
Adrian, Anandhita dan suster Mira bergegas menuju kamar tempat David dirawat inap dan sesampainya disana tampak Anarghya dengan masih memakai baju operasi dan ada darah di sekitar perut dan dadanya.
Kedua saudara kembar itu melihat wajah Arya, David, AKP Thomas dan Travis tampak sendu. Adrian menoleh ke arah Anarghya.
"Ga? Apa yang terjadi?" tanya Adrian.
"Aku...tidak berhasil, Yan. Tasya meninggal di kamar operasi. Peluru merobek aortanya dan pendarahannya tidak bisa aku hentikan." Anarghya tampak kesal karena tidak bisa menyelamatkan nyawa Tasya supaya bisa jelas semuanya.
Anandhita hanya menatap tenang ke papa dan kekasihnya. "Apakah aku akan ditahan?"
"Kemungkinan besar karena kamu tanpa sengaja menghilangkan nyawa seseorang" ucap AKP Thomas.
"Ya sudah. Kita ke kantor polisi saja" balas Anandhita tenang.
"Papa akan menemani kamu bersama Travis." Arya pun berdiri. "Yan, kamu disini bersama David. Papa yakin begitu berita di Tasya mokat menyebar, dua dokter psycho itu akan menggunakan berbagai macam cara untuk David. Biarkan saja mereka saling membunuh, kita hanya menyaksikan saja."
"Baik pa."
***
Hideo berlari menuju ruang rawat David tapi melihat hanya ada David dan Adrian disana.
"Dimana Oom Arya dan Anandhita?" tanya pria berdarah Korea Selatan dan Jepang itu.
"Papa dan bang Travis menemani Dhita ke Polsek Jakarta Selatan. Dhita ditahan karena kasus pembunuhan tidak disengaja. Kenapa Hyung?" tanya Adrian dan David pun menatap bingung ke calon iparnya.
"Ya sudah. Aku ke Polsek Jakarta Selatan dulu. Ada hal yang harus aku bilang ke Travis." Hideo pun berbalik.
"Hyung! Apa hal yang kamu sembunyikan?" panggil Adrian. "Beri tahu kami!"
Hideo pun berbalik. "Kalian tidak akan menduganya."
***
James Blair ikut datang ke Polsek Jakarta Selatan untuk membantu Arya Ramadhan, sepupunya. Apalagi ini keponakannya sendiri yang ditahan di kepolisian.
Kapten Kosasih pun turun tangan mengingat Anandhita melakukan karena menyelamatkan nyawa David Hakim Satrio yang notabene adalah anak buahnya.
"Ndan, ini korban tersangka yang ditembak nona Ramadhan meninggal. Kita terpaksa menahan nona Ramadhan semalam ini" ucap Iptu Yono yang menangani kasus penembakan Tasya.
"Yang benar saja kamu mau menahan Dhita! Dia kan sudah ada penjaminnya! Lihat, siapa saja yang menjamin!" hardik Kapten Kosasih yang merasa putri sahabatnya ditahan.
"Tapi Ndan..." eyel Iptu Yono.
"Saya yang akan mengawasi nona Dhita." Randy pun datang ke ruang meeting itu.
"Kamu tidak perlu mengawasi putriku, Randy. Toh aku sendiri dan mamanya yang akan mengawasi Dhita." Arya menatap Randy dengan tatapan menghargai.
Randy nyengir kikuk sebab David sendiri yang memintanya untuk mengawal kekasihnya.
"Masalahnya David yang meminta saya mengawal neng Dhita, pak Arya."
"Ah, David suka cemas berlebihan" sungut Arya yang membuat Anandhita tersenyum. Kekasihnya suka lupa kalau dia anak siapa.
"Jadi Yono, kamu kasih saja Dhita tahanan kota. Aku yang menjamin! Bukannya aku sudah bilang bolak balik tadi!" omel Kapten Kosasih kesal.
"Baiklah Ndan." Yono sendiri merasa kesal kenapa kapten Kosasih membela keluarga Ramadhan padahal mereka cuma pengusaha biasa tapi entah kenapa komandannya seperti pro sana.
Iptu Yono pindahan dari kota kecil Wonosobo yang baru masuk ke kota Jakarta. Dia baru dua Minggu disini menggantikan David Hakim Satrio yang melakukan penyamaran dan dia benar-benar polisi yang straight the rule.
Setelah semua proses prosedur selesai dan keluarga Ramadhan dan Blair pergi, Iptu Yono memberanikan diri bertanya kepada kapten Kosasih.
"Ndan, kenapa anda seperti membela keluarga mereka? Memang mereka itu siapa?" tanya Iptu Yono.
"Kamu tuh pindahan dari mana?" tanya Kapten Kosasih.
"Wonosobo, Ndan."
"Sebelumnya?"
"Semarang."
"Kamu asli mana?"
"Grobogan."
"Pernah Ndan. Tetangga saya di Grobogan ada yang bekerja di hangar perbaikan pesawat milik Giandra Otomotif Co di Ahmad Yani."
"Arya Ramadhan adalah sepupu Bara Giandra CEO Giandra Otomotif Co. James dan Travis Blair adalah ayah dan anak dari Blair and Blair Advocate Association. Paham kamu?" Kapten Kosasih mendelik ke Iptu Yono.
"HAAAAHH? James Blair itu bukannya yang membantu kasus korupsi penggelapan pajak dan berhasil mengembalikan uang ke negara sekian triliun itu?" Iptu Yono tidak mengira kalau pria dengan wajah kalem berbrewok yang sudah beruban itu adalah pengacara yang disewa negara.
"Kamu kemana saja Yonoooo!" hardik Kapten Kosasih kesal dan reflek mengeplak kepala bawahannya.
"Saya disini dari tadi Ndan" cengir Iptu Yono sambil mengelus belakang kepalanya.
"Makanya saya berani menjamin keluarga mereka. Keluarga Ramadhan masih memiliki hubungan keluarga dengan keluarga Pratomo, Blair, Giandra dan Al Jordan. Jadi, kamu bisa lihat, mereka dikenal tidak akan menyenggol jika tidak disenggol."
"Tapi apakah nona Anandhita memang jago menembak, Ndan?" tanya Iptu Yono yang masih penasaran dengan keluarga Sultan itu.
"Kayaknya lebih jago daripada kamu!" Kapten Kosasih pun ngeloyor menuju ruang kerjanya meninggalkan Iptu Yono yang masih termangu.
Masa sih?
***
David menatap gelisah ke arah pintu menanti gadisnya yang terpaksa harus dibawa ke kantor polisi karena membunuh seseorang meskipun tidak disengaja.
"Tenang saja, Dave. Dhita pasti akan pulang kok!" hibur Adrian sambil membuka MacBook nya untuk bekerja.
"Tapi kan aku kan khawatir, Yan" ucap David sambil melihat ke arah pintu.
Adrian dan Hideo hanya menggelengkan kepalanya. Hideo sendiri masih membuka beberapa folder yang dikirimkan oleh Jin.
Suara pintu dibuka membuat David menoleh dengan semangat tapi wajahnya berubah manyun saat melihat siapa yang datang.
"Sore Letnan! Sore calon kakak ipar berdua!" sapa Toro dengan pedenya.
Hideo menoleh ke arah Adrian. "Calon kakak ipar? Yan, apa kamu punya adik perempuan lainnya?"
"Dia mah ngehalu pengen jadi suaminya Dhita padahal jelas-jelas depan mata calonnya Dhita itu David!" sungut Adrian sebal melihat tingkat kepedean Toro yang overload.
Hideo memindai Toro dan hanya tersenyum smirk.
"Geuneun neomu jasin-iss-eo ( percaya diri sekali dia )" ucap Hideo.
"Geuneun jeongmal neomu nop-eun sujun-ui jasingam-eul gajigo issseubnida ( dia memang terlalu tinggi tingkat percaya dirinya )" balas Adrian.
Toro yang melihat keduanya memakai bahasa Korea hanya bisa mengeluh. "Please Oppa, jangan ada drama Korea disini."
"Hyung." Hideo menatap Toro.
"Hah?"
"Hyung. Oppa hanya untuk perempuan memanggil kakak laki-lakinya, kalau kamu memanggil aku itu Hyung." Hideo tersenyum yang entah mengapa membuat Toro merinding.
"Hyung... kok aku merinding ya melihat dirimu" bisik Toro tanpa filter yang membuat David dan Jimmy cekikikan.
"Wajar lah kalau lu merinding. Wong dia bekas mafia di Seoul" gelak David melupakan rasa sakit di rusuknya.
"HAAAAHH? Serius Let?" teriak Toro. "Waduh neng Dhitaaaaa... Aa kan jadi jiper kalau neng punya kakak mafia."
"Makanya aku bilang, kamu tidak bisa masuk ke keluarga kami" seringai Adrian.
Toro pun langsung lemas. Tobil anak kadal.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Maaf telat... Hujan bikin pengen melungker bagaikan kepompong
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️