My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Perasaan Taufan



Taufan mengantarkan Natasha untuk kontrol hasil jahitan operasinya serta memeriksa apakah terjadi peradangan atau segala sesuatu yang bisa terjadi disana.


Selama ini Natasha hanya mengeluhkan ketidak nyamanan pasca operasi di jahitannya karena sering membuat tidurnya tidak enak. Taufan hanya bisa mengucapkan sabar karena memang itu termasuk efek samping operasi usus buntu.


Setelah memarkirkan Tesla milik Natasha, keduanya pun masuk rumah sakit dan menunggu di ruang tunggu.


Taufan melihat wajah Natasha yang sedikit mengernyitkan dahinya.


"Sakit Nat?" bisiknya lembut.


"Sengkring gitu" ucap Natasha apa adanya.


"Nanti kamu bilang ke dokternya ya karena kamu yang merasakan." Taufan memeluk Natasha dan memberikan ciuman di pucuk kepalanya.


"Tentu saja aku akan bilang ke dokternya, Taufan!" sahut Natasha judes. "Aku paling sebal dengan rasa tidak nyaman seperti ini!"


Taufan hanya mengusap bahu gadis itu. "Iya sayang."


Seorang perawat memanggil nama Natasha dan di dalam, gadis itu menceritakan rasanya pasca operasi. Dan dokter pun membuka perban untuk melihat bekas jahitan pasca operasi.


"Miss Neville, ini jahitan anda sudah mulai mengering tapi memang karena masih masa pemulihan, jadi masih terasa tidak nyaman. Umumnya membutuhkan waktu tiga sampai enam bulan untuk sembuh total. Dan untuk bekas operasi anda, Thanks God, tidak ada abses atau pendarahan" ucap dokter itu. "Perbanyak makan makanan berserat tapi jika anda memilih salad, saya minta dressingnya jangan yang terlalu berlemak dan hindari makanan bergas seperti kol, brokoli, selada serta kacang-kacangan."


"Daun bayam atau wortel boleh kan dok?" tanya Taufan.


"Boleh. Jika anda ingin membuat sup, saya minta yang light dan jangan terlalu asin."


Dokter itu memberikan beberapa daftar makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan dua Minggu ke depan untuk kontrol kembali.


Natasha dan Taufan pun berterima kasih pada dokter itu dan keluar dari ruang periksa. Keduanya kini berjalan menuju parkiran mobil.


"Kamu ingin apa?" tawar Taufan.


"Tidak ada. Ayo kita ke Old Trafford!" senyum Natasha.


"Hah?" seru Taufan yang sedang memasukkan alamat via GPS.


"Klik Sir Matt Busby Way, kita ke Old Trafford! Kamu belum pernah masuk kan?"


Taufan melihat wajah semangat Natasha.


"Tapi, apa boleh mendadak begini?" tanya Taufan.


"Siapa yang melarang anggota keluarga yang memiliki saham 49% di Manchester United?" seringai Natasha.


Oh God aku lupa! Beberapa tahun lalu keluarga Neville membeli saham Manchester United ( Baca Love and Revenge of Mr Mafia chapter Bagas Ke Turin ).


***


Mobil Tesla itu pun tiba di stadion Old Trafford, stadion kebanggaan penggemar Setan Merah aka Red Devils. Di Manchester sendiri ada dua klub yang sangat terkenal di dunia, Manchester United dan Manchester City. Jika Manchester United seragamnya bewarna merah, Manchester City seragamnya biru muda.


Seorang petugas yang melihat kedatangan Natasha mengangguk hormat. Gadis itu lalu mengajak Taufan berkeliling Old Trafford bahkan hingga ke lapangan dimana sedang ada pembersihan disana.



Taufan diberikan ijin khusus untuk boleh memotret lapangan yang selalu menjadi impiannya.


"Wow Nat! Aku tidak menyangka bisa fullfil my bucket list!" seru Taufan bahagia.


Natasha hanya tersenyum melihat Taufan seperti anak kecil heboh kesana kemari.


"Miss Neville, anda sudah baikan?" tanya petugas yang mendampingi Natasha dan Taufan.


"Alhamdulillah. Terimakasih sudah bertanya, Freddy. Tapi apa yang kamu tahu?" Natasha menatap petugas yang sudah berumur itu.


"Mr Tristan yang cerita anda kena radang usus buntu dan harus dioperasi."


"Iya Freddy, aku harus operasi."


"Saya dulu juga mengalaminya dan butuh waktu empat bulan untuk pulih. Saya harap, anda tidak selama itu" senyum Freddy. "Apakah pria itu kekasih anda, Miss?"


Natasha menoleh ke arah Taufan yang masih heboh mencoba duduk di kursi pelatih di tempat para pemain duduk selama pertandingan.


"Dia seperti anak kecil yang mendapatkan permen satu pabrik."


Natasha terbahak. "Dia memang seorang Red Devils."


***


Wajah Taufan tampak berbinar-binar saat melihat Manchester United museum. Dia sampai - sampai terharu melihat piala liga Champions yang dimenangkan treble.



"Ya ampun Nat... Aku tidak pernah menangis tapi hari ini aku ingin menangis karena semua impianku dari kecil akhirnya terwujud." Taufan memandang sekeliling museum itu. Mata hitamnya tampak berkaca-kaca.


Natasha hanya tertawa geli melihat bagaimana emosional nya Taufan.


"Ya Allah Fan. Kamu gini saja nangis." Natasha cekikikan.


"Kamu tidak tahu bagaimana aku selalu bermimpi bisa berangkat ke Manchester lalu ke Old Trafford. Aku sampai menabung demi kemari tapi ternyata aku kesini sekalian bersama calon istri aku. Very very unpredictable!" Taufan menatap mesra Natasha. "Dan calon istri aku adalah pemegang sahamnya."


Natasha hanya menggelengkan kepalanya.


***


Tristan yang usai latihan di Carrington, mendengar sepupunya datang ke Old Trafford langsung menuju kesana.


Sesampainya di Old Trafford, Tristan melihat bagaimana telatennya Taufan dalam memisahkan makanan yang mereka pesan di Red Cafe.


"Hai" sapa Tristan sambil mencium pipi sepupunya. "Halo Taufan."


"Halo Tristan" balas Taufan sambil tersenyum.


"Gimana hasil kontrol hari ini?" tanya Tristan sambil duduk di sebelah Natasha.


Seorang pelayan mendatangi mereka dan Tristan memesan kopi hitam.


"Hasil jahitan Alhamdulillah baik, tidak ada infeksi tapi memang masa pemulihannya yang agak lama, bisa tiga sampai enam bulan" jawab Natasha sambil menatap wajah tampan sepupunya.


"Makanya tho, kalau memang sudah tidak nyaman, harusnya diperiksa bukan dibiarkan. Beruntung usus buntumu baru radang belum sampai pecah. Malah bisa-bisa kamu harus makan bubur enam bulan!" omel Tristan.


"Ya nggak sampai segitunya lah, Tan" sungut Natasha kesal.


"Tapi kan bisa saja parah kamu!" suara Tristan terhenti ketika pelayan datang membawakan pesanan kopi hitamnya.


Natasha hanya melengos.


"Fan, kamu tidak mengajukan perpanjangan visa disini? Bukannya kamu hanya tiga bulan disini dengan visa berlibur?" tanya Tristan ke Taufan.


"Besok Senin aku akan ke KBRI" jawab Taufan.


"Jika kamu butuh sponsor atau penjamin kamu memang berlibur kemari, aku akan senang hati menjadi sponsor kamu." Tristan menatap Taufan sembari menyesap kopinya.


"Benarkah?" Taufan tampak tidak percaya jika salah satu pemain Manchester United yang terkenal bersedia menjadi sponsor dan penjamin dirinya selama di Manchester.


"Iyalah, karena Natasha lebih baik bersama kamu. Bukankah kamu juga sudah minta ijin ke Oom Mark?" seringai Tristan.


Natasha melongo. "Kamu sudah minta ijin ke Daddy?"


"Aku tidak mungkin tidak minta ijin pada Mr Neville, Nat. Bisa digantung di patung Sir Matt Busby kalau aku dengan seenaknya tinggal bersama kamu berdua di Apartemen."


Natasha terdiam.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️