My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Tristan



Taufan menatap wajah cantik di hadapannya yang duduk dengan anggun dan menawan. Natasha siang itu mengenakan gaun model Sabrina bewarna biru dengan rambut diikat model sederhana.


Jantung Taufan berdebar kencang melihat mata hijau itu memandang dirinya. Ya Allah. Seorang pelayan mendatangi mereka untuk membawakan buku menu dan keduanya pun memesan makanan.


"Ada acara apa kamu ke Manchester? Mau lihat pertandingan Manchester United?" tanya Natasha setelah pelayan itu pergi.


"Ti...tidak" jawab Taufan gugup.


"Lalu?" Natasha menatap tenang ke arah pria tampan di hadapannya meskipun kakinya terasa gemetar. Sekian puluh tahun memendam perasaan dengan pria yang sempat menghilang lalu bertemu lagi dengan fisik yang berbeda dan tampan, membuat Natasha gugup sebenarnya.


"Aku...ingin menemuimu."


"Kenapa?"


"Aku...ingin minta maaf padamu. Oh, bagaimana dengan kakimu yang kecelakaan kemarin? Apakah sudah sembuh? Apakah ada bekasnya? Apakah..."


Natasha mengangkat tangannya. "Stop, Taufan. Kakiku baik-baik saja."


"Maaf, Nat. Aku benar-benar minta maaf karena tidak tahu kamu kecelakaan."


"It's okay. Toh sudah kejadian juga."


Pesanan mereka pun datang dan keduanya pun makan hidangan yang mereka pesan karena memang jam makan siang. Tidak ada percakapan diantara mereka tapi Taufan tidak bisa tidak mencuri pandang ke arah Natasha.


Aku benar-benar tidak menyangka jika Natasha masih mau menungguku setelah dua puluh tahun.


"Natasha!" sebuah suara bariton membuat Natasha menoleh dan tersenyum ketika melihat siapa yang datang.


Taufan melihat seorang pria bule tampan dengan rambut coklat dan mata coklat mendatangi mereka. Tanpa sungkan, Natasha memberikan pipinya untuk dicium oleh pria itu.


"Ngapain kamu di OT ( Old Trafford )? Jangan bilang kamu sudah mau tanding lagi? Bukannya kemarin sempat cedera hamstring?" cerocos Natasha ke pria tampan yang duduk di sebelahnya.


"Nonton lah! Aku baru bisa tanding dua Minggu lagi" ucap pria itu.


"Tristan Neville?" seru Taufan membuat kedua orang di hadapannya terkejut.


"Busted. Siapa dia Nat? Apakah dia pria itu?" tanya Tristan ke Natasha.


Natasha mengangguk.


"Look man, ngapain kamu kesini?" Tristan menatap galak ke Taufan.



Introducing Tristan Archie Neville.


***


Tristan bersedekap menatap Taufan dengan tatapan judes dan galak. Baginya kesalahan Taufan benar-benar susah dimaafkan karena membuat sepupunya menjadi jomblowati karena menunggu cinta pertamanya yang celakanya malah lupa.


Taufan membalas tatapan Tristan dengan tenang karena tahu bagaimana keluarga besar Hoshi yang sangat over protective kepada saudara perempuannya.


Tristan Neville adalah cicit dari Darren Neville. Alexander Neville dan Adinda Pratomo memiliki empat anak, si kembar Brett dan Darren, Chris dan Vivienne. Brett memiliki seorang anak laki-laki bernama Benjamin, Darren pun memiliki anak laki-laki bernama Alan sedangkan Chris dikaruniai seorang anak perempuan bernama Anita dan Vivienne memiliki Javier dan Valora.


Tristan sendiri adalah anak dari Remy, putra Darren sedangkan Mark Neville ayah Natasha adalah anak dari Benjamin. ( soal pohon keluarga Neville nanti aku bikin kan sendiri kalau sudah mood ). Tristan mengikuti jejak Opa buyutnya menjadi pemain Manchester United dengan posisi gelandang serang.


"Punya nyali juga dia datang ke Manchester" ledek Tristan yang sebaya dengan Natasha.


"Tristan..." bisik Natasha.


"Tapi Nat, dia sudah buat kamu seperti ini" balas Tristan.


"Kamu sebaiknya ke stadion deh, biar aku selesaikan urusanku dengan dia." Natasha menatap sepupunya dengan wajah memohon.


"Tapi Nat..." Tristan masih enggan meninggalkan sepupu cantiknya.


"Sudah, tidak apa-apa. Kamu ke stadion deh. Nanti dicari sama pelatihmu."


Tristan menatap Natasha lama lalu menoleh ke arah Taufan. "Awas kalau kamu macam-macam!" Tristan pun berdiri namun sebelumnya dia memeluk dan mencium pucuk kepala sepupunya. Setelahnya pria itu pergi meninggalkan Natasha bersama Taufan.


Natasha kembali fokus dengan Taufan. "Kamu belum menjelaskan detail. Kenapa kamu kemari?"


"Ya sudah kalau kamu merasa tidak pantas denganku. Kita selesaikan saja sampai disini." Nada suara Natasha terdengar tegas. "Bukankah aku sudah bilang kalau aku sangat bodoh menanti cinta pertamaku yang berjanji akan menikah denganku tapi dia sendiri melanggar dan melupakannya? Ditambah kamu merasa tidak pantas untukmu. Kamu tahu Taufan, justru akulah yang merasa tidak pantas untukmu."


"No Nat... kamu itu princess sedangkan aku rakyat jelata..."


"Makanya seperti aku bilang tadi. Jika kamu merasa bahwa kamu tidak pantas, insecure atau apapun lah istilahnya, sebaiknya kita selesai disini. Pulanglah ke Jakarta, kita move on."


"Tapi Nat..."


Natasha pun berdiri. "Terimakasih Taufan Abisatya atas pelajarannya yang berharga tapi aku akan berdamai dengan perasaan ku untuk melupakan mu." Gadis itu meninggalkan uang £100 untuk membayar makan siang mereka. "Selamat tinggal Taufan."


Taufan berdiri tidak percaya gadis itu memutuskan untuk berhenti mencintai dirinya. Natasha berjalan keluar cafe namun masih bisa mendengar teriakkan Taufan.


"Natasha! Aku mencintaimu!"


Natasha berhenti sebentar namun setelahnya dia berjalan keluar dari Red Cafe meninggalkan Taufan yang tampak shock.


***


Taufan melamun sembari merokok di kursi sisi balkon apartemen yang disewanya. Sepanjang hari ini Taufan merutuki kebodohannya selama dua puluh tahun tidak mau berusaha mencari padahal dirinya bekerja dengan keluarga Natasha.


"Bodoh kamu Fan! Kamu bukan seorang pria kalau sampai melupakan janjimu kepada Natasha!" Taufan mengomel sendiri.


Dirinya masih tidak percaya jika Natasha akhirnya menyerah. Aku yakin kamu masih ada rasa padaku.


Taufan menghembuskan asap rokoknya. Jika kamu sekarang menyerah, maka aku yang akan mengejar mu.


***


Natasha menatap pemandangan kota Manchester dari jendela apartemennya dengan wajah sendu. Terlambat kamu Fan, terlambat amat sangat.


Gadis itu bersandar di balkon apartemennya sambil memegang hot choco. Berulangkali dirinya menghela nafas panjang. Pernyataan cinta Taufan di Red Cafe tadi membuatnya sedikit goyah tapi Natasha sudah bertekad untuk mencoba melupakan pria itu.


Cukup sudah aku menyia-nyiakan waktuku sekian lama hanya demi menjaga hatiku tapi yang kujaga malah melupakannya.


Natasha masih melamun sambil menyesap hot choconya. Tanpa disadari, sepasang mata hitam menatap dirinya dengan wajah tidak percaya.


***


Taufan yang sedang melamun di sisi jendela apartemennya, terkejut ketika melihat Natasha bersandar di pagar balkon apartemen di seberang apartemen nya.


Astaghfirullah! Apa ini suatu pertanda bahwa jalanku mulai terbuka ?


Taufan menatap lekat sosok tubuh yang hanya mengenakan sweater bewarna krem.


Kamu ingin menjauh dariku tapi ternyata Tuhan mendekatkan kita, Nat. Just wait for me. Aku akan mencintaimu sepenuh hati seperti yang kamu harapkan selama ini.


Taufan masih memandangi tubuh langsing itu sampai gadis itu masuk ke dalam apartemennya dan lampu kamarnya dipadamkan.


Have a nice dream, my Natasha.



Nah lho neng, apartemennya seberangnya mas Taufan



Yang ngawasin dari seberang


***


Yuuuhhuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️