Kan dia harusnya sudah sampai di rumah sakit." Randy pun beraksi dengan iPad nya dan mendapatkan live dari ruang autopsi.
Keduanya melihat Dokter Rizal bekerja sendiri seperti halnya kegiatan rutin yang dilakukan dokter Tini Srikandi. Mengumpulkan semua bukti-bukti pada korban sebelum dilakukan autopsi.
"So far tidak ada yang janggal Dave." Randy menoleh ke arah David.
"Cari tahu background dokter Rizal Lee. Entah kenapa aku kok punya feeling nggak enak sama dokter ini."
"Kita memang baru pertama kali bertemu sih" gumam Randy. "Sebab biasanya kan dokter Tini."
"Aki coba telpon dokter Tini, kenapa dia tidak datang seperti biasanya." David pun mengambil ponselnya.
***
"Kakiku patah let" ucap Dokter Tini Srikandi.
"Kok bisa? Kapan kejadiannya?" tanya David prihatin.
"Kemarin sore. Pada saat aku hendak turun ke lantai dua rumah sakit Bhayangkara, tidak melihat ada genangan air disana dari air AC yang bocor. Kepleset deh" jawab dokter Tini santai. "Jadi David, kalau ada kasus pagi bersama dokter Farah, kasus malam bersama dokter Rizal. Aku masih terdampar di rumah sakit ini."
"Siapa dokter yang merawat mu?" tanya David lagi.
"Dokter bedahku, anaknya Dokter Arum, Dokter Anarghya."
David bersyukur dokter Tini berada di rumah sakit tempat Anandhita dan Anarghya bertugas.
"Berapa lama kira-kira bisa kembali berjalan lagi?"
"Menurut dokter Arga sih sekitar dua bulan baru bisa berjalan sempurna seperti biasanya. Masa penyembuhan sih enam Minggu dan sekarang kakiku digips" kekeh Dokter Tini.
"Get well soon Dok. Insyaallah aku sama anak-anak besuk dirimu besok" ucap David. Sekalian ketemu sama Didit.
"Bawa makanan yang enak, Let. Aku bosan masakan rumah sakit" balas Dokter Tini.
"Beres lah!"
***
Anandhita berjalan di lorong rumah sakit pagi-pagi karena dirinya ada jadwal operasi dan terpaksa dia berangkat sendiri karena Anarghya masih tidur setelah operasi mendadak jam tiga subuh tadi sedangkan saudara kembarnya, Adrian masih ada meeting dengan para teamnya yang berada di Australia. Lusa rencananya dirinya akan terbang ke Melbourne untuk promo Koenigsegg disana.
Disaat sedang berjalan itu, Anandhita melihat seseorang yang sedang duduk di kursi roda dan dirinya mengenali sebagai dokter Tini Srikandi.
"Pagi dok Tini. Lho kakinya kenapa?" sapa Anandhita.
"Pagi dokter Dhita. Biasa, kecelakaan di rumah sakit Bhayangkara" kekeh Dokter Tini.
"Kok nggak dirawat disana saja?"
"Malas aku, nanti nggak bisa istirahat karena semua orang kenal aku jadi malah gosip sana sini nanti" jawab Dokter Tini sambil tersenyum.
"Iya sih. Eh maaf dok, aku mau siap-siap operasi dulu ya."
"Oke. Sukses ya!"
Tanpa disadari seseorang mengawasi interaksi keduanya dari balik pilar. Matanya menatap tajam ke arah Anandhita.
Anandhita pun berjalan cepat dan tampak di dekat ruang operasi sudah berdiri suster Mira yang hari ini akan mendampingi dirinya.
"Pagi dok Dhita."
"Pagi suster Mira. Kita masuk?" Anandhita pun masuk ke dalam ruang operasi.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️