
David berjalan dengan langkah tergesa menuju ruang praktek istrinya. Sesorean ini dirinya merasa lelah luar biasa karena ketiga tersangka seolah kompak 'memainkan perannya menjadi gila' tapi David tidak mau kecolongan. Diam-diam dipasangnya CCTV tersembunyi dan penyadap suara di masing-masing ruang tahanan.
Untuk sementara David tidak akan menginterogasi mereka selama dua hari. Ketiga tersangka diletakkan di sel yang saling berhadapan. Sengaja mereka ditahan disana tanpa ada penjaga dan strategi ini memang dilakukan oleh Hideo dan AKP Thomas karena mereka ingin tahu bagaimana ketiganya bertemu setelah ditangkap.
Semua gerak-gerik mereka diawasi oleh Jin, Jimmy, Toro dan Benjiro sebagai backup bantuan. Putra Bryan Smith itu ngambek ke David karena tidak diajak mencari aib orang dan meraung drama membuat David dan Anarghya kesal. Akhirnya pria bermata biru itu diijinkan ikut.
Suster Mira yang melihat David datang, berdiri untuk membukakan pintu praktek atasannya.
"Malam suster Mira. Bagaimana kedua pasien kita? Fitri dan Zacky?" tanya David sebelum suster Mira menuju pintu ruang kerja Anandhita.
"Mbak Fitri sudah sadar dan sampai saat ini masih ditemani Iptu Yono sedangkan mas Zacky sudah pulang tadi sore bersama dengan dokter Arga" lapor Suster Mira.
"Baguslah... Eh? Iptu Yono? Nungguin Fitri?" tanya David heran.
"Iya pak David. Nggak pergi-pergi dari tadi" senyum suster Mira.
David tersenyum smirk. Naga-naganya ada udang di balik bakwan deh!
"Dok, pak David sudah datang." Suara suster Mira membuyarkan lamunan David.
"Halo istriku" senyum David.
"Halo suamiku."
***
"Kamu nggak pulang, mas Yono?" tanya David yang bersama dengan Anandhita datang ke ruang rawat Fitri. Ternyata hasil test darah HGB yang diberikan ke Fitri benar-benar dosis tinggi dan beruntung iptu Yono segera membawa ke rumah sakit jadi langsung diberikan pertolongan pertama.
Setelah mengetahui dari test darah, Anarghya segera memberikan penawar yang cocok dengan jumlah yang dimasukkan oleh dokter Rizal.
"Saya... Menunggu saja, bang David. Kasihan nona Fitri nanti sendirian" jawab iptu Yono.
"Baju gantimu?" tanya David lagi.
"Sudah diantar oleh teman saya satu kontrakan bang. Besok biar saya yang antar nona Fitri kembali ke kostnya."
David dan Anandhita saling berpandangan lalu menoleh ke arah Fitri yang tampak masih lemas.
"Kamu yakin mau ditemani polisi kampret ini?" tanya David durjana.
"Nggak papa...pak David. Lagipula...saya masih bisa...hajar pak Yono kalau macam-macam" senyum Fitri yang membuat iptu Yono melotot.
"Kok gitu sih ngomongnya mbak Fitri?" protesnya sambil manyun.
Fitri hanya terkekeh dengan mata masih sedikit mengantuk.
"Aku periksa dulu ya mbak Fitri sebelum aku pulang. Kalian berdua kalau mau diskusi, Monggo lho. Ta kasih waktu setengah jam." Anandhita lalu mendekati Fitri sambil membawa senter kecil untuk memeriksa pupil mata Fitri.
"Kita keluar saja mas Yono." David mengajak iptu Yono keluar kamar.
***
"Jadi mereka bertiga masih belum bisa diinterogasi karena sikap mereka yang seperti tidak waras?" tanya iptu Yono sambil menyalakan rokoknya.
"Yup. Sesorean tadi, aku, Fathur dan Tama masih belum bisa nembus. Aku curiga mereka mecoba menghindari hukuman penjara dengan mengaku gila jadi bisa tidak dihukum karena gila jadi cacat hukum dan hanya dirawat di RSJ." David un mengisap rokoknya dan menghembuskan asapnya.
"Bahaya itu bang. Bisa bebas itu kecuali kalau benar-benar butuh penanganan psikiater" ucap Yono.
"Jangan lupa, dokter Rizal anaknya kepala imigrasi dan bisa membuat dirinya pergi dari Indonesia dan sulit dilacak." David menoleh ke arah Iptu Yono. "Bahaya jika dia melakukan pembunuhan lagi di negeri orang."
"Jadi apa yang akan anda lakukan bang?"
"Membuat mereka bertiga saling membunuh satu sama lain" seringai David.
***
Dokter Rizal menatap dokter Farah yang duduk di ruang tahanan di hadapannya dengan tatapan ingin membunuh.
"Gara-gara kamu! Gara-gara kamu!" ucapnya berulang dengan mata memerah akibat emosi.
"Tidak! Ini semua gara-gara kamu! Kamu yang tidak becus!" balas dokter Farah. Wajah cantiknya sekarang tampak mengerikan.
"Gara-gara kalian berdua, bang**sat! Kalian dokter kok begok!" teriak suster Mentari.
"Aku ingin membunuh kalian!" teriak dokter Rizal.
"Antri! Aku duluan yang ingin membunuhmu!" balas dokter Farah.
"Baguslah! Saling bunuh kalian! Aku tidak membutuhkan kalian berdua lagi! Kalian orang-orang tidak berguna!" sahut suster Mentari yang sel tahanannya bersebelahan dengan dokter Farah tapi dihalangi oleh tembok.
Kedua dokter itu menatap tajam ke arah Mentari yang tiduran di atas kasur tipis dekat dengan jeruji besi.
Entah apa yang berada di benak kedua dokter itu namun keduanya saling menyeringai licik.
***
Yuhuuuu Up Malam
Maaf hari ini tidak banyak dan ini aku up karena masih menunggu di rumah sakit.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️