My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Bertemu di Rumah Sakit



"Dokter Tini kok jalan-jalan pagi-pagi" sapa seorang suster yang berjaga pagi melihat dokter Tini sudah kemana mana menggunakan kursi rodanya.


"Aku bosan di kamar Sus, jadi habis subuh aku sudah kemana-mana" senyum dokter Tini.


"Mari saya antar ke kamar karena waktunya mandi dok" Suster itu pun mendorong kursi roda dokter Tini.


Keduanya tidak menyadari bahwa ada yang mengikuti mereka. Sosok ini pun menunggu sampai waktunya tepat dan bergegas masuk ke dalam ruang rawat inap dokter Tini Srikandi.


***


Anandhita bersama tim dokter sedang berjuang mengoperasi seorang anak kecil yang menderita tumor di kakinya. Operasi ini memang cukup sulit karena dekat dengan aorta.


Anandhita benar-benar konsentrasi penuh untuk melakukan pembedahan dan dirinya bersyukur dibantu oleh tim yang solid termasuk dokter Tatang, ahli onkologi sahabat Tante Rani Pradipta.


Tanpa Anandhita tahu, David menelponnya terus.


***


Dokter Tini Srikandi sedang mengambil baju untuk mandi ketika suara ketukan di pintu terdengar dan membuatnya menoleh.


"Pagi dokter Tini" sapa orang itu dengan tersenyum.


"Pagi dokter Rizal. Ada apa nih pagi-pagi kemari?" sapa dokter Tini ramah.


"Ada kasus dok" jawab dokter Rizal sembari masuk ke dalam kamar rawat inap itu.


"Kasus apa kah? Pembunuhan?" dokter Tini pun membatalkan untuk mandi dan duduk kembali di tempat tidurnya.


"Iya dok, kasus pembunuhan waria. Semalam sudah koordinasi dengan letnan David dan timnya."


"Dimana kejadiannya?" dokter Tini menerima iPad yang dibawa dokter Rizal dan dia melihat berbagai macam foto TKP.


"Belakang plaza Senayan, daerah semak-semak taman."


Dokter Tini mengernyitkan dahinya. "Dia belum operasi total ini" komentarnya ketika melihat tubuh korban yang sudah diatas meja autopsi.


"Belum dok, baru kedua dadanya saja tapi bagian privatnya masih asli."


"Lalu apa yang ingin kamu tanyakan dok?" Dokter Tini bingung karena setelah membaca laporan dokter Rizal yang terdapat di ipadnya.


"Apakah ini ada kaitannya dengan kasus yang sedang anda urus dok?"


Dokter Tini menatap dokter Rizal dengan wajah datar. Dia sudah berjanji dengan David untuk tetap merahasiakan tim kecil yang mengurus kasus ini.


"Bisa jadi. Bukankah letnan David yang datang tadi?" senyum dokter Tini berusaha netral karena mengingat pesan David, semua orang tersangka membuatnya harus berhati-hati berhadapan dengan siapapun.


"Iya dok. Nanti biar saya koordinasi dengan hasil autopsi korban anda ya dok."


Dokter Tini hanya mengangguk dan tak lama, suster yang mendorong kursi rodanya tadi keluar dari dalam kamar mandi.


"Dok, sudah saya siapkan untuk mandi" ucap suster itu.


"Baik, terima kasih. Dokter Rizal, bisa keluar sebentar?" pinta dokter Tini.


"Oh. Baik dok. Maaf, saya permisi."


Dokter Rizal pun keluar dari kamar dokter Tini.


***


Tiga jam kemudian Anandhita menyelesaikan operasinya yang sangat sulit dan menguras semua energinya. Dirinya hanya ingin pulang, berendam dan tidur.


Anandhita keluar bersama dengan dokter Tatang membahas tentang operasinya didampingi oleh suster Mira. Ketiganya tampak asyik berbincang dan berdiskusi hingga tidak menyadari seseorang datang menghampirinya.


Suster Mira melihat seseorang itu datang lalu menowel bahu Anandhita.


"Dokter, ada yang menghampiri kemari. Apa keluarga pasien ya?"


Anandhita dan dokter Tatang pun menoleh.


"Maaf, cari siapa?" tanya Dokter Tatang.


"Saya mencari dokter Anandhita." Pria itu tersenyum. "Halo, Anandhita."


"Rizal?" Anandhita menatap pria di hadapannya itu dengan tatapan terkejut.


"Surprise."


***


Anarghya tiba di rumah sakit setelah merasa tubuhnya sudah terkondisikan dengan baik. Dia tahu hari ini Anandhita ada jadwal operasi sulit yang membuatnya harus datang pagi-pagi.


Para staf dan rekan kerja Anarghya menyapa dokter tampan dan imut itu setiap berpapasan dengannya.


"Pagi dokter Arga" sapa seorang suster yang baru saja keluar dari ruang dokter.


"Pagi. Lihat dokter Anandhita tidak sus?"


"Tadi sih saya lihat di taman ngobrol dengan seorang pria."


Apakah bang Dapid?


"Orangnya kayak apa sus?"


"Mirip orang Korea dok."


"Ok, makasih sus." Anarghya bergegas menuju taman rumah sakit dan dilihatnya Anandhita sedang mengobrol dengan seseorang yang membelakanginya.


"Dhita" panggil Anarghya.


"Eh, Arga." Anandhita tersenyum.


Anarghya pun menghampiri dan melihat siapa tamu adiknya.


"Siapa ini, Dit?" tanya Anarghya sambil menatap orang itu.


"Kenalkan, ini dokter Rizal Lee, dokter forensik yang bekerja bersama dengan dokter Tini Srikandi." Anandhita menatap sepupunya.


"Kenal dimana?" tanya Anarghya tanpa mengalihkan pandangannya dari dokter Rizal.


"Kenal di Singapura waktu aku ada acara simposium disana. Ingat nggak Ga, tujuh bulan lalu?" Anandhita menatap sepupunya yang tidak menoleh sama sekali ke dirinya.


"Singapura?" tanya Anarghya lagi. Entah kenapa setiap mendengar kata 'Singapura', ada perasaan aneh di dalam dirinya. Ada apa di Singapura?



Anarghya Pradipta Giandra


"Maaf, anda siapa ya?" tanya dokter Rizal.


"Anarghya Giandra, sepupu Anandhita."


"Apakah anda dokter juga?" tanya Dokter Rizal.


"Ya, saya sama dengan Dhita, sama-sama dokter bedah." Anarghya menoleh ke arah Anandhita. "Tadi operasi nya bagaimana?"


"Alhamdulillah aku bisa mengambil semua kankernya" senyum Anandhita.



Anandhita Putri Ramadhan


"Bagus dong! Hebat deh!" Anarghya mengusap-usap kepala adiknya.


"Hebat kamu Dhita" puji Dokter Rizal.


"Terimakasih" balas Anandhita tulus.


Anarghya mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Tak lama kemudian suara ponsel Anandhita pun berbunyi "Maaf" ucapnya ke Rizal dan Anarghya, lalu dia melihat siapa yang menelpon dan segera dia menggeser tombol hijaunya.


"Halo dengan Dokter Anandhita disini" sapa Anandhita formal.


"Dit, ini mas David dan mas harap kamu mendengarkan semua perkataan mas." Suara David terdengar sedikit tegang dan...panik.


"Bagaimana pak? Soal jadwal konsultasinya pak?" tanya Anandhita lagi.


"Didit, dengarkan mas. Pria yang dihadapan kamu, yang bernama dokter Rizal adalah orang yang berbahaya. Ini mas perjalanan menuju ke rumah sakit untuk membesuk dokter Tini. Mas minta kamu bersikap seolah kamu tidak kenal mas."


Anandhita hanya diam mendengarkan semua ucapan David. Jika mas David bilang begitu berarti itu serius.


"Jadi bapak hendak keluar kota urusan bisnis dan meminta jam konsultasi nya dimajukan? Jam berapa pak?"


David tersenyum lebar di seberang. Gadisku memang cerdas!


"Mas datang sebentar lagi sayang. Tunggu saja disana."


"Ibu tidak ikut pak? Biar bisa tahu hasil konsultasi nya nanti" timpal Anandhita.


"Ikut semua tapi mas sudah memberikan kode agar bersikap tidak mengenal dirimu."


"Baik pak, saya tunggu kedatangan bapak untuk konsultasi." Anandhita mematikan panggilan David.


"Pasien, Dhita?" tanya dokter Rizal.


"Iya. Kan kamu dengar sendiri dia mau datang konsultasi" jawab Anandhita. "Kamu nggak duduk Ga?" tanya gadis itu ke Anarghya yang masih berdiri.


"Duduk lah" jawab Anarghya yang meletakkan pantatnya ke kursi di sebelah Anandhita.


"Eh itu bukannya Letnan David ya? Ngapain dia kesini?" celetuk Dokter Rizal.


Anandhita dan Anarghya hanya menoleh menatap David dengan wajah datar bahkan Anandhita berusaha untuk tidak memperlihatkan senangnya bisa melihat kekasihnya lagi.


I miss you so much.



***


Yuhuu Up Malam Yaaaa


Sorry telat


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️