My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Tole Dan Denok



Anandhita dan David kini berada di dalam kamar pink -- istilah yang digunakan David -- sembari tiduran. Rasa lelah seharian menemui para tamu undangan membuat keduanya diserang rasa kantuk. Apalagi perut kenyang setelah makan malam sejam yang lalu.


"Dit..." panggil David.


"Iya mas" jawab Anandhita sambil terpejam.


"Aku kok ngantuk ya?" gumam David.


"Tidur saja ya mas. Unboxingnya besok nggak papa" sahut Anandhita sedikit berbisik, merasa matanya sulit terbuka.


"Lagian seumur hidup sama kamu kan. Jadi kita... Dit? Didit?" David menoleh ke arah istrinya yang sudah terlelap. "Lha beneran tidur."


David mencium kening Anandhita. "Sleep tight baby." Pria itu tidur miring sambil memeluk istrinya dan tak lama ikut terlelap.


***


Taufan termenung di balkon apartemennya sembari merokok dan minum kopi hitam tanpa gula. Pikirannya sangat kacau teringat bagaimana wajah terluka Natasha yang dengan terang-terangan menyatakan menunggu dirinya selama dua puluh tahun.


Aku tidak menyangka gadis itu masih menyimpan janjiku yang kubuat agar dia tidak menangis tapi aku sangat terpesona dengan wajah cantiknya.


Taufan teringat usai bertemu dengan Natasha, dirinya tidak pernah bertemu lagi karena ayahnya dipindahkan ke Surabaya. Hingga Taufan menyelesaikan pendidikannya fakultas teknik fisika di ITS, dia melamar bekerja di PRC group Surabaya dan Giandra Otomotif Co Jakarta.


Ternyata dirinya diterima di Giandra Otomotif Co Jakarta yang mengharuskannya pindah ke ibukota. Disana Taufan bekerja dari bawah, dari hanya staff biasa hingga bisa menjadi asisten Julian Handoyo. Dan sekarang dia menjadi asisten Hoshi. Sejujurnya setelah dia menyibukkan diri dengan bekerja, dia melupakan janjinya pada Natasha.


Selain dia merasa tidak pantas untuk putri cantik Mark Neville, dia juga tidak yakin Natasha masih mengingatnya. Beneran kamu cantik sekali besarnya. Taufan menghembuskan asap rokoknya. Ya Allah, kalau memang aku bersalah melanggar janjiku, berikan kesempatan untuk memperbaiki.


Lamunan Taufan buyar ketika suara ponsel berbunyi dan wajahnya tampak bingung ketika membaca siapa yang menelpon. Paramudya Quinn.


"Selamat malam tuan..."


"Kamu dimana?" bentak Hoshi.


"Saya di apartemen, tuan Quinn."


"Kamu ke rumah sakit PRC. SEKARANG!" Hoshi mematikan panggilannya.


Taufan pun bergegas berganti baju, mengambil dompet dan Ponselnya serta kunci mobilnya. Ya Tuhan, semoga tuan Quinn tidak kenapa-kenapa.


***


Taufan berlari di sepanjang koridor rumah sakit mencari Hoshi namun tidak bisa menemukannya sampai dia melihat bossnya berjalan bersama Natasha. Ada yang berbeda, gadis itu mengenakan kruk.


Dia kenapa?


"Tuan Quinn" sapa Taufan. "Nona Neville."


"Kamu tuh!" Hoshi menatap judes ke Taufan. "Apa kamu tidak tahu kalau Natasha kecelakaan?"


Taufan melongo. Kecelakaan? Kapan?


"Sudahlah mas, dia kan memang nggak tahu" jawab Natasha dingin.


"Kapan kecelakaannya Nat?" tanya Taufan bodoh.


"Nat? Seriously?" Hoshi mendelik mendengar adiknya dipanggil nama. "Natasha, jangan bilang pria ini..."


"Memang dia! Tapi dia tidak ingat! Aku sudah malas melihatnya! Percuma selama ini aku menunggu tapi dianya nggak ada usaha!" Natasha berjalan tertatih dengan kruk. "Ayo pulang! Lagian kenapa mas Hoshi manggil dia sih?"



"Kan kamu tadi pulang bareng Taufan dan mas nggak habis pikir kenapa Taufan sampai tidak tahu kamu kecelakaan. Ternyata..." Hoshi memegang pelipisnya. "Taufan! Kamu hutang penjelasan sama saya! Jelaskan semuanya. BESOK!" Hoshi lalu membantu adiknya berjalan.


Taufan masih termangu. Kok aku tidak tahu Natasha kecelakaan.?



Nah lho bang! Bakalan kena Omelan cabe rawit dah!


***


David terbangun ketika merasakan sebuah kaki membelit kakinya dan menyentuh adik kecilnya tanpa sengaja. Duh, mana si tole bangun lagi! Kampreettt! Aku kudu piyeee Iki? David melirik ke arah Anandhita yang masih terlelap sambil memeluk erat dirinya.


Pria itu melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul dua pagi. Serangan menjelang fajar gimana? Mumpung kan? David menyeringai jahil.


Perlahan David mencium kening, pipi, bibir Anandhita sekilas lalu turun hingga ke leher yang harum Jasmine lalu mendekati dadanya. Suara gumaman Anandhita membuat David mengehentikan acara gerilyanya.


Mata coklat Anandhita terbuka dan terkejut melihat suaminya freeze di atas dadanya.


"Mas...ngapain?" tanya Anandhita dengan suara serak.


"Bikin anak" jawab David cuek.


"Hah?" Anandhita melotot. Nggak mesra blas!


"Si Tole bangun nih sayang, mau kulonuwun ke rumahnya Denok" jawab David asal.


"Iiissshhh suka-suka aku lah yang punya Tole!" Anandhita semakin terbahak. Unboxing macam apa ini?


"Yakin si tole mau kulonuwun ke Denok?" goda Anandhita.


"Yakin lah! Masa sudah siap siaga begini kok dibilang nggak yakin?" David menunjukkan tolenya yang sudah berdiri tegak sempurna.


"Oh astaga. Untung istrimu dokter ya mas, jadi tahu anatomi organ tubuh manusia. Perlu aku jabarkan mas?" kekeh Anandhita semakin gemas ingin menggoda David.


"Nggak usah! Aku nggak butuh teori yang penting praktek!" David lalu Melu*mat bibir Anandhita. Tanpa lama gaun tidur Anandhita terlepas dari tubuhnya dan David mengagumi tubuh istrinya.


"Perfecto, sayang."


Dan subuh itu, di sepertiga malam, David dan Anandhita melakukan penyatuan tertinggi dalam kehidupan suami istri. David sendiri bersyukur dirinya dan Anandhita sama-sama menjaga diri hingga rasanya saat melakukannya pertama kali, sangat-sangat spesial dan mengesankan.


***


"Mas, udah ah! Capek ini! Alamat aku besok jalannya model penguin deh" gerutu Anandhita setelah mereka selesai berbuat ketiga kalinya. Bahkan azan subuh mulai sayup-sayup terdengar.


"Biarin lah, kan enak tho?" seringai David sambil mencium leher istrinya.


"Mas Adrian pasti ngeledek aku habis-habisan, tahu!"


"Makanya Ndang rabi tuh Adrian Ben ngrasakke sing inuk-inuk" gelak David durjana.


"Inuk-inuk? Ginuk-ginuk kali mas."


"Inuk-inuk itu beyond dari enak-enak, Didit. Bukannya tadi inuk?"


Anandhita melongo. Kumat deh slengeannya.


"Mandi wajib yuk" ajak David. "Keburu papa ribut sholat subuh berjamaah."


"Papa paling nggak bakalan bangunin kita. Kayak nggak pernah merasakan malam pertama saja sih?"


***


"Kalian sudah unboxing ya?" ledek Adrian dengan wajah usil saat mereka bertemu hendak ke ruang makan. Adrian melihat adik kembarnya berjalan dengan langkah berbeda.


"Kalau iya kenapa? Masalah Yan?" sahut David cuek.


"Oh Astagaaa! Masalah lah! Kenapa nggak dilakukan di apartemen?" gerutu Adrian. "Lagian lu juga brutal sih! Adik gue sampai susah jalannya tahu!"


"Eh nggak brutal kok, penuh kelembutan...awalnya" gelak David durjana dan mendapatkan keplakan dari Anandhita yang kesal suaminya kumat dodolnya.


"Dasar polisi kampret!" umpat Adrian.


"Ndang rabi, Yan. Enak lho!"


"Brengsek lu, Dave!"


Ketiganya pun sudah tiba di ruang makan. Arya dan Amberley yang melihat David dan Anandhita tampak berbeda hanya tersenyum.


"Kamu sudah unboxing, Dave?" ledek Arya.


"Astaghfirullah! Papa pun tahu?" Anandhita memegang pelipisnya.


"Hei! Kalau nggak gitu, nggak bakalan nongol lu berdua!" sahut Arya cuek. Amberley hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Welcome kerusuhan di pagi hari.


***


Taufan kini berada di ruang kerja Hoshi yang menatap asistennya dengan tatapan tajam.


"Sekarang jelaskan padaku. Apa yang terjadi kemarin?" suara Hoshi terdengar mengintimidasi.


Taufan hanya diam saja.


"Kamu pilih berhadapan dengan aku atau Oom Mark?"


Keringat dingin mulai terbit di dahi Taufan.


Simalakama benar dah!


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️