
Kapten Kosasih dan semua orang disana masuk ke dalam ruang pertemuan dan disana Jimmy beserta Toro menyiapkan proyektor yang akan menunjukkan kejadian sebenarnya.
Ketiga jenazah tersangka itu kini berada di kamar jenazah koroner RS Bhayangkara dan sedang diautopsi oleh dokter Tini Srikandi dibantu oleh dr Fathur yang meskipun berpangkat Iptu, Fathur memang seorang dokter tapi lebih menyukai pekerjaan lapangan kepolisian.
"Assalamualaikum. Selamat siang bapak Kapten Kosasih, bapak AKP Thomas, dan semua rekan-rekan saya semuanya." David membuka salam kepada semuanya dan salam David pun dijawab oleh semua orang disana.
"Sebelumnya saya ingin sedikit flashback tentang strategi yang kami buat. Jadi kami tahu bahwa para ketiga tersangka itu cepat atau lambat akan bergerak, entah kapan tapi setelah Tasya alias Tarmuji alias Teddy Himawan tewas, kami yakin bahwa ketiga tersangka itu akan bergerak tanpa menunggu."
David lalu meminta Jimmy untuk menyalakan hasil rekaman CCTV yang dikumpulkan oleh Jin Kawashima, tangan kanan Hideo Kojima Park.
"Kasus ini bermula sebenarnya mundur ke sepuluh tahun lalu saat istri saya, Anandhita Ramadhan Satrio SMA. Saya dan Didit adalah teman SMA, saya kelas tiga, Didit kelas satu. Pada saat itu teman sekelas Didit, Teddy Himawan, sudah naksir istri saya yang waktu itu belum jadi pacar saya, istri apalagi. Namun Didit mengacuhkan dan sampai Teddy mengirimkan preman untuk menggoda Didit dan harapannya Teddy yang akan muncul sebagai pahlawan kesiangan tapi skenario bubar jalan sebab sebelum dia nongol, saya tanpa sengaja disana dan membantu Didit."
"Jadi kesimpulannya elu bikin si Teddy dongkol dong! Skenario berantakan, gara-gara ada penikung datang" kekeh AKP Thomas.
"Lha saya meneketehe Ndan" cengir David cuek.
"Nggak heran dia dendam kesumat sama elu Dave" kekeh Jimmy.
"Ya gitu deh. Oke, lanjut. Setelah itu Didit merasa risih seperti di stalking oleh Teddy sampai dia meminta pengawal bayangan perempuan yang menyamar menjadi teman sekelasnya agar bisa berangkat dan pulang bersama-sama hingga Teddy tidak ada celah mendekati Didit apalagi saya lulus SMA jadi tidak bisa melindungi Didit."
David membasahi bibirnya. "Teddy saat kenaikan kelas tiga, pindah bersama dengan kedua orangtuanya ke Bangkok Thailand dan setelah kasus dia tewas, kami baru tahu jika Teddy ada kaitan kekeluargaan dengan dokter Farah, Calista aka Cecep Sutisna, Aiptu Fajar dan Suster Mentari."
"HAAAAHH?" seru semua orang disana.
"Yang bener Dave?" seru Iptu Yono yang sudah masuk kerja setelah mengantarkan Fitri ke kost-kostan nya.
"Mereka itu bersaudara sepupu tapi ke Aiptu Fajar dan suster Mentari itu sepupu jauh" ucap Jimmy. "Dan yang menemukan CODIS DNA itu adalah saudara Toro Raharja."
Semua orang menatap respek ke pria yang berbadan gempal karena tidak mau dibilang gendut. Bagi Toro, kata 'gendut' itu menyesakkan hati.
"Saya memang diminta oleh letnan David untuk memeriksa sebuah sofa yang sebelumnya dipakai oleh korban Calista dan tanpa diduga sebelumnya ternyata di noda-noda biologis disana ditemukan banyak petunjuk" ucap Toro.
Randy yang berada di dalam ruangan itu hanya menunduk. Hanya rekan-rekan forensik dan kedua pimpinannya yang tahu kasus dirinya dengan Mentari.
"Dari situ saya bisa mendapatkan bukti bahwa kelima orang itu saling berhubungan darah. Dan kami menyelidiki lebih lanjut, ternyata obsesi Teddy Himawan semakin menjadi dan karena dia tinggal di Bangkok Thailand yang biasa dengan ladyboy dan dia merencanakan untuk bisa ke Jakarta dan merebut neng Dhita." Toro menatap semua orang disana.
David melotot ke arah Toro yang seenaknya memanggil nama istrinya. Tentu saja sikap David yang posesif dengan istrinya dan kelakuan Toro yang cuek membuat para hadirin cekikikan.
"Cari mati si Banteng" kekeh Tama.
"Mari kita lihat hasil penyelidikan asisten tuan Hideo Kojima Park, Jin Kawashima, ipar dari letnan David" ucap Toro guna mengalihkan perhatian.
Semua orang disana melihat bagaimana kedua dokter itu hadir dalam simposium di Singapura. Hasil rekaman CCTV di Marina Bay membuat semua orang mengetahui bahwa rencana pembunuhan itu sudah dibuat hampir sembilan bulan sebelumnya.
Bagaimana dokter Rizal dan dokter Farah berada disana menatap Anandhita yang sedang mengobrol dengan Safira saat acara makan siang saat simposium. Lalu mereka juga melihat suster Mentari mendekati mereka berdua, juga Tasya yang dalam outfit waria.
"Sebelum kalian heboh, jadi simposium para dokter itu bersamaan dengan acara gathering para waria dan itu menjadi jawaban kenapa mereka bisa bertemu." David menjelaskan kepada semua orang disana.
Suara riuh terdengar di ruangan itu.
"Entah kebetulan atau nggak tapi itulah yang terjadi." David meringis mengingat bagaimana kasus itu menjadi memakan banyak korban.
"Kita lanjutkan ya" ucap Jimmy.
Semua orang disana melongo ketika mendapatkan penjelasan bagaimana keempat orang itu melakukan pembunuhan keenam waria dengan menggunakan alat pemecah es batu. Bahkan video dokter Rizal pun tidak ragu-ragu untuk membeli banyak alat pembunuhan itu.
"Pernahkah kalian membaca ABC Murders karya Agatha Christie? Seperti inilah jadinya. Empat orang dengan Obsessive Love Disorder yang sama, melakukan pembunuhan acak hingga bisa memancing saya untuk menangani kasus ini. Dan sebelum saya mendapatkan limpahan kasus ini, maka kemungkinan besar mereka akan terus membunuh." David menatap ke semua orang.
"Saya dan Didit tidak tahu kenapa mereka bisa seperti itu kepada kami. Tapi saya bersyukur ketiganya sudah dipanggil malaikat maut."
"Ini hasil rekaman CCTV yang memang dipasang diam-diam dan tersembunyi di sel tahanan masing-masing tersangka." Jimmy lalu memutarkan rekaman CCTV.
***
Dokter Rizal melihat seorang penjaga piket membawakan tiga bungkus nasi Padang untuk mereka bertiga.
Melihat nama di seragam petugas yang bernama 'Hari', dokter Rizal lalu memanggilnya. Kedua tersangka wanita sedang tertidur setelah lelah berteriak-teriak dari tadi.
"Pak Hari, nasi Padang nya saya kasihkan vitamin buat para gadis-gadis itu ya."
"Vitamin apa pak dokter?" tanya kopral Hari.
"Ini saya dikasih sama pengacara saya. Buat stamina."
"Maaf pak dokter. Harusnya vitaminnya saya sita."
"Jangan pak Hari. Nanti saya tidak bisa tidur nyenyak."
"Coba saya lihat pak dokter." Hari meminta botol vitamin dokter Rizal dan melihat isi vitamin imbo*ost yang warnanya putih. Dan memang setahunya warna kapsul vitamin itu bewarna putih.
"Kasih ya pak Hari" pinta dokter Rizal.
"Baik, saya berikan vitaminnya." Hari pun membawa tiga bungkus nasi Padang itu ke ruangan sebelah dan mulai memasukkan ketiga kapsul itu di masing-masing bungkusan dengan cara digerus.
"Kenapa kamu gerus Har?" tanya kopral Udin yang berjaga dengannya.
"Biasanya tahanan kan paling malas minum obat dan vitamin, jadi aku gerus lah." Kopral Hari lalu memberikan masing-masing nasi Padang itu ke ketiga tahanan disana.
Tak berapa lama, ketiganya yang sudah memakan separuh nasi Padang itu merenggang nyawa.
***
Semua orang menatap ke arah kopral Hari yang hanya menatap datar tanpa ekspresi.
"Apa alasanmu Har?" tanya Kapten Kosasih.
"Apa kalian tahu korban wanita yang terbunuh yang menjadi korban kedua setelah ditelusuri oleh pak letnan David?" tanya Hari.
"Iya, dia salah satu transgender yang sudah berubah total menjadi wanita." David menatap kopral Hari. "Apa hubungannya denganmu?"
"Dessy, nama korban itu adalah kekasih saya yang menjadi salah satu korban kebiadaban ketiga orang itu. Apakah salah jika saya diberikan kesempatan untuk membalaskan dendam saya?" Hari memandangi semua orang disana.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Maaf semua chapter agak terlambat karena seharian ini bolak balik ke rumah sakit
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️