
Taufan dan Tristan mendatangi KBRI di London untuk memperpanjang visa kunjungan Taufan selama Natasha masih harus membutuhkan perawatan pasca operasi usus buntunya. Setelah mengurus semuanya selama dua hari dan mendapatkan jaminan dari Tristan, akhirnya keduanya pun kembali ke Manchester.
Natasha menyambut keduanya saat datang ke apartemen dengan senyum manisnya. Melihat wajah Taufan dan Tristan yang santai, Natasha bisa menebak bahwa pengajuan perpanjangan visa Taufan diterima baik oleh KBRI maupun pihak Inggris.
"Taufan mendapatkan ijin tinggal di Manchester enam bulan lagi jadi kalian tenang saja. Menurut dokter kan kamu sekitar dua bulan lagi oke kan?" Tristan menatap sepupunya.
"Tapi Taufan kan hanya cuti tiga bulan sama mas Hoshi." Natasha menatap Taufan.
"Kalau aku dipecat pak Quinn, sudah ikhlas aku." Taufan tersenyum sedih.
"Eh! Aku tidak mau ya punya laki pengangguran!" pendelik Natasha. "Akan aku hubungi mas Hoshi."
"Sabar Nat. Nanti kita bicarakan lagi" bujuk Taufan. Dia tidak mau ribut dengan Natasha soal seperti ini.
Natasha pun terdiam. Tristan memeluk sepupunya agar jangan terlalu emosi.
"Nanti ngobrol dengan mas Hoshi baik-baik ya" bujuk Tristan.
***
"Jadi si Badai Topan mau ekstensi sampai total enam bulan di Manchester?" tanya Hoshi ketika Natasha menghubungi via webcam.
"Iya mas. Aku diperkirakan akan benar-benar bisa pulih 100% sekitar dua bulan lagi" jawab Natasha apa adanya.
"Daripada kamu bingung, ada lowongan kosong nggak di PRC group Manchester?"
"Manajer marketing aku hendak pensiun sebulan lagi."
"Kamu sudah ada penggantinya?" tanya Hoshi.
"Ada beberapa kandidat tapi aku dan Poppy McGee masih belum memutuskan."
"Masukkan saja Taufan."
"Nepotisme dong mas."
"Kamu test saja lah semua. Jadi fair kan? Kamu open offering job nggak?"
"Iya mas. Aku posting di beberapa web job."
"Masukkan saja Taufan. Kalau memang lolos berarti kan fair, Nat. Nanti aku suruh Hani buat surat rekomendasi dari Giandra Otomotif Co. Suruh Taufan buat CV standard PRC dan Giandra. Kapan kamu mulai open job vacancy itu?"
"Poppy baru buka seminggu ini. Karena rencananya aku hanya open buat dua Minggu."
"Ya sudah, besok aku suruh Hani buat suratnya dan kamu suruh Taufan buat CV nya."
Natasha menatap kakak sepupunya yang posisi duduknya tidak nyaman.
"Mas Hoshi kok duduknya begitu?" tanya Natasha.
"Nih lihat!" Hoshi mengarahkan laptop nya dan tampak dua putra putrinya tidur dengan enaknya di paha si mulut cabe. Pria itu duduk bersandar sofa di ruang tengah diatas karpet tebal.
"Astagaaa!" Natasha cekikikan melihat dua keponakannya Valentino yang biasa dipanggil V dan adiknya Juliet yang biasa dipanggil J, tidur nyenyak banget. "Mbak Rina memang kemana mas?"
"Mbak mu lagi ngerawat Oma. Kan kamu tahu sendiri, Oma sekarang harus dilayani karena sudah sepuh" senyum Hoshi. "Untung Oma mau ikut sama kita, soalnya kalau ikut mom dan dad kasihan ditinggal-tinggal. Kalau disini, Rina kan bisa kerja di rumah sambil ngopeni Oma. Paling pergi antar jemput V ke sekolah."
"Oma Ayame pasti sepi nggak ada Opa Eiji."
"Kadang Oma suka ngelindur ngajak ngobrol Opa seolah Opa masih ada. Gimana ya Nat, mereka bersama cukup lama lalu dipisahkan oleh maut. Sama kan dengan Oma Rhea sampai shock berat waktu opa Duncan nggak ada."
"Iya lho mas. Aku sampai takut waktu itu Oma Rhea ikut nyusul Opa Duncan. Secara seumur hidup Oma Rhea sudah sama Opa Duncan."
"Iya mas. Aku bersyukur dilahirkan di keluarga kita mas. Keluarga yang selalu akur dan guyub."
"Warisan pendidikan dari para opa, Oma, mom dan dad turun temurun itu membuat kita semua menjadi pribadi yang kuat, care dan gesrek" kekeh Hoshi.
"Kalau gesrek, Opa Eiji tidak ada duanya."
Hoshi terdiam. "Tiba-tiba aku rindu opa gesrekku."
"Maaf ya mas, bikin mas Hoshi sedih." Natasha menatap sedih.
"Nggak papa Nat. Wajar lah, mas Hoshi kan banyak story dengan opa Eiji tapi yang jelas mas Hoshi senang di akhir-akhir hidup Opa, kita buat bahagia. Dan Opa meninggalnya juga nggak sakit, tidur nggak bangun lagi dengan wajah tersenyum. Aku curiga jangan-jangan dijemput Opa Javier dan Opa Duncan jadi ada teman durjana disana." Hoshi mengusap matanya yang sedikit mengembun.
"Mas Hoshi..."
"Sekarang mas Hoshi tahu rasanya kehilangan seperti Tante Kaia kehilangan Opa Edward dan Oma Yuna."
"Tapi Opa Edward dan Oma Yuna kan meninggalnya tragis mas. Beda sama Opa Eiji."
"Mas tahu tapi rasa kehilangan itu tetap saja sama meskipun rasa kehilangan Tante Kaia dibalut tragedi."
"Aku salut dengan Tante Kaia. Berani membuat gosong orang. Itu jadi cerita legend."
Hoshi tersenyum. "Jangan lupa, Daddyku main grenade launcher buat hancurin istananya Tante Thara."
"Ah aku lupaaa!" gelak Natasha.
***
Taufan akhirnya mengirimkan CV yang diminta Natasha serta surat rekomendasi dari Hoshi pun sudah masuk di emailnya.
Seminggu setelahnya, Taufan mendapatkan panggilan dari PRC group Manchester untuk melakukan serangkaian tes dan wawancara.
Taufan pulang dengan wajah bahagia bisa menjawab lancar semuanya. Hasil didikan di Giandra Otomotif Co dan Hoshi, membuatnya percaya diri.
Ketika tiba di apartemen, Taufan terkejut melihat Natasha menangis tersedu-sedu. Taufan langsung memeluk gadis itu.
"Kenapa Nat? Ada apa?" tanya Taufan panik.
"Kita ... pulang... ke Jakarta..." ucap Natasha sambil menangis.
"Ada apa? Iya kita pulang tapi ada apa?"
"Oma Ayame ... Oma Ayame meninggal" isak Natasha.
Taufan memeluk erat gadis itu.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Maaf terlambat
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️