My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Arya dan Amberley



Jin Kawashima tiba di Singapura setelah menempuh perjalanan delapan jam dan langsung menuju Marina Bay untuk menginap disana karena simposium yang diadakan saat itu diselenggarakan disini.


Setelah masuk ke dalam kamarnya, Jin mulai memasang semua peralatan hackernya. Pria dingin itu bukannya tidak tahu kalau keluarga besar Fayza Sky jago hacker tapi karena ini penyelidikan rahasia, dia harus benar-benar ala mission impossible.


Ditemani dengan kopi favoritnya, Jin pun mulai bekerja.



visualnya Jin Kawashima


***


David dan Randy menuju rumah sakit Bhayangkara dan langsung ke bagian koroner. Sesampainya disana, mereka melihat Dokter Farah sedang bersama seorang perawat.


"Selamat pagi dokter Farah" sapa Randy ramah seperti biasanya.


Dokter Farah menoleh dan wajahnya tersenyum terpaksa. "Pagi Iptu Randy, pagi Let David."


"Bisa kita bicara secara pribadi?" pinta David serius.


Dokter Farah tampak sedikit panik. Apa David mau memarahi aku karena aku hendak menyerang kekasihnya?


"Bukan soal Anandhita kok tapi soal lain" ucap David tenang yang membuat dokter Farah sedikit menghembuskan nafas lega.


"Bisa Let. Ayo ke ruangan itu." Dokter Farah mengajak ke sebuah kantor yang terdapat di dalam ruang dokter yang memang digunakan untuk tempat para dokter menemui para keluarga korban.


David dan Randy pun berjalan mengikuti dokter itu.


***


"Dokter Farah, apakah anda familiar dengan korban Calista?" tanya Randy sambil menunjukkan foto Calista saat masih hidup.


"Tidak, Randy. Memangnya kenapa?"


"Kalau Cecep Sutisna, bagaimana?" tanya David dingin sambil memberikan foto Cecep saat masuk akpol. Memang masih tampak culun tapi tampak miripnya dengan Calista.


Dokter Farah melongo. "Cecep Sutisna?"


"Iya, dia kan sepupu anda, dok" ucap David lagi. "Dia pernah mendaftar akpol di Semarang, angkatan kami."


"Bagaimana... kalian tahu?" bisik dokter Farah panik.


"Kami tuh polisi dan detektif, dok. Masa lupa?" kekeh Randy. "Apapun bisa kami cari tahu. Apapun."


Dokter Farah menghela nafas panjang. "Iya, Cecep adalah sepupuku tapi sudah tidak diakui oleh keluargaku karena perilakunya yang menyimpang."


"Lalu apa yang membuat dirinya seperti itu?" tanya Randy penasaran.


"Dari kecil memang Cecep sudah berbeda. Dia tidak suka memakai celana seperti halnya anak laki-laki pada umumnya. Lalu saat usia 18 tahun, oleh almarhum Oom, ayah Cecep, dia dipaksa masuk ke akademi kepolisian supaya bisa merubah menjadi... manly." Dokter Farah terdiam sejenak. "Tapi dia malah kabur dari akpol Semarang."


"Kami tahu itu dok." Randy mengangguk.


"Apakah setelah itu, anda bertemu lagi dengannya?" tanya David.


Dokter Farah menoleh ke arah David yang memasang wajah datar.


"Tidak."


"Apakah anda mengikuti simposium di Singapura tanggal lima sampai sembilan Maret lalu?" tanya David lagi membuat dokter Farah mengambil ponselnya.


"Saya memang berada di Singapura pada saat itu" dokter Farah membuka ponselnya. "Tapi saya tidak ikut simposium karena membesuk mama saya yang opname terkena typus."


David mengangguk.


"Kapan anda kembali ke Jakarta setelah membesuk mama anda?" tanya Randy.


"Saya kembali ke Jakarta tanggal 11 Maret nya karena saya ingat tanggal 12 ada pertemuan forensik di Jakarta."


David mencatat lagi. "Dokter Farah, apa anda memiliki saudara laki-laki atau perempuan?"


"Tidak, saya anak tunggal. Kenapa let?" tanya Dokter Farah bingung.


"Kalau pun saya punya, apa urusannya dengan anda Let?" sahut Dokter Farah ketus.


"Siapa tahu ada doppelganger. Bukannya kita memiliki tujuh doppelganger di dunia ini? Konon katanya" cengir Randy.


"Tapi saya adalah orang yang tidak percaya dengan mitos doppelganger tuh!"


Randy tersenyum tipis.


"Tampaknya kita sudah selesai tanya jawabnya. Kalau masih ada yang kurang, nanti aku tanyakan lagi ya dok" senyum David manis yang membuat wajah dokter Farah berubah lebih relaks.


"Anytime let" ucapnya manis.


David dan Randy pun berpamitan dan berjalan menuju parkiran. Di dalam mobil, keduanya saling berpandangan.


"She's lying!"


***


Arya Ramadhan malam ini baru saja tiba dari perjalanan bisnis ke London ditemani dengan istrinya, Amberley. Anak buahnya mengatakan bahwa keponakannya Fayza sedang berada di Jakarta karena suaminya, Hideo, ada urusan bisnis dengan Bima Baskara dan Radit Hermawan.


"Hideo dan Fayza di Jakarta?" tanya Amberley ke arah suaminya, suami yang selalu dijulidin oleh kompor. Sampai-sampai Amberley meminta agar Arya dilarang keras menyentuh kompor.


"Iya, katanya dia ada bisnis dengan Bima dan Radit" jawab Arya. "Kita datang, Adrian malah minggat ke Melbourne! Katanya liburan tapi kok ya masih kerja saja sih tuh anak?"


"Nggak usah ngomel mas. Nanti ubannya tambah banyak" kekeh Amberley.


"Ini tuh kita salah deh, Amber. Pulang ke Jakarta kesubuhan. Masa jam dua pagi sampai sini?" sungut Arya.


"Siapa hayo yang kemarin nggak mau pisah dari cucu?" kekeh Amberley. Arya memang gemas dengan Nadhira atau Dira, putri Rajendra dan Aruna.


"Habis, Dira gemesin! Kapan tuh si polisi kampret lamar Dhita? Kelamaan urus kasus bener deh!" Arya pun masuk ke dalam mobil Mercedes nya bersama Amberley yang disopiri oleh pengawal nya.


"Lha kok malah bawa-bawa David. Kan butuh proses juga mas. Nggak mudah menikah dengan polisi, ada prosedurnya juga."


"Harusnya si David keluar sajalah dari kepolisian, urus tuh perusahaan aku kan sama-sama soal keamanan juga. Setidaknya jam kerjanya jelas."


"Jangan gitu mas. David kan memang ingin jadi polisi. Mas kok egois sih?" ucap Amberley lembut.


Dua mobil mewah itu berjalan melewati jalan protokol dan ketika berhenti di lampu merah, Arya melihat sebuah Nightclub yang menurutnya isinya maksiat semua. Tapi entah kenapa dirinya seperti ditarik untuk melihat halaman parkir Club itu.


Tak lama berjalan seorang waria menuju parkiran dan seseorang mengikutinya. Waria itu berbalik seperti ada yang memanggilnya dan sedetik kemudian orang yang memanggilnya itu memberikan tembakan tiga kali ke waria itu.


Arya berteriak untuk berhenti dan meminta sopir segera menuju parkiran Nightclub itu. Rupanya mobil belakang yang berisi dua pengawal nya pun melihat kejadian itu lalu segera mengejar pelaku yang masuk ke dalam mobil Honda City Hatchback hitam dan melaju kencang.


Arya segera membuka pintu dan bersama Amberley menuju waria yang sedang merenggang nyawa.


"Bawa ke mobil! Kita ke rumah sakit sekarang!" perintah Arya. Ketiga pria itu menggotong waria yang memiliki tinggi diatas rata-rata.


Setelah masuk, Arya dan Amberley menahan pendarahan dengan syal dan jaket mahal mereka.


"Stay with us! Stay with us!" pinta Arya panik sedangkan Amberley menatap wajah waria itu dengan seksama karena posisi kepalanya berada di pangkuannya.


"Astaghfirullah! David?" serunya panik.


Arya menoleh. "David? Gery, cepat ngebut! Rob, hubungi Anarghya!"


Ya Allah! Kenapa calon menantu aku jadi waria begini?


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️