
DOR!
David terkejut melihat Tasya tersungkur ketika sebuah peluru menerjang bahunya. Anandhita keluar dari dalam kamar mandi yang berada di samping sambil menodongkan pistolnya.
"Pistol mu dimana mas?" tanya Anandhita dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari Tasya yang terkapar memegang bahu kirinya.
"Laci nakas atas" jawab David. Anandhita membuka laci dengan tangan kiri dan mengambil Glock milik David lalu menyerahkan pada pria itu yang langsung menodongkan ke Tasya.
Anandhita mendengar suara gedoran pintu kamar David langsung menuju pintu.
"Bukalah, Dit. Aku sudah mengawasi dia." David berkata pada Anandhita meskipun dada dan perutnya sakit demi menodongkan pistolnya.
Anandhita membuka pintu dan tampak Arya dan para pengawal tampak khawatir.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arya sambil memeluk Anandhita dan setelahnya memeriksa keadaan putrinya.
"Tidak apa-apa, pa" ucap Anandhita.
Arya melihat Tasya yang terkapar bersimbah darah lalu berjongkok untuk memeriksa kondisi pria itu. Anarghya datang menghampiri ketika mendengar ada tembakan di kamar David dari para perawat.
"Masih hidup pa?" tanya David.
"Masih hidup tapi kayaknya kena aorta" ucap Arya.
"Bawa ke kamar operasi!" perintah Anarghya ke para perawat yang membawa brankar.
Dengan cepat Anarghya membawa Tasya menuju ruang operasi setelah tubuhnya dinaikkan ke brankar.
David menghembuskan nafas lega melihat dirinya selamat dari diracun. Anandhita langsung menyimpan kantong infus yang berisikan arsenik sebagai barang bukti. Begitu juga semua barang bawaan Tasya lainnya dimasukkan ke dalam plastik yang tersedia di lemari.
Arya menghampiri David yang masih memegang pistol. Wajah tegang pria itu mulai mengendor ketika tangan Arya memegang bahunya.
"Serahkan pistol itu ke papa, Dave. Sudah aman." David menyerahkan Glock nya. "Siapa yang menembak tadi?"
"Didit pa" jawab David.
"Bagaimana bisa terjadi?" tanya Arya bingung.
"Akan aku ceritakan pa."
POV Anandhita
Aku mencuci tangan di kamar mandi seperti biasa ketika suara pintu terbuka dan mendengar sebuah suara seorang pria yang mendatangi mas David.
"Halo David. Tiga peluru masih belum bisa membuat kamu mati ya?" ucap pria itu.
Aku langsung menutup pelan pintu kamar mandi dengan menyisakan sedikit celah agar aku bisa mendengar apa yang diucapkan oleh pria itu.
Ketika mendengar nama Teddy Himawan yang disebutkan oleh mas David, aku jadi teringat saat SMA dari kelas satu, ada anak pria yang termasuk tampan tapi entah kenapa aku merasakan ada sesuatu yang aneh di dirinya.
Teddy Himawan adalah teman sekelasku ketika awal masuk SMA. Sejak awal bertemu, anak itu selalu ingin dekat dengan ku tapi aku tetap mengambil jarak.
Tanpa aku sadari dia memiliki rencana jahat untukku.
"Apa kamu ingat saat SMA, Dhita mau dipalak preman? Akulah yang menyuruh preman-preman itu mengganggu Dhita! Tapi kamu dari antah berantah malah menggagalkan rencanaku! Kamu lah yang menjadi Pahlawan bagi Dhita! Bukan Aku!"
Aku terkejut. Jadi dia yang mengirim preman-preman itu? Brengsek! Segera aku mengambil PPK ku dan mengkokangnya
Aku mendengar mas David masih berusaha memgulur waktu. Aku tahu, mas David menunggu waktu yang tepat agar aku bisa menembak orang itu.
Aku melihat si Teddy hendak mengganti infus mas David ke infus yang berisikan arsenik, segera aku ambil posisi menembak yang pas dan tanpa berkedip, aku tembak bahunya.
POV Anandhita End
***
Arya melongo mendengar cerita putrinya yang tanpa emosi mengulang peristiwa tadi.
"Are you okay, Dhit?" tanya Arya.
"I'm fine papa. Hanya saja aku menyesal tidak membidik kepalanya."
David melongo. "Itu namanya pembunuhan, Didit."
"Tapi dia mau bunuh kamu, lalu mau bawa aku pergi. Kan dia psycho!" hardik Anandhita emosi.
"Sudah, sudah. Nanti Papa beresin urusannya sama Thomas dan pak Kosasih, atasanmu Dave ( Baca Bonchap Duda Milik Davina chapter Bagas dan Freya serta Bonchap Bara dan Arum chapter Hitam )." Arya pun menghubungi dua polisi berpangkat tinggi itu untuk datang ke rumah sakit milik PRC group setelah seseorang menelpon polisi dan akan datang sebentar lagi.
David meminta Anandhita mendekat kepadanya dan gadis itu pun menurut. Tangan David menggenggam tangan gadisnya dan wajah pria itu pun memberikan senyum manisnya.
"Calon istri aku ternyata badass ya" pujinya tulus.
"Baru tahu, mas?" Anandhita pun memandang David dengan senyuman.
"Kamu tuh nembaknya tepat banget sih" David menatap kagum ke arah gadis cantik itu.
"Masih kalah sama mas Hoshi aku."
Suara ketukan di pintu membuat ketiganya menoleh. Tampak suster Mira datang membawakan kantung infus yang baru..
"Dok, ini infusnya yang baru" ucap Suster Mira.
"Tolong dipasang ya sus. Jadwal visite saya ditunda dulu nanti siang setelah saya selesai urusan dengan polisi." Anandhita mengawasi suster Mira yang mengganti infus David.
"Baik dok."
***
Adrian segera memacu Ferarri nya menuju rumah sakit. Setibanya di bandara, pengawal ayahnya datang dengan mobilnya dan mengatakan bahwa saudara kembarnya menembak orang yang hendak membunuh letnan David.
Adrian benar-benar kagum dengan adiknya yang pemberani. Pengawal yang membawa mobilnya disuruhnya pulang dengan ojek online karena dia akan pergi sendiri.
Sesampainya di rumah sakit, dia datang bersamaan dengan AKP Thomas, yang merupakan sahabat ayahnya.
"Adrian!" panggil AKP Thomas yang mengenali wajah putra Arya Ramadhan yang mirip dengan Anandhita.
"Oom Thomas" sapa Adrian.
"Adikmu tuh benar-benar deh! Lagi ramai nih di kantor. Awalnya Oom tidak percaya tapi setelah papamu menelpon, baru Oom percaya.". AKP Thomas dan Adrian berjalan bersama menuju ruang rawat David.
"David selamat, itu yang penting" ucap Adrian.
"Iya betul. Yang penting calon iparmu selamat."
Sesampainya di depan kamar ruang rawat David, sudah ramai para anggota kepolisian dan tampak Jimmy dan Toro mengolah TKP. David sendiri sudah dipindahkan ke kamar VIP sebelahnya karena kamarnya sekarang menjadi TKP.
AKP Thomas dan Adrian pun menuju kamar David yang baru. Disana sudah ada Kapten Kosasih dan Arya Ramadhan yang sedang berdiskusi. Tampak David tidak melepaskan pegangan tangannya di tangan Anandhita.
"Dhita" panggil Adrian.
"Mas" seru Anandhita sambil melepaskan dari David dan memeluk saudara kembarnya.
"Are you okay? Dave? Okay?" tanya Adrian bergantian antara adiknya dan calon iparnya.
"Alhamdulillah."
"Sekarang tersangka dimana pak Arya?" tanya AKP Thomas setelah saling bersalaman dengan Arya dan Kapten Kosasih.
"Masih dioperasi oleh Arga Giandra. Semoga selamat jadi bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya ke ranah hukum. Dia pantas dihukum mati, pak Kosasih, pak Thomas" ucap Arya geram.
"Nanti akan kita koordinasikan dengan jaksa penuntut umum." Kapten Kosasih dan AKP Thomas saling mengangguk.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
Bang Dapid yang nyaris kena arsenik
Neng Anandhita yang jago tembak
Bang Adrian yang baru datang dari Melbourne