My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Drag Queen



*Kisah Natasha Neville dan Taufan Abisatya akan lanjut di chapter Bonchap setelah babang Dapid dan neng Dhita selesai ya.*


Dua hari setelah menikah, David dan Anandhita pun kembali berutinitas seperti biasa. Dan kini sudah seminggu mereka bekerja kembali. Anarghya pun menyambut sepupunya dengan wajah sumringah.


"Manten anyar. Bahagia Bu?" goda Anarghya. Dua hari setelah acara pernikahan Anandhita, Anarghya langsung terbang ke Surabaya dan Medan untuk mengikuti pertemuan dengan para dokter bedah dan hari ini, pria imut itu baru bertemu dengan sepupunya kembali.


"Bahagia lah! Menikah dengan orang yang kita cintai selama bertahun-tahun pacaran akhirnya halal juga, kan Alhamdulillah jadinya" senyum Anandhita. "Kapan kamu halalkan Amara?"


"Nunggu papa selesai proyek sama Tante Kaia. Oom Kris dan Tante Kirana juga masih ada proyek PRC group."


"Sayang banyak Opa-oma kita yang sudah berpulang, apalagi Opa Javier yang paling suka acara pernikahan" senyum Anandhita yang kini berjalan beriringan dengan Anarghya menuju ruang prakteknya.


"Hati-hati Dhita. Kalau ada apa-apa, telpon aku" Anarghya memeluk dan mencium pelipis adiknya.


"Iya Ga. Tenang saja." Anandhita tersenyum melihat suster Mira sudah siap seperti biasa.


"Pagi dokter Dhita" sapa suster Mira ramah. "Selamat datang kembali setelah cuti menikah."


"Aku tinggal dulu, Dhit. Ada ops jam sembilan." Anarghya melambaikan tangannya.


"Good luck buat opsnya, Ga!"


***


David pun kembali ke apartemen tempat mereka mengintai dulu bersama dengan duo kadal dan tampak sekarang kosong tanpa peralatan canggih yang dipasang Jimmy dan Toro.


Setelahnya dia ke apartemen sebelahnya, tempat Yulia dan Viola tinggal. Dua hari sebelumnya, David kedatangan kedua waria itu yang sudah kembali normal menjadi pria di ruang kerjanya. Letnan polisi itu memang sudah mulai bekerja seperti biasa.


Dua Hari Lalu...


"Saya benar-benar tidak mengenali kalian lho kalau berpakaian normal begini" kekeh David saat menemui Viola dan Yulia. "Mas Vino, mas Yulianto."


"Duh pak David, saya masih harus beradaptasi dipanggil nama lahir saya lagi" kekeh Vino alias Viola.


"Iya lho pak David, mungkin karena nama waria dan nama asli saya tidak berbeda jauh agak nggak papa tapi kalau sudah lengkap, baru eh?" timpal Yulia alias Yulianto.


"So, ada apa kalian kemari?" tanya David ramah.


"Kami ingin berpamitan pak. Kejadian kemarin membuat saya dan Yuli berpikir ulang untuk tetap stay di Jakarta dan menjadi waria. Bukan tidak mungkin, kami juga diincar pak setelah Calista dan Alisia tewas juga bapak hampir melayang nyawanya." Vino menatap serius ke David.


"Sejujurnya kami tidak menyangka Tasya akan berbuat seperti itu karena mengincar dokter Anandhita. Kami tahu kami sudah bisa dimasukkan kategori gangguan psikologis karena kami yah... menyimpang." Yulia berdehem sebentar. "Kami sadar bahwa kami high risk to be a victim, Pak David.."


"Kami akan pulang ke kampung kami. Saya akan kembali ke Kediri sedangkan Yuli ke Sragen."


"Lalu apartemen kalian bagaimana?" tanya David.


"Sewanya masih sampai dua bulan lagi tapi kami sudah mantap untuk pergi pak" jawab Vino.


"Baik. Saya minta kalian berdua tetap memegang nomor ponsel yang aktif karena kemungkinan akan membutuhkan kesaksian anda untuk kelengkapan berkas ke pengadilan."


"Tapi pak David, bukankah Tasya sudah tewas harusnya kasus gugur karena pelaku meninggal?" tanya Yulianto.


"Tasya memang terbukti membunuh Calista dan berusaha membunuh saya tapi dia tidak membunuh empat korban lainnya." David menatap tajam ke arah kedua pria dihadapannya.


"Serius pak?" seru keduanya. "Saya...eh kami pikir setelah Tasya tewas, ya sudah. Ternyata masih ada kelanjutannya" ucap Vino.


"Maka dari itu, kalian jangan sampai tidak bisa dihubungi karena kami akan bisa menemukan kalian. Toh kalian hanya sebagai saksi saja."


Vino dan Yulianto mengangguk dan setelah memberikan alamat tempat tinggal mereka di Sragen dan Kediri, keduanya pamit sembari memberikan kunci apartemen mereka.


"Siapa tahu bapak menemukan bukti atau apapun di kamar Tasya. Kami tidak mengutak-atik sejak Tasya meninggal." Vino juga memberikan kunci kamar Tasya dan Calista kepada David.


"Oke. Terimakasih."


***


Present Day


Ditemani oleh Jimmy dan Toro, David pun masuk ke dalam apartemen yang tampak tertata rapi dan bersih. David mengakui keempat waria itu memang pembersih bahkan lebih pembersih dari dirinya yang serampangan.


"Apa?" tanya David sambil membuka pintu kamar Tasya alias Tarmuji alias Teddy Himawan.


"Neng Dhita udah diajak ihik-ihik?" tanya Toro kepo.


David menghentikan langkahnya untuk masuk ke dalam kamar.


"Memangnya kenapa?" tanya David tajam. "Istri sah gue juga!"


"Dih galaknya. Enak nggak let? Kalau enak, aku juga pengen kawin" cengir Toro.


"Nikah Ateng! Bukan kawin! Mau tambah dosa zinah lu!" hardik Jimmy sambil membuka pintu kamar Viola.


"Aku sih sudah kebelet kawin tapi yang diajak nikah sudah dinikahi sama pak polisi satu ini" tunjuk Toro ke David.


"Cari yang lainnya kenape! Kayak cewek cuma dokter Anandhita doang!" gerutu Jimmy yang terkejut melihat betapa kosongnya kamar Viola. "Buset! Kosong blong."


"Apa barang-barangnya dibawa semua, Jim?"


"Tampaknya" Jimmy pun berjalan ke lemari dan disana tampak hanya pakaian waria Viola yang ditinggal. Tapi semua barang lainnya, dibawa seluruhnya.


Jimmy memakai sarung tangan lateksnya seperti biasanya. Dia mulai memilah-milah baju yang ditinggal Vioal alias Vino.


"Aku ingat elu jadi waria Let, sumpah cantik banget cuma karena elu jangkung jadi ya gitu deh!" kekeh Jimmy.


"Gue kayak drag queen ya?" timpal David.


"Emang! Makanya gue rada gimana neng Dhita nikah sama elu, Let. Agak nggak rela gadis secantik neng Dhita nikah sama drag queen" ucap Toro sendu.


David mendelik judes. "Brengsek lu Teng!"


***


Anandhita mulai visite para pasiennya seperti biasanya dan mereka menyambut hangat dokter cantik itu. Apalagi tahu bahwa dirinya baru saja menikah dengan seorang polisi.


"Wah saya kalah cepat dong dok" ucap seorang ibu-ibu yang menemani suaminya habis operasi usus buntu.


"Maksudnya gimana Bu?" tanya Anandhita sambil tersenyum.


"Saya mau Jodohin ke putra saya. Dia manager Bank tapi sayang dokter Dhita sudah diklaim sama pak polisi ya."


"Berarti memang bukan jodoh, Bu." Anandhita memeriksa hasil jahitan operasi yang dilakukannya seminggu lalu, dua hari sebelum dia menikah.


"Sayang sekali. Tapi saya rela menunggu jandamu dok" kekeh ibu itu. "Saya tetap ingin dokter Dhita jadi mantu saya."


Suster Mira yang mendengar ucapan itu hanya bisa melotot judes ke arah ibu itu.


Boleh nggak aku suntik valium ke ibu-ibu nggak punya akhlak itu?


"Wah Bu, kalau begini saya bersyukur tidak jadi menantu ibu karena belum apa-apa sudah doain jelek saja" jawab Anandhita manis tapi matanya tampak dingin menatap ibu itu.


"Eh... maaf dok, saya hanya...bercanda" ucap ibu itu gugup.


"Bagi saya itu tidak lucu Bu. Selamat siang." Anandhita lalu keluar dari kamar pasien itu dengan wajah menahan amarah.



Sabar neng, sabar


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️