My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Polisi Kampret v Dokter Kampret



Randy menuju kota Subang dengan beberapa bawahannya untuk menangkap Vino keesokan harinya dan mereka berangkat dari Jakarta sore hari setelah Randy mendapatkan informasi dari hasil penyelidikan pemakaian dan penarikan uang dari ATM dan e-banking. Sesampainya di Polsek Subang, Randy menghadap Kapolsek untuk berkoordinasi menangkap Vino.


Setelah briefing, diputuskan mereka akan menangkap Vino malam hari sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Toro berdasarkan tower ponsel yang diperoleh dari sinyal milik Vino.


Randy tidak habis pikir kalau Vino berinisiatif menukar ponsel dan SIM card nya supaya bisa masuk ke e-banking milik Yulianto. Hasil penyelidikan anak buahnya ke ketiga bank setelah David menyimpulkan trik yang dipakai Vino, menyebutkan bahwa pria itu meminta tolong tiga orang pelanggannya yang kebetulan adalah pegawai tiga bank itu untuk mengganti semua password e-banking Yulianto.


David sendiri memilih tinggal di Jakarta sembari mencari bukti-bukti kuat setelah kemarin hampir semalaman dia beserta Toro dan Jimmy berada di ruang CSI untuk memeriksa rekaman CCTV yang diberikan pihak stasiun pasar Senen.


***


David masih terlelap ketika Anandhita sudah bersiap untuk ke rumah sakit. Semalam memang David minta ijin terlambat pulang karena masih harus menyelidiki kasus pembunuhan Yulia.


Anandhita tidak tahu jam berapa suaminya pulang dan hanya merasakan dirinya dipeluk dari belakang lalu lanjut tidur. Keduanya kini sudah pindah ke apartemen milik Anandhita karena letaknya lebih strategis dekat dengan kantor David dan juga rumah sakit tempat Anandhita bekerja.


Dokter cantik itu sudah menyiapkan sarapan berupa sandwich karena dirinya tidak tahu jam berapa David akan bangun. Melihat suaminya tidur nyenyak, sebenarnya Anandhita tidak tega membangunkannya tapi dia harus berpamitan kerja.


"Mas...Mas David" panggil Anandhita pelan sambil menggoyangkan bahu suaminya tapi yang dibangunkan tetap merem.


"Ish! Bang Dapid" panggil Anandhita meniru Anarghya dan Amaranggana namun David tidak bergeming.


Anandhita tersenyum licik lalu berbisik di telinga suaminya. "Polisi kampret?"


"Siapa yang kampreettt!" protes David dengan sedikit berteriak sedangkan oknum yang memanggilnya hanya cekikikan.


David pun terduduk sambil menyatukan nyawanya. "Siapa yang manggil aku polisi kampret?" tanyanya sambil mengucek-ucek matanya.


"Aku. Soalnya mas David nggak bangun jadi aku panggil itu deh" cengir Anandhita.


"Wooo kamu sudah berani ya Dit ngatain suami sendiri polisi kampret?"


Cup!


"Aku pergi dulu mas. Di meja sudah ada sandwich, coffee maker ada kopi lalu di kulkas sudah aku kupaskan pepaya." Anandhita mencium pipi David.


"Terimakasih istriku yang ngatain suaminya polisi kampret."


David harus ada pepaya setiap pagi demi kelancaran perutnya dan Anandhita sudah hapal kebiasaan suaminya.


"Aku berangkat dulu." Anandhita mencium punggung tangan David.


"Ada pengawal kan?"


"Adalah. Papa nggak bakalan melepas aku sendirian selama trio psycho itu belum dijebloskan ke penjara!"


"Tenang sayang, sebentar lagi ketangkap." David mencium kening Anandhita.


"Alhamdulillah. Aku sudah gemas ingin aku dor sendiri!" Mata coklat Anandhita tampak berkilat penuh amarah.


"Wooo, istriku... Kamu menyeramkan" ucap David sambil bergidik.


***


Randy dan Kapolsek Subang beserta para anak buahnya akhirnya memutuskan menangkap Vino pagi-pagi buta karena semalam hujan deras mengakibatkan sulitnya pandangan mobil di jalan raya. Akibatnya mereka terpaksa menginap di sebuah kantor polisi kecil dan menunggu usai subuh langsung ke rumah yang ditempati oleh Vino menurut hasil pelacakan Toro.


Kini semua sudah mengepung sebuah rumah khas pedesaan. Randy dan Kapolsek berdiri di depan pintu sedangkan anggota lainnya mengepung semua titik yang diperkirakan bisa dijadikan tempat untuk kabur.



"VINO! BUKA PINTUNYA! ATAU KAMI DOBRAK!" teriak Randy.


Terdengar suara gedobrakan dari dalam rumah yang membuat anak buah Kapolsek mendobrak pintu kayu itu. Tampak Vino disana sedang mengangkat tangannya saat hendak kabur dari jendela namun sudah ditodong pistol oleh polisi yang berjaga disana.


"Kang! Ada apa ini?" teriak seorang wanita yang hanya menutupi tubuhnya dengan selimut jarik dari arah tempat tidur. .


"Yaelah! Elu normal Vin?" kekeh Randy. "Maneh teh saha, neng?" tanya Randy ke arah wanita disana.


"Sa...saya pacar eh...calon istrinya kang Vino, pak polisi" jawab wanita itu gugup.


"Sok atuh pakai baju heula. Ikut kami ke kantor polisi!" Wanita itu langsung menutup pintu kamar.


Randy mendekati Vino yang hanya mengenakan boxer. "Saudara Vino Hasto, anda kami tahan atas tuduhan pembunuhan saudara Yulianto." Randy lalu mengambil tangan Vino dan memborgolnya di belakang.


Tak lama, wanita itu keluar dengan mengenakan blus dan celana jeans.


"Pak Kapolsek, saya mau menggeledah kamar itu" bisik Randy ke Kapolsek.


"Silahkan pak Randy. Kita ketemu di markas."


Kapolsek dan anak buahnya membawa Vino dan wanita itu ke dalam mobil patroli sedangkan Randy bersama dengan dua anak buahnya yang dibawa dari Jakarta, mulai menggeledah kamar sempit itu.


***


Anandhita sampai di rumah sakit bersamaan dengan Anarghya yang juga baru datang. Pria imut itu lalu memeluk sepupunya.


"Masih dikawal sama pengawal dari Oom Arya?" tanya Anarghya sambil melirik dua orang pengawal bayangan.


"Masih lah Ga. Mas David juga lebih ayem tahu aku dikawal kemana-mana."


"Aku sedang mengumpulkan bukti Dhit sama Oom Arya. Bukti langsung supaya di pengadilan nggak dipatahkan sama pengacara."


"Sayang, bang Travis pengacara ya. Coba kalau jaksa ... Pasti akan berbeda" gumam Anandhita.


"Sabar Dhit. Ngomong-ngomong, si polisi kampret kemana?"


"Masih istirahat. Semalam dia dan bang Jimbong serta Aa Toro memeriksa CCTV kasus Yulianto" jawab Anandhita.


"Apa sudah ketangkap siapa pembunuhnya.?"


"Bang Randy katanya ke Subang buat menangkap Vino alias Viola" ucap Anandhita. "Motifnya uang. Kata mas David semalam pas telpon aku, dia memeriksa buku tabungan Yulianto yang bank nya punya mas Bagas."


"Memang tabungannya Yulianto berapa?"


"Kalau digabungkan sekitar 1,5 milyar."


"Buat kita, uang segitu kecil tapi buat orang lain itu banyak" ucap Anarghya.


"Tapi demi uang segitu hasilnya apa? Malah penjara kan?"


Anarghya melirik. "Polisi kampret dan dokter kampret kompak ya" kekehnya.


"Dih, jahatnya ngatain aku gitu!" Anandhita memukul bahu sepupunya.


Anarghya tertawa. "Hati-hati Dhita." Adik Arimbi itu memeluk saudara kembar Adrian itu.


"Always."


***


David tersenyum mendengar laporan Randy yang berhasil menangkap Vino Hasto yang sedang bersama dengan pacarnya, cewek bernama Asih, warga lokal sana.


"Ponsel milik korban ada disini juga Dave dan seperti dugaan mu, semua dirubah baik sidik jari, face recognition sampai password semua e-banking. Ini aku sedang membuka semuanya di ruang interogasi dan menemukan sudah ada transaksi hampir 30juta yang masuk ke rekening pribadi Vino."


"Apa hasil interogasinya? Murni serakah kah?"


"Iya Dave. Vino bilang dia tidak sengaja melihat saldo ATM milik korban Yulianto saat membeli tiket kereta. Dari situ dia sudah merencanakan untuk melenyapkan korban dan menguasai uangnya."


Dave mengangguk. "Oke. Selesaikan dan bawa ke kejaksaan. Bukti tambahan ada di Toro."


"Oke Dave."


David menutup panggilannya. Sekarang tinggal membuat tiga orang psycho itu membusuk di penjara.


Suara ponselnya berbunyi lagi dan kali ini David tersenyum.


"Halo Pa."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️