
*Gaeesss, cerita ini fiksi semata hanya untuk hiburan meskipun beberapa informasi ilmiah itu benar adanya seperti CODIS, DNA, serta penyakit mental dan para kaum lagibeteku itu benar-benar ada di sekitar kita.*
*Korban Dessy sudah operasi full ya termasuk alat kela*min pria ke wanita termasuk vaginoplasty yaitu rekonstruksi bentuk Miss Veg agar lebih mirip*
"Kopral Hari. Apa kamu tidak tahu Dessy bagaimana?" tanya AKP Thomas.
"Saya tahu, Ndan. Bahkan kami memutuskan hendak menikah meskipun konsekuensinya saya bisa dipecat dari kepolisian dan sekarang pun saya sudah tidak menginginkan apa-apa lagi setelah Dessy tiada dan berhasil membalaskan dendam saya." Hari menjawab dengan nada datar tanpa emosi. "Ketika saya ditarik untuk diperbantukan menyelesaikan kasus ini dengan tim letnan David, saya akhirnya mengetahui semuanya. Bahkan saya tahu kalau bang Fathur ke kantor forensik berarti kemungkinan besar itu adalah racun. Saya bisa melihat dari CCTV."
Tama memandang Hari dengan tatapan horor. "Har, kamu bisa dipecat dan dihukum pidana lho."
"Tak apa bang Tama. Saya sudah lega bisa membalas dendam. ltu yang penting. Setelahnya, saya hanya tetap ikuti hidup dan tetap bernafas. Karena bagi saya, kehilangan Dessy seperti kehilangan separuh nyawa saya. Saya tidak perduli dipecat jika saya menikah dengan Dessy yang penting kami hidup berdua. Tapi mereka berempat mengambil mimpi-mimpi saya ! Jadi bukan salah saya kan jika saya renggut mimpi mereka yang tidak akan bisa digapai?" senyum Hari.
David, Jimmy dan Toro melongo. Satu lagi orang yang dibutakan oleh cinta.
"Kopral Hari, kamu ikut saya!" Kapten Kosasih pun berdiri. "Kasus ini selesai ya. Dan saya minta tidak boleh bocor dari ruangan ini dan jika ada yang membocorkan, siap-siap SP!"
"Baik komandan!"
***
Kasus pembunuhan berantai yang dilakukan ketiga orang yang seharusnya menjadi penyelamat nyawa itu, akhirnya menjadi topik hangat mengingat ketiganya meninggal di saat bersamaan. Banyak yang menuduh pihak kepolisian lalai menjaga hingga mereka keracunan gas kompor.
Kapten Kosasih memberi informasi kepada media tentang kematian mereka akibat keracunan karbondioksida dari tabung gas yang bocor karena posisi ruang tahanan terdapat kompor yang dipakai para polisi membuat kopi saat berjaga.
Alasan kenapa saat itu tidak ada polisi yang berjaga karena mereka sedang berpatroli dan kondisi ruang jaga kosong sebab para tahanan sedang tidur. Dan ketika mereka merasakan bau gas, para tahanan sudah kondisi meregang nyawa.
***
Dua Minggu setelah kasus tewasnya ketiga tahanan itu, kopral Hari dipecat dengan tidak hormat dan harus menghadapi hukuman pidana pembunuhan. Wajah pria itu tampak datar seolah dirinya tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada dirinya.
David menyempatkan diri untuk menemui Hari di sel tahanan karena dirinya merasa kasihan dengan pria itu.
"Bang Hari" sapa David ramah usai keduanya duduk di ruang bertamu narapidana.
"Pak David" senyum Hari. Wajah pria itu tampak tenang dan segar.
"Sehat?"
"Alhamdulillah."
"Gimana kabar?" tanya David.
"Lebih tenang dan sekarang saya lebih fokus mendekatkan diri kepada Yang Di Atas. Saya tahu saya salah pak tapi saat itu emosi dan amarah saya yang menang."
"Bagaimana mas Hari bisa dengan almarhum Dessy?" David benar-benar penasaran.
"Pak David, saya adalah anak yatim-piatu yang tidak banyak memiliki teman dan saya selama ini bekerja serabutan sejak SMP hanya untuk hidup dan sekolah. Saya memang ingin sekolah yang cepat kerja dan saya masuk STM. Lulus dari sana, ada penawaran masuk akademi kepolisian di Bandung dan saya coba masuk, Alhamdulillah keterima lewat jalur prestasi."
Hari menyalakan rokoknya yang dibawakan oleh David dan David pun ikut merokok.
"Saya bangga menjadi seorang polisi, pak David dan saya bisa lulus lewat jalur beasiswa dan saya mendapatkan uang dari jualan online jika sudah istirahat di asrama. Saya lebih sering menjadi reseller jadi tidak perlu bertemu kecuali saat libur atau tamasya weekend."
Hari menghembuskan asap rokoknya.
"Setahun lalu saya ikut dengan iptu Hasan menggerebek sebuah klub di daerah Grogol dan disana saya bertemu dengan Dessy yang sedang bertugas menjadi penyanyi. Saya terkesima dengan wajahnya yang ayu dan kami berkenalan apalagi Dessy dilepaskan oleh iptu Hasan karena dia hanya bekerja sebagai penyanyi dan hasil urinenya bersih."
Hari menatap David. "Saya jatuh cinta setengah mati pak David. Mungkin seperti pak David dan Bu Dhita."
Hari menghisap rokoknya lagi. "Kami beberapa kali jalan dan setelah sebulan lebih berhubungan, Dessy mengatakan siapa sebenarnya dia. Awalnya saya terkejut tapi saya melihat sosok Dessy itu sempurna meskipun jika kami menikah, kami tidak akan punya anak. Toh banyak jalan untuk mendapatkan anak tapi Dessy hanya satu."
Mata Hari mulai mengembun. "Kami sudah membicarakan banyak hal termasuk jika nanti satuan saya tahu soal dia sebenarnya dan saya sudah ikhlas jika harus diberhentikan dari kepolisian karena saya tidak mau kehilangannya. Tapi rencana tinggal rencana. Betapa hancurnya hati saya ketika mengetahui Dessy lah korban pembunuhan di apartemen miliknya padahal saya baru semalam dari sana."
Hari mengusap air matanya. "Saya tidak bisa menemukan titik terang siapa pelakunya. Saya baru mengetahui setelah pak Thomas mengajak saya masuk ke tim pak David. Emosi saya memuncak mendengar penjelasan pak Fathur disaat kita harus mengikuti dokter Farah. Rasanya pada saat itu saya ingin menembaknya langsung tapi saya ingin mereka mati tersiksa dan apa yang saya inginkan terkabul. Mas Udin saya minta pergi membeli rokok sedangkan saya menyaksikan bagaimana mereka tersiksa terkena racun sianida."
David melihat bagaimana Hari tanpa beban dan emosi menceritakan kronologis kejadian itu hanya bisa menghela nafas panjang.
"Alhamdulillah lega. Dan saya sekarang tinggal menebus dosa-dosa saya dan bernafas untuk hidup karena separuh nyawa saya sudah pergi. Saya hanya tinggal menunggu dijemput olehnya, entah kapan."
David hanya bisa terdiam.
***
Anandhita menyambut suaminya yang pulang dengan wajah kusut.
"Ada apa mas?" tanya Anandhita sambil memeluk dan mencium bibir David, kebiasaan yang selalu dilakukannya setelah menikah.
"Didit, kalau aku tidak ada apakah kamu akan sendirian selamanya?"
Anandhita terkejut mendengar ucapan aneh suaminya. "Mas David kenapa? Ayo duduk dulu, kita ngobrol yang enak."
David pun duduk berhadapan dengan istrinya dan mulai bercerita soal Hari. Anandhita menyimak tanpa menyela cerita suaminya.
"Itu namanya antara cinta yang tulus dan cinta sejati yang berbeda tipis. Mungkin mas Hari benar-benar diperhatikan, diopeni, disayang dan diuwongke sama almarhum Dessy jadi susah move on. Jarang di jaman sekarang ada orang sesetia itu kecuali di keluargaku semua tipe setia dengan pasangannya masing-masing. Menjawab pertanyaan mu mas, kan masih ada Aa Toro." Anandhita mengerling jenaka ke David yang melotot.
"Apa kamu bilang? Si gendut dari gua forensik? Seriously Didit!"
Anandhita terbahak. "Ish mas David tuh diajak bercanda kok sulit?"
"Itu bukan bercanda, Didit! Tapi bikin tensi naik! Kamu harus tanggung jawab!"
"Coba aku ukur tensimu berapa nanti aku kasih obat tensi" cengir Anandhita.
"Obatnya hanya satu. Kita bikin anak!" David langsung menggendong istrinya yang terpekik terkejut.
"Mas David!"
"Bener nggak kalau acara bikin anak itu bisa mengurangi stress dan tensi?"
"Ya bener sih tapi kok istilahnya bikin anak?" kekeh Anandhita yang sekarang sudah diletakkan diatas tempat tidur dan David mulai melepaskan satu persatu kancing daster istrinya.
"Ini baju daster ribet amat sih!" protes David kesal.
Anandhita langsung mengangkat dasternya dan wajah David langsung sumringah karena istrinya polos tanpa mengenakan apapun.
"So? Jadi acara bikin anak?" goda Anandhita.
"Jadi dong!" David langsung melepaskan semua pakaiannya dan mulai mencum*bu istrinya. "I love you Anandhita Putri Ramadhan Satrio."
"I love you too David Hakim Satrio and my boyfriend eh my husband is not a transgender."
David tertawa di ceruk leher istrinya. "Aku sampai takut kalau papa Arya memecat aku sebagai calon menantunya gara-gara aku jadi waria."
"Tapi buktinya nggak kan?" senyum Anandhita.
"Mau bukti?" goda David.
"Prove it, baby" balas Anandhita.
Dan acara membuat anak pun terjadi.
*** END ***
Terimakasih buat semua dukungan nya buat bang Dapid dan neng Didit.
Cerita mereka end disini ya tapi nanti akan muncul di edisi Bonchap Taufan x Natasha.
Thank you for your reading and support
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️