My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Generasi Pratomo



*Catatan, cerita David dan Anandhita adalah enam tahun setelah Hoshi jadi wajar jika generasi ketiga banyak yang sudah meninggal karena faktor usia. Author berusaha serealistis mungkin karena keluarga Pratomo bukanlah Highlander.*


Anandhita sekali lagi menceritakan apa yang terjadi tadi di hadapan para penyidik dengan didampingi oleh papanya Arya Ramadhan dan Sepupunya Travis Blair. Neil Blair sudah meninggal dua tahun lalu, karena komplikasi. Pria dingin hasil didikan Stephen Blair itu meninggal dalam tidurnya.


Dua tahun lalu adalah saat-saat kehilangan banyak anggota keluarga klan Pratomo generasi ketiga. Setelah Javier yang kalah melawan limfoma, disusul oleh Neil Blair. Beberapa bulan kemudian, Duncan Blair menyusul sepupunya karena serangan jantung.


Gozali Ramadhan meninggal sebulan setelah Duncan karena sakit dan Maira meminta agar jenazah suaminya dimakamkan berdekatan dengan orangtua kandungnya sesuai dengan wasiatnya. Arya Ramadhan dan Adrian membawa jenazah papa dan Opanya dari Bali ke Jakarta.


Tiga tahun sebelumnya Mamoru Al Jordan dan Joshua Akandra meninggal dalam waktu berdekatan akibat penyakit yang sama, diabetes stadium dua. Miki Al Jordan menyusul setahun kemudian. Senna dan Kai Al Jordan, meninggal setahun lalu akibat kecelakaan kapal. Tamara dan Fatimah lah sekarang bersama dengan Reyhan dan Ayrton yang memegang kekuasaan Al Jordan.


Setahun lalu juga Eiji Reeves, biang gesrek generasi ketiga, meninggal dalam tidurnya. Ayame Agasa Reeves yang menemukan suaminya dalam keadaan pergi dengan wajah tersenyum.


Generasi ketiga tinggal Ghani Giandra, Elang McCloud dan Raymond Ruiz. Sedangkan yang perempuan, setelah Miki Al Jordan, Agatha Arata sudah meninggal setahun lalu menyusul suaminya Javier.


Anandhita tampak tenang ketika mengulang detik-detik peristiwa yang baru saja terjadi dua jam lalu.


"Nona Anandhita memiliki lisensi menembak nasional dan internasional. Dan keputusannya menembak Teddy Himawan karena pria itu membahayakan nyawa letnan David. Barang bukti sudah diamankan oleh nona Anandhita dan sekarang sudah diserahkan kepada Kapten Kosasih" ucap Travis Blair.


"Saya yang akan menjamin putri saya sendiri, apalagi kan dia dokter bedah disini. Tidak mungkin putri kami kabur lah" ucap Arya Ramadhan.


"Bukan begitu pak Arya, kami semua tahu bagaimana keluarga anda. Ini hanya formalitas saja apalagi pengacara nya adalah pak Travis dan pak James Blair. Tidak perlu diragukan lagi" ucap salah seorang penyidik.


"Sudah, Yono. Aku yang menjamin Dhita" suara bariton Kapten Kosasih membuat semua anak buahnya mengkeret.


"Siap Ndan."


***


Anandhita berpamitan kepada ayahnya untuk melakukan visite pasien yang tertunda. Meskipun dirinya masih masuk saksi, namun Anandhita tidak melupakan tugas utamanya sebagai dokter.


Arya dan David tampak keberatan namun Adrian menyatakan akan menemani adiknya visite bersama dengan suster Mira.


"Kamu temani adikmu, Yan. Sampai papa tahu kabar si bencong gimana" ucap Arya kepada putra sulungnya.


"Siap pa." Adrian pun menghela adiknya keluar kamar. Sementara PPK milik Anandhita ditahan oleh AKP Thomas sampai kasus selesai.


Arya berada di kamar bersama David, Travis dan Thomas sedangkan Kapten Kosasih masih harus mengawasi Jimmy dan Toro yang mengolah TKP.


"Anakmu benar-benar didikan keluarga Pratomo, Ya. Dingin banget kalau sudah bertemu penjahat. Kamu kalah Dave" kekeh AKP Thomas.


"Kamu orang kedua yang memuji generasi kelima klan Pratomo. Sebelumnya kapten Kosasih memuji Arga saat kasus Aji yang didatangi preman enam tahun lalu" senyum Arya.


"Aku dengar cerita itu pa. Arga masih memakai airpods saat menantang para preman sampai kapten bilang tuh bocah seperti mau nge-gym saja" timpal David.


"Aku pernah diceritain sama almarhum Oma Geya, istri Oom Manggala yang sering dipanggil mangga oleh Oma Nabila. Keluarga kalian memang bar-bar dan tidak cewek tidak cowok harus bisa beladiri dan menembak. Benarkah?" tanya AKP Thomas yang merupakan cucu keponakan Irjen Manggala Saputra ( Baca Just The Way You Are ).


"Sejak generasi pertama hingga sekarang memang kami diwajibkan. Anandhita tidak bisa bela diri tapi dia jago menembak dan memanah." Arya Ramadhan menyesap kopinya.


"Mengerikan keluarga kalian" kekeh AKP Thomas.


"Kalau nggak gitu, bisa-bisa David sudah ketemu Ogan buyut Abi deh" gelak Travis durjana.


"Jahat lu bro!" cebik David manyun.


"Travis, apakah Anandhita bisa lolos dari hukum?" tanya Arya.


"Bisa banget Oom. Kan pembelaan diri. Kasusnya hampir sama dengan Hoshi, hanya saja waktu itu Hoshi kan tidak sampai menembak hanya menghajar."


"Syukurlah. Tantemu sudah ribut saja soalnya."


***


Namun Adrian melotot tidak percaya ketika ada seorang kakek-kakek merayu adiknya. Tidak bisa dibiarkan ini!


"Wah, pak Herman. Terima kasih atas tawarannya untuk makan malam tapi maaf, saya sudah mempunyai tunangan" tolak Anandhita halus.


"Ayolah dok, kita paling cuma makan malam saja. Lagipula tidak usah beritahu tunangannya tho" rayu Herman yang berusia sepantaran dengan Opa Ghani.


"Sekali lagi maaf tidak bisa tapi jika pak Herman memaksa, saya juga bisa mencabut kateter ini dan membuat anda sakit lagi. Bagaimana?" senyum Anandhita tapi tidak dengan matanya yang menatap tajam.


"Eh dok... Jangan gitu lah dok." Herman melihat seorang pria yang berdiri di depan pintu dengan tatapan ingin membunuh. Tanpa harus menengok pun Anandhita tahu kalau itu adalah saudara kembarnya yang sedang judes mode on. "Itu tu... tunangannya ya?"


Suster Mira pun menoleh dan menahan tawanya melihat wajah Herman memucat. Dia sendiri juga kesal dengan pasien sudah aki-aki tapi masih ngegombal.


"Iya, itu tunangan saya. Jadi pak Herman bisa lihat kan anda tidak sebanding dengannya" seringai Anandhita.


Herman pun terdiam. Memang dulunya dia mantan player dan sekarang prostatnya bermasalah namun jiwa meshumnya tidak hilang-hilang.


"Kalau begitu, kami permisi" pamit Anandhita setelah memeriksa hasil operasinya.


***


"Harusnya waktu itu aku kebiri sekalian ya sus tuh aki-aki sedeng!" omel Anandhita kesal.


Adrian dan suster Mira tertawa terbahak-bahak membayangkan Anandhita melakukan prosedur pengambilan testis.


"Jahat lu, dik" kekeh Adrian.


"Habis sebel mas!"


"Tapi tadi sudah nggak berani macam-macam pas lihat aku" jawab Adrian.


"Baguslah!" Suara ponsel Anandhita berbunyi dan nama ayahnya muncul disana.


"Assalamualaikum pa."


"Wa'alaikum salam. Dhita, kamu ke kamar David. Sekarang!" seru Arya disana.


"Baik pa." Anandhita mematikan ponselnya. "Mas, kita kembali ke kamarnya mas David sekarang!"


"Ada apa?"


"Tidak tahu!"


Jangan-jangan adikku ditahan ini.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaa


Maaf jika opening sudah membuat mellow dan kehilangan karena aku berusaha bercerita serealistis mungkin.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


***