My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Sakit



Taufan memarkirkan Tesla milik Natasha di parkiran apartemen gadis itu. Tanpa menunggu Taufan membukakan pintu untuknya, Natasha langsung keluar dari mobilnya dan menunggu pria itu keluar dengan wajah cemberut.


Taufan sendiri sedang berusaha menetralisir emosinya karena sindiran Natasha membuatnya kesal. Tapi kan memang kesalahan dirinya sendiri sih merasa insecure padahal belum juga dirinya maju berperang. Taufan merasa sangat menyesal membuang-buang waktu percuma.


Pelan dia membuka pintu mobil itu dan berjalan menghampiri Natasha yang menunggu dirinya menyerahkan kunci Tesla nya.


"Mana kunci mobilku?" tanya Natasha sambil menengadahkan tangan kanannya.


Taufan berdiri di hadapan Natasha yang tingginya masih di bawahnya. Taufan memiliki tinggi 183 cm sedangkan Natasha meskipun sudah memakai sepatu berhak lima Senti, masih dibawah Taufan. Pria itu mengira-ngira tinggi Natasha tidak sampai 170, sekitar 168-169 cm.


"Ini kuncinya, nona Natasha Neville" ucap Taufan dingin. Natasha lalu memasukkan kunci mobilnya ke dalam tasnya.


"Goodnight, Taufan Abisatya." Natasha kemudian berjalan meninggalkan Taufan tapi pria itu mencekal lengan Natasha.


"Kamu bilang aku bertindak seperti ini karena pak Quinn dan takut dengan ayahmu?"


Natasha menatap sengit ke Taufan. "Bukankah begitu, tuan Abisatya?"


"Apa kamu sudah tidak ada perasaan padaku Nat? Padahal kamu sangat menikmati ciumanku." Taufan menatap tajam ke arah wanita cantik di hadapannya.


Natasha mendekatkan wajahnya ke Taufan. "Apa hanya karena menikmati ciumanmu berarti aku masih punya perasaan padamu? Anggap saja kita sedang berakting untuk sebuah film romance. Bukankah aktingku sangat bagus?"


Rahang Taufan semakin mengeras mendengar ucapan Natasha yang tampaknya tidak perduli bahwa dirinya terhanyut dengan rasa bibir gadis itu. Dia malah mengatakan itu akting? Really Natasha? Mana ada akting jika badanmu gemetar menerima ciumanku?


"Sekarang, kamu lepaskan tanganmu dari lenganku atau...."


"Atau apa Nat?" Taufan semakin mendekati wajah Natasha namun setelahnya dia mengaduh karena gadis itu menendang tulang keringnya membuat cengkramannya terlepas.


"Masih bagus aku menendang kakimu, Fan. Entah kalau yang di tengah..."


"Kalau sampai yang ditengah... kamu hajar... kita tidak bisa punya anak nanti..." bisik Taufa menahan rasa sakit di tulang keringnya.


Wajah Natasha memerah. "Siapa juga yang mau punya anak sama kamu!" Gadis itu pun pergi meninggalkan Taufan yang masih kesulitan berjalan.


Siaaaalllaaann!!!


***


Natasha masuk ke dalam apartemennya dan segera menguncinya. Meskipun apartemen miliknya termasuk aman tapi gadis itu tetap waspada bahkan di laci nakas sebelah tempat tidurnya terdapat sebuah Glock di dalamnya.


Gadis itu lalu melepas semua jaket, blazer dan sepatunya. Setelah menyimpan dengan rapi, Natasha mengambil baju tidurnya dan menuju kamar mandi untuk berendam air panas. Walaupun jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam, Natasha tetap ingin membersihkan dirinya.


Tak lama gadis itu tampak sudah segar mengenakan piyamanya yang satu stel berupa kaos dan celana panjang. Natasha membuat hot choco seperti biasanya, rutinitas sebelum tidur karena baginya menenggak hot choco membuatnya tenang dan mempermudah dirinya untuk tidur.



Natasha membuka pintu yang mengarah ke balkon apartemennya dan menikmati pemandangan di hadapannya. Sambil duduk di kursi teras yang diletakkan disana, gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


Wajah cantiknya tampak polos tanpa makeup yang sudah dibersihkan saat mandi tadi. Natasha adalah tipe yang tidak malas membersihkan wajahnya karena dia tahu mudah berjerawat jika lupa membersihkan makeup.



Tanpa disadarinya, sepasang mata hitam memperhatikan dirinya dengan sangat intens.


***


Taufan mengoleskan salep anti nyeri ke tulang keringnya yang sekarang tampak membiru. Beneran kacau nih Natasha, tega bikin kakiku njarem.


Pria itu menoleh ke arah apartemen Natasha dan tersenyum melihat gadis itu berada di balkon apartemennya sembari menyesap hot choconya.


Rupanya rutinitas nya seperti itu.


Taufan masih memandangi obyek yang membuatnya kesal dan wajahnya berubah kesal ketika Natasha menerima telpon dari seseorang dan wajahnya berubah bahagia.


Siapa yang menelpon Natasha malam-malam begini?


***


Sedikit bingung karena hingga jam 7.30 gadis itu tidak keluar, akhirnya Taufan pun masuk ke dalam lobby apartemen.


Seorang resepsionis disana menyapa Taufan ramah tapi setelah mengetahui siapa dirinya, sang resepsionis berubah menjadi datar.


"Maaf tuan, tapi Miss Neville sudah meminta kami untuk tidak memberitahukan nomor apartemen beliau."


"Please, saya sudah menunggu hampir satu jam tapi Natasha tidak kunjung keluar dari sini. Saya juga sudah berusaha menghubungi dirinya tapi langsung ke voice mail" pinta Taufan dengan wajah memelas.


Resepsionis itu tampak ragu-ragu karena tahu rutinitas Natasha memang jelas dan kali ini cukup terlambat bagi gadis itu untuk berangkat kerja. Melihat wajah bingung pria yang berdiri di hadapannya, si resepsionis tampak tidak tega dan akhirnya berusaha menghubungi Natasha baik ponsel maupun telpon apartemen namun tetap tidak ada jawaban.


"Tidak ada jawaban tuan Abisatya."


"Kan saya sudah bilang. Please, saya takut terjadi sesuatu padanya."


Resepsionis itu tiba-tiba merasakan sesuatu tidak beres yang akhirnya memutuskan untuk mengambil kunci cadangan apartemen Natasha yang terletak di lemari besi kecil. Tidak hanya kunci apartemen Natasha saja disana tapi juga semua penghuni apartemen.


"Mari tuan Abisatya, kita ke apartemen Miss Neville." Resepsionis itu pun menuju lift dengan diikuti oleh Taufan.


Di dalam lift Taufan berdoa dalam hati tidak ada yang terjadi pada gadis itu karena semalam setelah Natasha menerima telepon, dia langsung masuk ke apartemennya dan lampu apartemennya pun padam.


Taufan pun masuk ke dalam apartemennya dan tidur lelap.


Kini dirinya dan gadis resepsionis itu tiba di lantai delapan tempat apartemen Natasha tinggal. Resepsionis itu pun menempelkan kunci cadangan apartemen Natasha dan bergegas membukanya.


Tampak apartemen itu sepi dan masih gelap karena gorden masih tertutup rapat dan untuk pertama kalinya Taufan melihat betapa rapihnya apartemen Natasha.


"Nat? Natasha?" panggil Taufan.


"Miss Neville, ini Amy bagian resepsionis. Anda dimana?" panggil gadis resepsionis itu.


Taufan kemudian membuka pintu kamar Natasha dan dia terkejut melihat gadis itu meringkuk dengan keringat sejagung-jagung. Era*Ngan kesakitan terdengar di telinga Taufan.


"Astaghfirullah! Natasha! Kamu kenapa sayang?" Taufan segera memeriksa gadis itu.


"Sa...kit" bisiknya.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Taufan lalu menggendong Natasha. "Amy kan? Tolong bantu saya bawa tas Natasha dan kita ke basement!"


"Astaga! Miss Neville kenapa?" seru Amy panik.


"Sudah, ikut saya! Jangan lupa kunci kamar Natasha!" Taufan berjalan sambil menggendong Natasha ala bridal style menuju lift.


Amy pun mengikuti Taufan setelah mengunci pintu apartemen dan masuk ke dalam lift yang menuju parkir basement.


"Ambil kunci mobil Natasha dalam tasnya dan tolong buka!" perintah Taufan ke Amy yang menemukan kunci Teslanya dan membuka kunci pintunya dan gadis itu membukakan pintu agar Taufan bisa meletakkan Natasha ke dalam mobil.


Setelahnya Taufan mengambil tas Natasha yang masih dipegang Amy.


"Saya akan ke rumah sakit. Jika asistennya Poppy McGee telpon, suruh hubungi saya" ucap Taufan yang masuk ke dalam Tesla dan bergegas keluar menuju rumah sakit.


***


Yuuuhhuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️