My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
What's Going On?



Anandhita berjalan cepat di sepanjang lorong rumah sakit dengan. wajah ditekuk sepuluh sedangkan suster Mira yang lebih pendek darinya, berusaha mensejajarkan langkahnya dengan kaki jenjang dokter cantik itu.


"Dok! Dok Dhita! Jangan cepat-cepat dong jalannya! Dok Dhita kakinya kayak jerapah, lha saya kayak bebek ini!" protes suster Mira.


Anandhita berhenti saat mendengar celoteh suster Mira. "Eh? Maaf ya suster Mira, aku kesal sekali!"


Suster Mira tersenyum. "Dok, mau dihajar pakai apa? Mau pakai suntikan virus atau valium tuh ibu-ibu nggak tahu diri?"


Keduanya kini berjalan lagi dengan langkah santai.


"Maunya sih aku kasih virus zombie punyanya Umbrella Corporation. Aku buat seperti di game resident evil" cengir Anandhita.


"Ish serem atuh dok! Ingat apa yang terjadi di Racoon City. Akhirnya diisolir terus dibom nuklir" kekeh Suster Mira.


Anandhita menoleh ke arah suster Mira. "Kok tahu? Suster main gamenya?"


"Nggak dok. Aku nonton filmnya" cengir suster Mira.


"Kirain main gamenya" gumam Anandhita.


"Memang dok Dhita main gamenya?"


"Main lah!"


***


David dan Jimmy masih membongkar kamar Viola alias Vino. Tidak ada yang mencurigakan tapi naluri keduanya yang terbiasa di bidang kriminal tetap membongkar semuanya termasuk tempat tidur dan di balik lemari.


"Bersih Let. Tidak ada sesuatu yang berhubungan dengan kasus kejahatan" ucap Jimmy.


"Aku ke kamar si Teddy dulu" ucap David sambil meluruskan punggungnya setelah bersama Jimmy dan Toro berjongkok dan mengangkat kasur serta menggeser tempat tidur plus lemari.


"Let, menurutmu mereka akan berhenti tidak?" tanya Toro.


"Siapa?" David pun masuk ke dalam kamar Tasya alias Tarmuji alias Teddy Himawan.


"Ketiga orang psycho itu." Toro pun masuk mengikuti David.


"Menurutmu?" David balik bertanya kepada Toro.


"Nggak deh kayaknya" jawab pria yang membanggakan perutnya sepack.


"Nah tuh sudah tahu jawaban..." Mulut David berhenti berbicara ketika melihat kamar Teddy. "Astaghfirullah Al Adzim."


Toro melongo melihat tembok kamar yang berisikan banyak foto Anandhita dari jaman sekolah hingga foto-foto di Instagram dan terakhir saat dia di rumah sakit.



Dan sebuah foto yang membuat David bergidik adalah foto dirinya sedang berciuman dengan Anandhita di halaman parkir rumah sakit saat dia menjemput gadis itu sebelum pergi makan restauran seafood.


"Astagaaa Let! Ternyata dia sudah mengikuti dirimu." Jimmy yang baru datang terkejut melihatnya.


"Ini foto Didit wisuda hanya ada di akun Instagramnya tapi akun Didit di private dan aku hanya melihat teman-temannya di luar keluarganya dan itu pun tidak banyak."


"Apa Letnan tahu teman-temannya neng Dhita?" tanya Toro.


"Aku mengenal beberapa karena Didit cerita tentang mereka."


David meraba beberapa foto yang dia tahu dipajang oleh Anandhita. Kok bisa dia mengambil foto dari akun gadisku?


"Let, kita proses kamar Tasya" ajak Jimmy.


"Ayo." David dan Toro pun mulai membuka satu persatu lemari dan laci meja disana.


***


Anandhita bersama suster Mira memutuskan untuk makan siang di kantin rumah sakit. Dokter cantik itu memesan seporsi nasi rames dan segelas juice alpukat coklat sedangkan suster Mira memilih gado-gado dan es jeruk.


Anarghya yang melihat sepupunya makan siang di kantin, datang menghampiri.


"Baru makan Dhit?" tanya Anarghya.


"Iya Ga, tadi membereskan laporan dan pekerjaan administrasi daftar pasien ku yang hendak aku visite besok." Anandhita tersenyum melihat sepupunya datang. "Kamu makan dulu, Ga. Sekalian lah."


"Kayaknya ketoprak enak ya" gumam Anarghya. "Aku pesan dulu."


Rumah sakit tempat dua bersaudara sepupu itu memang memiliki kantin yang lumayan lengkap masakannya. Rumah sakit yang dirintis oleh Rani Pratomo, istri Aryanto Pratomo, itu menginginkan kantin yang lengkap menu masakan Indonesia dan internasional.


"Bang Dapid kemana Dhita?" tanya Anarghya setelah pesanannya datang.


"Katanya mau beberes apartemen yang disewa sewaktu melakukan pengintaian" jawab Anandhita.


"Lalu dua waria tersisa?"


"Pulang kampung kata mas David."


Anarghya mengernyitkan dahinya. "Pulang kampung? Apa mereka pulang dengan dandanan seperti itu?"


"Nggak Ga, udah normal kok" senyum Anandhita.


"Telah ditemukan sesosok mayat dengan jenis kelamin pria di dekat gerbong yang sedang dibetulkan. Diperkirakan korban dibunuh sekitar dua hari lalu. Nama korban adalah Yulianto, warga Sragen Sukoharjo Jawa Tengah."


Anarghya dan Anandhita melongo lalu keduanya saling berpandangan.


"Yulia!" seru mereka bersamaan.


***


David terkejut mendengar laporan dari Randy bahwa Yulianto alias Yulia ditemukan tewas di dekat gerbong yang kosong di stasiun Senen.


"Yang benar Ran?" tanya David tidak percaya.


"Iya, Dave. Aku sendiri yang berada di TKP. Menurut dokter Tini, Yulia sudah tewas sekitar 48. jam" jawab Randy di seberang.


"Dua hari lalu Yulia dan Viola datang ke ke kantor ku untuk berpamitan pulang kampung. Kok bisa tewas di Senen?"


"Kalau menurut pendapat ku, Dave. Yulia perjalanan pulang ke Solo naik kereta di pasar Senen. Tapi dia belum sempat naik kereta, sudah tewas. Tiket keretanya ditemukan di saku jaketnya."


"Bagaimana dengan tasnya? Atau barang bawaannya? Apakah hilang? Ada kemungkinan dia dirampok?"


"Aku rasa ini bukan perampokan, Dave, karena koper dan duffle bag nya ditemukan tidak jauh dari lokasi mayat Yulia."


David memegang pelipisnya. "Aku coba hubungi Vino. Kalau Yulia bisa tewas, kemungkinan Vino juga dalam bahaya."


"Kamu kalau sudah selesai, datang ke koroner ya" ucap Randy sebelum mematikan panggilannya.


Jimmy dan Toro yang mendengar kabar itu langsung membuka kamar Viola dan Calista untuk mencari petunjuk.


David lalu menelpon Viola alias Vino.


"Selamat siang pak David" sapa Vino di seberang dengan background suara ayam dan kambing.


"Siang Vino. Kamu berada dimana?"


"Saya di desa saya pak, Ngadirejo Kediri. Ini lagi angon kambing dan ayam peliharaan emak saya" ucap Vino.


"Ya sudah. Hati-hati disana Vin." David merasa lega mendengarnya.


"Njih pak Letnan."


David mematikan panggilannya lalu memanggil Toro.


"Ateng!"


"Yo!" sahut Toro di kamar Yulia.


"Kamu bawa alat pelacak mu kan?"


Toro datang ke tempat David. "Kamu tahu kan aku Pramuka forensik yang selalu siaga."


"Tolong lacak nomor-nomor ini."


Toro lalu membuka laptop yang diambil dari tasnya dan mulai memasukkan nomor-nomor ponsel yang diberikan oleh David.


"Nomor ini milik Yulia lokasi di kantor Polsek" jawab Toro. "Sepertinya sedang dipegang oleh bang Randy."


"Oke. Coret."


"Lalu yang nomor ini adalah milik dokter Farah. Ada di koroner. Begitu juga milik dokter Rizal. Keduanya di ruang koroner. Ini nomor dokter Tini, juga sama dengan dua dokter psycho lokasinya."


"Oke. Lalu yang nomor ini?"


"Ini nomornya si Vino kan?"


"Iya. Dia ngakunya di desa Ngadirejo Kediri."


"Ckckck Let, dia tidak di Kediri."


David melongo. "Lalu dimana dia?"


"Vino di Subang."


What the hell?


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Maaf telat.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️