
Jimmy dan Toro tidak paham siapa itu Hoshi dan Benji tapi mereka tahu kalau sudah pasti akan gegeran kalau dua orang itu tahu.
"Let, aku sih maunya diam saja tapi aku tuh kepo" ucap Toro.
"Kepo apa?" tanya David.
"Siapa itu Hoshi dan Benji?" tanya Toro.
"Sepupu kami yang jago berantem dan hacker." Adrian yang menjawab.
Toro dan Jimmy saling berpandangan. "Beneran Teng, elu kagak patut masuk keluarga Dhita." Jimmy menyeringai.
"Diiihhh, kalian kejam!"
***
David dan Adrian serta Hideo masih membangun kasus kematian Tasya ketika Randy datang membesuk David.
"Gimana kabar hari ini let?" tanya Randy sambil membawa makanan untuk camilan karena dia sudah bilang ingin menemani David.
"Banyak cerita lah" jawab David santai.
"Apaan ceritanya?" tanya Randy.
David menatap Adrian dan Hideo. "Boleh aku ngobrol berdua dengan Randy?"
"Oke. Kita keluar dulu Dave" ucap Hideo yang langsung keluar dengan Adrian. Kedua pria itu memberikan kode kepada David untuk jaga-jaga.
Randy pun duduk di sebelah David tanpa mengetahui bahwa pria itu menyimpan Glock nya dibalik selimutnya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Randy.
David mengambil sebuah map dan memperlihatkan sebuah foto Randy berciuman dengan suster Mentari. Wajah pria Batak itu memucat.
"Ini bukan seperti yang kamu duga, Dave."
"Lalu apa?" tanya David tenang. "Cerita saja nggak papa."
"Aku sedang memantau kasus kita Dave, sejak kasus pembunuhan kedua itu. Pada saat itu aku tidak tahu kalau suster Mentari juga datang ke Rainbow. Dan kami pun mengobrol karena Mentari bilang hendak bertemu dengan temannya."
"Siapa temannya?" tanya David.
"Seorang banci juga tapi aku tidak tahu siapa namanya karena pada saat itu ada seseorang memberikan minuman kepada aku dan Mentari. Dan aku baru menyadari bahwa minuman kami diberikan obat perang*sang dan kamu tahu sendiri kan Let, lokasi yang kamu ambil Sofanya itu bisa ditutup private. Namun aku tidak menduga bahwa aku akan melakukannya dengan Mentari disana. Sumpah Dave! Itu pertama dan terakhir kalinya aku melakukan perbuatan bejat disana!"
"Apa kamu tidak mengingat siapa yang memberikan minuman itu?" tanya David.
"Aku hanya mengingat seorang pelayan saja Dave karena setelahnya aku langsung menggarap Mentari hingga jam Nightclub mau tutup. Aku tidak melakukan dengan wanita lain lagi! Itu benar-benar murni kecelakaan, bukan kemauan aku. Sumpah!"
David menatap Randy meskipun hatinya meragu. Namun demi membongkar ada apa dengan mereka semua, kekasih Anandhita itu berusaha mempercayainya.
"Kenapa kamu tidak menceritakan itu Ran?"
"Aku...malu Dave. Kesannya aku seperti pria bajingan meskipun aku memang pantas dibilang bajingan." Randy menunduk. "Tapi bagaimana kamu tahu?"
"Aku mendapatkan informasi dari Jimmy." David mengatakan yang sebenarnya karena memang Jimmy lah yang menemukan gambar CCTV disaat Randy berciuman dengan Mentari sebelum pintu private itu tertutup.
"Damn it! Aku malu sekali pada kalian."
"Apakah Fajar tahu kalian berhubungan?"
Randy menggelengkan kepalanya. "Mentari meminta aku untuk tidak mengatakan pada kakaknya."
"Apakah Fajar tahu adiknya kesana?"
"Sepertinya tidak." Randy tercenung. "Tapi Dave, saat aku melakukannya dengan Mentari, tidak ada bercak darah."
"Mana kamu tahu? Kan kamu tidak sadar?" cebik David.
"Aku...sempat mengelap milikku dan tidak ada darah disana. Lagipula punyaku langsung masuk seperti tidak teman-teman bercerita kalau tidur dengan perawan."
David merasa pusing mendengar ucapan temannya.
"Maksudmu, Mentari sudah terbiasa seperti itu?"
"Bisa jadi Dave."
David tampak termangu. Rasanya Fajar dan Mentari bukan tipe anak nakal dan mereka juga memiliki ibu yang mendidik mereka baik. Ada apa ini?
David memegang pelipisnya. "Aku pusing Ran. Kenapa kamu tidak cerita sebelumnya jadi jelas semuanya. Beruntung Mentari tidak hamil."
"Kalau dia memang sudah terbiasa seperti itu pasti dia sudah melakukan pencegahan sebelumnya."
"Apa kamu sempat membicarakan kasus pembunuhan lima bulan lalu? Ada yang kamu ingat dari pembicaraan kalian?"
Randy tampak berpikir. "Mentari sempat bertanya siapa yang memegang kasus itu dan aku bilang Iptu Hasan. Terus dia tanya kenapa bukan kamu. Aku bilang kamu sedang mengurus kasus lainnya jadi dilimpahkan ke Hasan."
David tersentak. "Apa maksudnya kenapa bukan aku?"
"Itu juga sempat aku tanyakan."
"Lalu? Jawabannya?"
"Sayang sekali bukan kamu yang menangani."
David menatap Randy kesal. "Brengsek kau Ran! Hal seperti itu tidak kamu ceritakan!"
"Maaf Dave."
"Beruntung aku sedang tepar begini, kalau tidak, sudah habis kamu aku hajar!"
***
Randy pun disuruh pulang oleh David karena kekasih Anandhita itu sedang kesal dengannya. Adrian dan Hideo yang mendengar pengakuan Randy merasa janggal dan David pun merasakan demikian.
"Apa saat itu kamu tidak memegang kasus enam bulan lalu, Dave?" tanya Adrian.
"Aku tidak memegang kasus itu. Aku baru pegang setelah korban Calista karena iptu Hasan dipindah ke Cirebon dan aku baru pegang. Itu pun aku baru ngeh setelah korban kelima ditemukan sehari setelah Calista."
"Berarti aku harus menyelidiki mundur ini" gumam Hideo. "Setidaknya kita sudah hilang satu musuh. Tinggal dua dokter itu sama dua kakak beradik itu."
"Aku rasa Fajar tidak tahu kalau adiknya ternyata kumpulannya seperti itu." David berusaha positive thinking.
"Tapi semua menjurus ke kamu Dave. Ada masalah apa sama kamu? Kamu nyenggol siapa?" tanya Adrian.
"Aku sendiri tidak tahu Yan. Kalau aku tahu, sudah kebongkar dari dulu!" sungut David yang merasa hanya punya masalah dengan para penjahat bukan dengan orang-orang terdekatnya.
"Kalau Farah okelah, Rizal you know lah tapi Mentari sampai cari kamu kan aneh!" gumam Adrian.
"Face recognition yang dibuat Jimmy akhirnya menemukan bahwa pria itu dokter Rizal yang menggunakan make up. Wajah bisa dipermak tapi mata tidak bisa meskipun pakai softlens sekalipun." Adrian membuka laptopnya.
"Aku bertemu dokter Rizal jarang malahan, lebih sering dengan dokter Tini Srikandi dan dokter Farah. Bertemu beneran itu ya baru kemarin saat dokter Tini tidak bisa bekerja." David menatap Adrian dan Hideo.
"Kasus ini semakin pelik setelah Randy pun ikut terlibat sampai jauh seperti itu." Hideo menggelengkan kepalanya.
Suara ponsel milik suami Fayza itu pun berbunyi dan Hideo pun mengangkatnya.
"Ya Jin?"
"Tuan, saya akan ke Jakarta besok. Saya sudah dapat merangkai kejadian di Jakarta dan Singapura."
"Apa kamu mendapatkan semuanya?" tanya Hideo.
"Saya mendapatkan semuanya tinggal kita melakukan timeline dari pembunuhan pertama hingga terakhir."
"Bagus. Kamu segera pulang besok, kita akan membuat timeline dan alasan di balik peristiwa ini" ucap Hideo.
***
Yuhuu Up Malam Yaaaa
Maaf telat soalnya tadi diajak ke pantai sama keponakan
Pamer swallow di pantai Drini Gunungkidul Yogyakarta
Dan sinyal disana amburadul jadi susah up.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu