
"Dit, do you thinking what I'm thinking?" tanya David yang dijawab anggukan Anandhita.
"Aku akan mendatangi dokter Dwi Hartono." Anandhita sudah membaca nama dokter yang bertanggung jawab atas Tasya. "Akan aku minta sample darahnya."
"Oke. Aku akan minta duo kadal memeriksa darah yang ada di baju Tasya." David menghubungi Jimmy sedangkan Anandhita mencari dokter Dwi Hartono.
"Pak Pol, apa yang terjadi?" tanya Viola dan Yulia cemas.
"Kalau Tasya dioperasi dengan anestesi dokter, dia seharusnya sudah sadar tapi tampaknya dia kena obat bius dosis tinggi sebelumnya" ucap David. "Halo? Jimbong? Tolong kamu periksa darah Tasya. Apa ada GHB disana... Kenapa? ... Dia belum sadar sampai sekarang... Oke. Thanks."
David menatap Yulia dan Viola. "Kalian berdua..." Suara David terhenti ketika mendengar suara ketukan di pintu.
"Maaf Let, saya terlambat aplusan dengan Kopral Udin" suara Aiptu Fajar terdengar di pintu.
David pun menoleh ke arah pintu. "Tidak apa, Jar. Tolong kamu jaga mereka bertiga seharian ini biar nanti gantian dengan yang lain pas shift malam."
"Baik Let." Fajar kemudian duduk di kursi yang disediakan dekat pintu.
"Kalian berdua aman ada Aiptu Fajar. Dan saran saya, lebih baik pesan makanan secara online demi keselamatan kalian. Kita tidak tahu sampai sejauh mana pelaku bertindak, apalagi tahu apartemen kalian."
Yulia dan Viola mengangguk. "Baik pak Polisi."
"Jar, saya mau ke laboratorium forensik dulu, kamu jaga mereka. Nanti saya kemari lagi" perintah David ke Fajar.
"Baik Let."
"Saya permisi dulu. Titip Tasya. Oh kalau bangun, dia bicara apa, tolong direkam ya apalagi soal pelakunya agar saya bisa mendapatkan bukti audio."
"Baik pak" ucap Viola dan Yulia kompak.
David pun keluar ruang rawat inap Tasya dan mencari keberadaan Anandhita. Pria itu menuju ke ruang jaga dokter dan melihat kekasihnya sedang berbicara serius dengan seorang dokter laki-laki serta seorang perawat perempuan.
"Aku waktu operasi korban, dia sudah dalam kondisi sleep. Jadi aku tinggal menjahit luka luar dan leher saja, Dhita" ucap dokter pria tersebut.
"Dit!" panggil David yang membuat ketiga orang itu menoleh.
"Pak David" sapa dokter itu.
"Mas, perkenalkan ini dokter Dwi Hartono, kakak kelasku di kedokteran UI. Kak Dwi, ini tunanganku." Anandhita memperkenalkan keduanya.
"Ya ampun Dhita, kalau tahu pak David itu tunangan kamu, gak bakalan ribet begini lah" kekeh Dokter Dwi Hartono.
"Rupanya kalian saling kenal tho" ucap David. "Dok, apa kalian menyimpan sampel darah korban Tasya?"
"Ada pak David. Saya sudah menyimpannya sebagai prosedural standar." David menoleh ke arah suster yang mirip dengan Fajar dan membaca namanya 'Mentari'.
"Kamu adiknya Aiptu Fajar?" tanya David. "Bukannya kamu kerja di rumah sakit Pelni Petamburan?"
"Saya pindah kesini sebulan lalu pak David. Biar dekat dengan kak Fajar kalau pulang malam" senyum suster Mentari.
"Ooohhh. Mana sampel darahnya?"
Mentari memberikan sebuah tabung kecil lengkap dengan nama asli Tasya yaitu Tarmuji yang disimpan dalam kantong plastik evidence.
"Sudah ditandatangani kan, Sus?" tanya David formal.
"Sudah pak. Semua sesuai prosedur."
"Bagus." David menatap dokter Dwi Hartono. "Jadi pada saat anda mengoperasi korban Tasya, dia sudah posisi sleep?"
"Betul pak David. Makanya pas Dhita bilang kemungkinan dia terkena GHB dosis tinggi, saya tidak heran. Nanti saya mencoba untuk membangunkan tapi dosis nya harus diketahui dulu" ucap dokter Dwi Hartono.
"Usahakan agar korban segera bangun dok" pinta David.
"Baik pak."
"Dit, kita ke laboratorium forensik sekarang" ajak David. "Harus kasih ini ke duo kadal."
"Kak Dwi, mbak Mentari, kami permisi dulu. Kabar-kabari kalau Tasya sudah sadar" pamit Anandhita.
David dan Anandhita pun menuju ke parkiran tempat mobil Mini Cooper milik Anandhita terparkir.
***
Duo kadal, Jimmy dan Toro hanya bisa melongo melihat David datang sambil menggandeng gadis cantik ditambah baju mereka seperti couple meskipun berbeda model namun tema sama.
"Ya Allah, terimakasih atas nikmat mana yang kau dustakan. Disaat aku bete lembur, datang seorang bidadari meskipun sudah di hak milik oleh orang paling menyebalkan di jajaran Polres Metro Jakarta Selatan" ucap Toro dramatis.
"Itu si banteng?" tanya Anandhita ke David.
"Hu um" jawab David ogah-ogahan.
"Jimbong" potong David.
"Babang Jimmy yang ganteng seperti Daniel Craig" lanjut Jimmy.
"Aku Toro Raharja. Panggil saja..."
"Tukang palak" potong David lagi yang membuat Anandhita cekikikan.
"Uda Toro."
"Nama Sunda Ajah pake Uda" cebik David.
"Ya udah, Aa Toro" cengir Toro.
"Salam kenal semuanya. Aku Anandhita Ramadhan" senyum Anandhita.
"Didit!" seru duo kadal itu heboh.
"Hah?" Anandhita melongo.
"Pacar si letnan kampret itu namanya kan Didit. Jadi itu kamu?" seru Jimmy.
"Tapi kalian tidak boleh manggil dia Didit!" ancam David judes.
"Iya deh, neng Dhita" kerling Toro.
"Udah udah. Nih aku bawakan sample darah korban. Kalian bisa periksa" David menyerahkan kantong plastik evidence yang berisi botol ampul darah Tasya.
"Yakin lu si Tasya kena GHB?" tanya Jimmy sembari masuk ke dalam ruang laboratorium dan memakai jas labnya.
"Didit kan dokter bedah jadi tahu lah seberapa lama orang diberi anestesi sampai sadar. Lha ini hampir sepuluh jam belum sadar" ucap David.
"Iya juga sih" gumam Toro. "Oh, aku bisa mendapatkan sisa-sisa foto dari cloud ponsel Calista. Setelah semalaman aku utak-atik, akhirnya bisa membongkar beberapa foto yang belum sempat terhapus semuanya."
"Apakah ada yang mencurigakan?" tanya David.
"Hanya foto berempat." Toro membuka laptopnya. "Ini doang."
David dan Anandhita menatap foto-foto yang jumlahnya hanya sekitar dua puluh dan isinya korban Calista bersama dengan Tasya, Yulia dan Viola dengan dandanan khas waria.
"Ini sepertinya di nightclub Rainbow deh" celetuk David yang membuat Anandhita menoleh.
"Mas pernah kesana?"
"Waktu menemukan korban Calista, sayang. Mas masuk kesana mencari barang bukti."
"Jahat tuh laki lu! Gue disuruh periksa sofa yang penuh dengan macem-macem yang pasti maksiat disana. Tega!" rengek Toro dramatis yang membuat Anandhita tertawa.
"Kan emang kerjaan elu, Teng!" cebik David.
"Mas" panggil Anandhita.
"Apa sayang?"
"Kok pria ini mencurigakan ya?" Anandhita menunjuk ke arah sosok yang menurutnya membuat dirinya merinding.
"Mana?" David menatap sosok yang ditunjukkan oleh Anandhita. Mata hitam pria tinggi itu membulat. "Oh my God!"
"Kenapa Let?" Toro pun ikutan kepo.
"Ingat rekaman CCTV dari House and Ware? Pria ini yang membeli alat pemecah es!" seru David. "Sial dia memakai masker! Tapi aku tidak pernah lupa matanya."
"Berarti mereka sudah diincar Let!" timpal Toro.
"Dave! Kamu benar! Ada GHB di darah korban Tasya!" seru Jimmy dari dalam laboratorium.
David, Anandhita dan Toro saling memandang satu sama lain. Ketiga waria itu dalam bahaya.
***
Yuhuuu Up Sore Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift Yaa
Tararengkyu ❤️🙂❤️