My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Dokter Rizal Datang



Dokter Farah menatap kesal ke arah David. Sial, aku keceplosan! Bahaya ini! Dokter Farah pun memutuskan untuk keluar dari ruang dokter forensik.


"Dokter Tini, aku keluar dulu, mau ke kantin." Dokter Farah menganggukkan kepalanya ke dokter seniornya.


"Aku nitip gorengan dong. Tempe gembus dua, bakwan dua sama tahu petis empat." Dokter Tini lalu mengeluarkan uang 20ribu.


"Nggak usah dok, nanti tinggal hitung-hitungan saja kalau aku sudah balik."


"Halah, bawa aja nih duit daripada rempong!" Dokter Tini mengulurkan uang bewarna hijau itu.


Dokter Farah pun menerima uang itu lalu pergi meninggalkan semua orang disana tanpa berpamitan sama sekali.


Fajar yang melihat kejadian itu hanya terdiam dengan wajah datar. Dokter Tini memandang wajah David yang tanpa ekspresi.


"David, do you know something?" tanya Dokter Tini.


David hanya tersenyum smirk. "Sebentar lagi dok, sebentar lagi Anda akan mengetahui apa yang terjadi."


***


Randy memperhatikan Vino yang tampak tertunduk. Hidup bersama selama beberapa waktu untuk menyelidiki kasus pembunuhan berantai, membuat Randy tidak habis pikir bagaimana mereka bisa saling membunuh.


"Viola...eh Vino. Saya tidak habis pikir kenapa kamu tega melakukan hal itu pada Yulianto?" akhirnya Randy membuka suara.


"Saya... khilaf pak Randy. Saya... saya...hanya ingin membantu Asih untuk membeli rumah kemarin dari tangan pamannya. Uang saya tidak cukup lalu saya melihat tabungan Yuli, membuat saya gelap mata."


"Apa maksudnya beli rumah kemarin?" tanya Randy.


"Rumah yang bapak grebek itu sebenarnya milik orang tua Asih tapi di agunanin sama pamannya. Asih mau nebus di bank. Saya...harus cari sekitar 100jutaan. Makanya saya terpaksa bunuh Yuli karena dia tidak mau meminjamkan pada saya."


Randy mengusap wajahnya kasar. Klasik alasannya.


"Kamu saya bawa ke Jakarta biar diproses disana. Sekarang rumah itu sudah kembali ke Asih?"


"Saya sudah membayar ke bank nya dan hari ini harusnya proses pengembalian sertifikat rumahnya."


"Ya sudah. Sekarang kamu dan Asih bersama kami, ke bank itu, ambil sertifikat rumah tapi akan saya tahan sertifikat nya sebagai bagian dari barang bukti. Karena uang Yulianto kan ada di sertifikat itu. Nanti kalau kamu sudah selesai urusan pengadilan, sertifikat baru kami kembalikan!"


Vino hanya terdiam pasrah.


***


Anandhita sedang berada di kantin seorang diri karena suster Mira harus mengambil persediaan obat-obatan dan beberapa perlengkapan lainnya di farmasi. Anarghya sendiri sedang melakukan operasi di ruang operasi bersama dengan timnya. Anandhita mengakui bahwa sepupunya itu jauh lebih pintar dari dirinya meskipun jahitan Anandhita lebih halus sedikit dibandingkan Anarghya.


Suara ponsel milik gadis itu membuatnya mengambi dari saku snelinya. Wajahnya tampak gusar ketika tahu siapa yang menelpon. Tanpa sadar, Anandhita memegang PPK yang diselipkan di celana dan berada di belakang pinggangnya.


Mata coklat itu lalu memberikan kode kepada pengawal bayangannya untuk waspada dan pengawal kiriman ayahnya mengangguk pelan.


"Halo?" sapa Anandhita dengan nada biasa.


"Dokter Anandhita, anda dimana? Saya datang ke ruang praktek anda kok tidak ada."


"Saya di kantin sedang makan siang. Ada perlu apa dokter Rizal?"


Dokter Rizal yang menelpon hanya tertawa yang entah kenapa Anandhita merinding mendengarnya. "Saya hanya ingin bertemu dengan anda. Kan sejak anda menikah, saya belum bertemu lagi dengan mu."


"Kenapa ini jadi formal ya ngomongnya?"


"Karena saya ingin menghormati calon istri saya" ucap dokter Rizal pede.


What the hell? "Maaf, saya sudah menikah, dokter Rizal. Bukankah Anda juga berada disana saat saya melakukan ijab qobul dengan mas David."


"Jangan sebut nama pria lain di telinga dan hadapan saya, dokter Anandhita."


Anandhita menoleh dan tampak dokter Rizal menyeringai yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.


"Saya duduk di sebelah anda bo..."


Dokter Rizal hanya terkekeh. "Sebentar lagi kamu akan menempel denganku, Dhita."


Anandhita hanya menatap dingin pria di hadapannya. Boleh nggak aku tembak sekarang? Diam-diam Anandhita mengambil ppknya dan mengkokangnya di bawah meja tempat dia makan. Beruntung meja yang dipakai makan, tinggi dan pinggir tertutup jadi tak tampak dirinya memegang pistol.



"Apa maksudnya?" tanya Anandhita tanpa ekspresi.


"Karena sebentar lagi, pria bodoh yang menjadi suamimu akan mati! Dan kamu, akan menjadi milikku."


Anandhita tersenyum smirk. "Yakin sekali dirimu dokter, karena keluarga aku sudah pasti tidak akan tinggal diam. Siapa juga yang mau dengan dokter gila macam kau!"


"Kamu yang mau denganku, Anandhita! Karena aku hanya menginginkan dirimu!" desis dokter Rizal hendak meraih tangan Anandhita tapi gadis itu memundurkan tubuhnya.


"Jauhkan tangan mu dari nona Anandhita!" suara pengawal bayangan Anandhita terdengar di belakang dokter Rizal.


"Atau apa?" tanya Dokter Rizal dengan wajah meledek.


"Atau anda saya hajar." Pengawal bayangan bernama Zacky itu menatap dingin ke wajah dokter Rizal.


"Saya bisa menuntut kamu dengan perbuatan tidak menyenangkan dan kekerasan, hei orang rendahan" ejek dokter Rizal untuk memancing Zacky namun pria yang sudah lima tahun bekerja dengan Arya Ramadhan tidak terpengaruh.


Beberapa pengunjung disana mulai berbisik-bisik membuat dua orang satpam dan suster Mira yang baru datang, menghampiri meja Anandhita.


"Anda baik-baik saja dokter Anandhita?" tanya seorang satpam.


"Tidak pak Rommy. Tolong usir dokter sinting ini!" pinta Anandhita ke satpam yang datang dengan wajah dingin menatap dokter Rizal. "Dan masukkan dia ke dalam blacklist semua rumah sakit di Indonesia."


"Kamu tidak akan berani Anandhita! Apa kamu tidak tahu siapa orang tuaku" seringai Dokter Rizal.


"Apa kamu lupa siapa orangtuaku? Silahkan kamu membawa-bawa orangtuamu tapi orangtuaku memiliki kekuatan lebih banyak dari orang tuamu!" balas Anandhita dingin. "Kau benar-benar dungu jika berani melukai aku atau suamiku karena keluarga aku tidak akan tinggal diam!"


"JANGAN PERNAH BILANG SUAMIKU!" teriak Dokter Rizal dengan wajah penuh amarah dan matanya tampak memerah menahan emosi.


"Aku memang sudah bersuami! Suamiku adalah Iptu David Hakim Satrio! Kamu hanya bermimpi jika ingin memiliki aku karena aku tidak akan pernah mau denganmu. Baik sejak dulu maupun detik ini!" balas Anandhita yang kini berdiri dari kursinya sembari menyembunyikan ppknya di belakang.


Suster Mira lalu berdiri melindungi Anandhita dan memandang dokter Rizal kesal. "Pergi dok, sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan!" Suster Mira sempat melihat dokter favoritnya sudah memegang pistol di tangannya.


"Monggo pak dokter. Saya antar keluar." Satpam bernama Rommy itu menyentuh bahu Rizal untuk menghela pria itu pergi.


"Jangan sentuh aku! Hanya Anandhita yang boleh menyentuh aku!" hardik dokter Rizal.


Bisik-bisik pun mulai terdengar di kalangan orang yang berada di kantin. Dan rata-rata mengatakan bahwa dokter Rizal sudah gila.


Anarghya yang baru saja datang usai melakukan operasi, tampak kesal melihat dokter Rizal berani datang ke rumah sakit tempat dia dan Anandhita bekerja.


"Bawa dia pergi dari sini pak Rommy!" perintah Anarghya dengan nada dingin.


"Iya pak Arga."


Dokter Rizal melirik tajam ke arah Anarghya yang menatap tajam ke arah pria itu.


Awas kau Anarghya! Akan kuhabisi juga kau!


***


Yuhuuuu Up Pagi


Maaf semalam baru jadi separo, ketiduran aku 😁😁😁


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️