
David menghampiri Dokter Dwi Hartono dan Aiptu Fajar yang tampak pucat dan tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Maaf, kalian berdua harus melihat dan mendengarkan semua ucapan Mentari" ucap David. "Itulah Mentari yang sebenarnya."
Aiptu Fajar menatap David dengan air mata meleleh di pipinya. "Letnan, kenapa adikku bisa seperti itu?"
"Aku tidak tahu, Jar. Obsesi yang salah bisa membuat seseorang menjadi seperti itu" jawab David.
"Obsessive Love Disorder" ucap dokter Dwi Hartono. "Itu nama gangguannya."
"Tapi, Mentari lolos tes psikologi dan psikotes tahunan, dok" ucap Aiptu Fajar.
"Karena saat test itu tidak ada subyek yang mentrigger dirinya muncul obsesinya" jawab Dokter Dwi Hartono.
"Apakah selama dokter berhubungan dengan Mentari tidak menemukan tanda-tanda sekecil apapun?" tanya David.
"Setelah anda bertanya ini, saya baru teringat. Wajah Mentari tampak berseri setiap Fajar bercerita mengenai kasus yang ditangani anda dan dirinya serta matanya tidak lepas dari anda Letnan." Dokter Dwi Hartono menatap David lekat. "Ingat saat anda datang bersama Dhita?"
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Apa anda tidak memperhatikan bagaimana wajahnya tampak tidak suka saat anda datang menghampiri Dhita?" Dokter Dwi mengusap pelipisnya. "Seharusnya saya aware hal-hal kecil seperti itu tapi saya fase Denial selama ini."
Ketiga pria itu tampak terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Let, kita disuruh ke markas" suara Fathur membuat ketiganya menoleh.
"Ayo Thur. Kalian mau ikut atau..."
"Kami ikut Let!"
***
Iptu Yono duduk di kursi pinggir tempat tidur tempat Fitri terlelap. Dokter Anarghya sudah memberikan obat yang mendetox racun HGB di dalam tubuh pengawal Anandhita itu.
Setengah Jam Sebelumnya
"Dia tidak apa-apa, Bang Yono" ucap Anarghya ke polisi yang usianya se David pada saat Yono berkonsultasi dengannya setelah dirinya dan Tama seperti kesetanan menyetir menuju rumah sakit milik PRC group agar Fitri mendapatkan perawatan secepatnya.
"Tapi dok, tadi dia sempat sadar tapi pingsan lagi!" Iptu Yono tampak panik.
"Wajar, bang. Dosis nya yang dikasih aku tidak tahu berapa. Makanya obat yang aku berikan hanya perkiraan tapi semua akan terjawab setelah hasil test darah keluar" ucap Anarghya. "Bang Yono, yang tenang ya. Tolong dijaga Fitrinya soalnya dia sudah rela mengumpankan diri ke Rizal."
"Saya tadi meminta kepada dokter Gendhis untuk melakukan ra*pe kit, dokter Arga. Meskipun tadi tidak terjadi pene*trasi, tapi saya tidak mau kecolongan." Iptu Yono menatap sendu ke arah Fitri yang sedang diperiksa oleh Arum dan Rani.
Anarghya mengangguk. "Prosedural kepolisian ya bang?"
"Iya dok."
***
Dan kini Iptu Yono Hidayat masih menatap gadis manis yang bernafas dengan teratur. Suara ketukan di pintu membuat aparat kepolisian itu menoleh melihat pintu terbuka dan tampak dokter Anandhita datang sambil tersenyum.
"Selamat sore bu David" sapa iptu Yono.
Anandhita menoleh ke belakang yang hanya ada Suster Mira. "Siapa Bu David?" tanyanya setelah mengetahui tidak ada orang lain selain dirinya dan suster Mira.
"Anda lah dok" kekeh Suster Mira.
"Eh? Saya pak Yono?" tanya Anandhita sambil menunjukkan dirinya sendiri dengan telunjuknya.
"Lha memang siapa lagi yang menikah dengan Letnan David Hakim Satrio, dok?" kekeh Iptu Yono yang geli melihat wajah polos dokter cantik itu.
"Owalaahhh, aku tuh belum terbiasa dipanggil nama pakai nama mas David jadi ya rada bingung lah" gelak Anandhita.
"Dokter tuh gimana sih?" suster Mira cekikikan di belakang tubuh Anandhita.
"Sssttt!" Anandhita menatap judes.
"Bagaimana dok?" tanya iptu Yono.
"Hasil ra*pe test, negative pak. Mbak Fitri masih aman semua" ucap Anandhita membacakan hasil test yang dibuat oleh Tante nya, Arum Giandra dan Rani Pradipta.
"Alhamdulillah." Wajah penuh kelegaan tampak di wajah polisi itu.
"Tinggal menunggu sadar saja. Tadi dokter Arga sudah memeriksa semuanya kan?"
"Sudah dok."
Anandhita mengangguk lalu menghampiri Fitri. "Makasih mbak Fitri, sudah bersedia mengambil resiko menggantikan aku." Anandhita menggenggam tangan pegawai ayahnya.
Iptu Yono yang melihat bagaimana sikap Anandhita itu pun tersenyum tipis Pantas David bela-belain menunggu dengan dokter Anandhita. Dia benar-benar gadis yang menarik.
***
Ketiga tersangka kasus pembunuhan berantai kaum waria dan transgender itu ditempatkan dalam ruang interogasi yang berbeda. Randy yang baru saja datang dari Subang membawa Vino, hanya bisa melongo ketika mengetahui bahwa David dan timnya berhasil mengungkap dan menangkap semuanya.
"Bagaimana bisa Dave?" tanya Randy.
"Bisa lah! Aku sudah merencanakan ini bersama papa, Anarghya, Hideo, Pak Thomas dan pak Kosasih."
"Dan tidak mengajak aku?" Randy menatap kesal.
"Kan kamu ada kasus lain, Ran. Jadi kami harus bekerja diam-diam. Sebenarnya kami tidak yakin akan secepat ini tapi memang penjahat kalau sudah tidak sabar pasti kejeglong juga" kekeh David.
"Atau mungkin karena aku pernah berhubungan dengan suster Mentari jadinya kamu tidak mengajak aku?" selidik Randy.
"Salah satunya itu. Aku tidak mau ada kebocoran dan bias di kamunya."
Randy mengangguk. Masuk akal sih.
"Let, kita mulai interogasi sekarang?" tanya salah seorang penyidik. "Kita mulai dari mana Let?"
"Kita mulai dari Dokter Rizal."
***
Kedua tangan dokter yang dalam proses pemecatan dari IDI itu diborgol diatas meja lengkap dengan baju oranye.
"Dokter Rizal, apakah anda sudah tahu hak-hak Anda? Anda berhak didampingi pengacara." Iptu Tama memindai bagaiamana wajah pria di hadapannya tidak ada ekspresi tapi matanya tampak ingin membunuh David yang berdiri di belakang Tama dan Fathur sambil bersedekap.
Fathur melirik ke arah belakangnya dan tersenyum tipis. Sama saja, David pun memasang wajah datar tanpa ekspresi.
"Pak Rizal..." panggil Tama lagi.
"Dokter Rizal!" ucap Dokter Rizal penuh penekanan. "Saya minta bertemu dengan Anandhita. Kenapa wajah Anandhita kalian ganti? Kembalikan Anandhita ku!"
"Dokter Rizal, bisakah anda tenang?" pinta Tama.
"Bebaskan saya! Saya akan mengembalikan wajah Anandhita seperti sediakala! Bebaskan saya!" Raung dokter itu.
"Let?" Fathur menoleh ke arah David. "Gimana ini?"
"Kembalikan saja ke tahanan. Biarkan dia tenang dulu" ucap David. "Percuma juga ditanyain tidak merespon."
***
Suara era*Ngan membuat iptu Yono terjaga dari tidurnya dan melihat Fitri mulai bergerak. Iptu Yono yang tertidur di sofa pun bangun lalu menghampiri gadis itu.
"Nona Fitri? Bagaimana badan anda?" tanya iptu Yono.
Mata hitam Fitri menatap belum fokus ke arah Iptu Yono.
"Badanku...sakit semua...rasanya."
"Kata dokter Arga dan dokter Anandhita memang efeknya seperti itu. Akan terasa letih sangat" ucap iptu Yono pelan.
"Kak Zacky... bagaimana?" tanya Fitri.
"Mas Zacky selamat juga nona."
"Alhamdulillah."
***
Bonus Anarghya Giandra blonde
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***
Sekilas tentang Obsessive Love Disorder
Obsessive love disorder, terjadi ketika seseorang terobsesi dengan satu orang yang dicintai. Obsesi yang dimaksud membuatnya merasa perlu melindungi orang yang dicintai secara obsesif, bahkan cenderung mengendalikan.
Ada beberapa tanda atau gejala yang terlihat ketika seseorang mengalami gangguan cinta obsesif, yaitu:
Merasa tertarik luar biasa pada orang yang dicintai.
Memiliki pikiran obsesif tentang orang tersebut.
Merasakan kebutuhan untuk "melindungi" orang yang dicintai.
Memiliki pikiran dan sering melakukan tindakan posesif.
Kecemburuan ekstrem saat orang yang dicintai berinteraksi dengan orang lain.
Tingkat percaya diri yang rendah.
Bisa dilihat ke para Sasaeng KPop idol.
Pada beberapa kasus, gejalanya bisa memburuk di akhir hubungan atau jika orang menolak pengidap. Berikut ini beberapa tanda-tanda lain dari gangguan cinta obsesif yang bisa dikenali:
Mengirim pesan, email, dan panggilan telepon berulang kali ke orang yang mereka minati.
Kebutuhan konstan untuk diyakinkan.
Kesulitan menjalin pertemanan atau mempertahankan kontak dengan anggota keluarga karena obsesi terhadap satu orang.
Memantau tindakan orang yang disukai.
Mengendalikan ke mana orang yang dicintai pergi dan aktivitas yang mereka lakukan.
Sumber halodoc. com