
"Dhita, kamu masih lama disini?" tanya Arya kearah putrinya yang sedang menyuapi bubur ke David.
"Aku mulai jadwal visite jam sembilan pagi dan ini baru jam setengah sembilan. Ada waktu setengah jam pa. Memang kenapa?" Anandhita memandang papanya yang tampan tapi selalu julid dengan kompor.
"Kamu disini dulu ya Dhit, papa mau cari sarapan. Kata Arga soto Betawi sini enak."
David pun manyun. "Aku juga pengen pa..."
"Kamu sehat dulu, Dave!" Arya memeluk putrinya dan mencium keningnya. "Papa pergi sebentar. PPK mu dimana?"
Anandhita menunjukkan pistolnya yang berada di belakang pinggangnya yang tertutup sneli.
"Bagus. Kamu jaga David." Arya pun bersiap untuk keluar kamar.
"Pengawal ada di depan kan pa?" tanya Anandhita.
"Ada. Kenapa?" tanya Arya berbalik menatap putrinya.
"Kenapa nggak suruh pengawal saja belikan?"
"Soto itu enak makan di tempatnya, Dhita. Sudah, papa nggak lama kok." Arya pun keluar dari kamar David.
Anandhita hanya menggelengkan kepalanya. "Mas, bang Hideo kemana?"
"Hideo sudah pulang semalam. Jadi papa yang menemani mas" jawab David.
"Ini buburnya sudah?" Anandhita menunjukkan mangkuk berisikan bubur putih yang tinggal dua suap.
"Udah ah! Eneg aku!" Wajah David tampak ingin muntah.
Anandhita tersenyum lalu meletakkan mangkuk itu ke atas lemari kecil disana. "Aku cuci tangan dulu ya mas."
"Jangan lama-lama" rengek David manja. Anandhita mencium pipi David sekilas membuat pria itu tersenyum lebar.
***
"Maaf, suster mau kemana?" tanya seorang pengawal menghadang pria yang mengenakan baju perawat.
"Saya mau memeriksa tensi dan infus tuan David, pak" ucap perawat itu.
Pengawal Arya menatap id card dan menyamakan wajahnya lalu memeriksa tempat tensimeter yang selain alat tensi dari air raksa juga berisi suntikan masih bersegel dan dua kantong infusAkhirnya dia menganggukkan kepalanya mengijinkan suster pria itu masuk.
Yang menjaga David di dalam kamar sudah keluar, jadi dia sendirian disana. Dasar pengawal bodoh! Gampang dibohongi.
Pria itu pun masuk ke dalam ruang rawat inap David.
***
David sedang menonton televisi yang volumenya pelan ketika melihat seseorang yang sangat dia kenal. Dengan santai, pria itu menutup pintu dan menguncinya.
"Halo David. Tiga peluru masih belum bisa membuat kamu mati ya?" seringai pria itu.
"Tarmuji... eh bukan Teddy Himawan" ucap David sembari mengurangi volume tv-nya dan diam-diam dia merekam pembicaraan mereka. David bersyukur ponselnya ada di balik selimutnya dan dalam genggamannya.
"Hebat kamu bisa mengetahui soal nama asliku" seringai Tasya.
"Apa maumu, Teddy?" tanya David bergaya tenang tapi dalam hatinya dia merutuk meninggalkan pistolnya di dalam nakas dan sekarang dia tidak bisa mengambilnya. Damn it!
"Nyawamu tentu saja. Apakah kamu tahu aku menunggu saat-saat seperti ini?" kekeh Tasya.
"What? Setelah sekian lama?" David menatap Tasya bingung.
"Kamu merusak semuanya David. Semuanya!" bentak Tasya.
"Apa yang aku rusak? Kapan? Dimana?" tanya David berusaha mengulur waktu untuk mencari kesempatan mengambil pistolnya yang berada di dalam laci nakas.
Tasya menyuntikkan sesuatu ke dalam kantung infus baru dan tersenyum mengerikan melihat infus milik David memang tinggal sedikit.
"Mana ada Tuhan merestui niat jahat kamu?" hardik David.
"Ohya Tuhan tidak merestui rencanaku untuk menjadi pahlawan buat Anandhita. Dhita ku yang cantik, Dhita ku yang akhirnya aku temui lagi setelah sekian tahun aku pergi... " gumam Tasya.
"Apa maksudmu dengan menjadi pahlawan?" tanya David sambil merekam percakapan mereka.
"Apa kamu ingat saat SMA, Dhita mau dipalak preman? Akulah yang menyuruh preman-preman itu mengganggu Dhita! Tapi kamu dari antah berantah malah menggagalkan rencanaku! Kamu lah yang menjadi Pahlawan bagi Dhita! Bukan Aku!"
"Tapi kamu stalking dia!" bantah David. "Dhita menceritakan padaku bagaimana tidak nyamannya dirinya dengan ulah kamu!"
"Kalau aku tidak begitu, Dhita tidak akan pernah melihatku!"
"Karena Didit memang tidak pernah melihatmu!" balas David.
"Didit, Didit... Namanya Anandhita! Panggilannya Dhita! Bukan Didit!" hardik Tasya dengan mata memerah menahan emosi.
"Tapi akhirnya kamu pergi juga kan?" ledek David.
"Karena ayahku harus pindah ke Bangkok, Thailand. Disana aku mempelajari menjadi lady boy. Aku sudah bertekad untuk bisa kembali ke Jakarta, menemui Dhita. Namun keluarga ku ada masalah membuat aku urungkan niat kemari."
Tasya mendekati David dan menunggu dengan sabar tetes demi tetes infus yang hampir habis.
"Jika peluru tidak bisa membunuhmu, arsenik tampaknya lebih efektif" seringai Tasya yang tampak menyeramkan meskipun wajahnya tampan.
"Habis berapa kamu operasi hidung dan dagu?" tanya David untuk menunda Tasya mengganti infusnya. "Bagaimana hubungan mu dengan dokter Rizal dan dokter Farah?"
Tasya menoleh. "Oh kamu tahu juga soal kami?" Pria itu tertawa menyeramkan. "Mereka pun sama-sama memiliki obsesi yang sama denganku. Farah, tergila-gila denganmu sedangkan Rizal... Oh Rizal, dia sainganku, rivalku tapi sebentar lagi dia juga tinggal nama."
"Kalian bertemu di Singapura?" tebak David.
"Oh ya. Simposium kedokteran dan pertemuan waria di tempat yang sama, Marina Bay. Suatu kebetulan yang menguntungkan. Aku melihat Dhita berjalan dengan seorang wanita bule dan mereka membicarakan kamu dan suami wanita itu. Aku yang sedang makan siang disana mendengar semua termasuk dua dokter itu. Setelah Dhita pergi, aku hampiri ke kedua dokter itu. Kuberikan rencana ku yang sudah aku susun rapi mengingat kamu menjadi polisi di Jakarta." Tasya mengelus wajah David dengan jarinya yang membuat pria itu bergidik.
"Semua pembunuhan waria itu adalah rencana kami untuk memancing dirimu. Tapi baru Calista lah kamu muncul dan seperti rencanaku, kamu menawarkan diri untuk melindungi kami. Oh, kasihan Yulia dan Viola yang terpaksa aku seret" kekeh Tasya.
"Tapi aku tidak sabar! Mereka bekerja terlalu lamban, terlalu berhati-hati. Dengar David, kamu mati, akan aku adu domba dua dokter bodoh itu untuk saling bunuh satu sama lain dan akhirnya Dhita akan menjadi milikku untuk selamanya."
"Teddy, apakah kamu melupakan sesuatu?" David menatap Tasya.
"Melupakan apa?"
"Halumu tidak akan kesampaian karena keluarga Didit sudah tahu siapa dirimu dan sudah pasti kamu tidak akan diterima di keluarga besarnya." David menatap tenang ke Tasya.
Pria berbaju perawat itu tampak berpikir. "Hhmmm... kalau begitu, Tidak ada yang boleh memiliki Dhita selain aku!"
"Apa maksudmu?" keringat dingin mulai mengalir di dahi David.
"Dhita akan aku bawa pergi dan tidak ada yang bisa mendapatkannya. Dia akan hidup berdua denganku."
Tasya mulai melepaskan infus David yang habis dan hendak memasangkan infus baru yang sudah disuntik dengan arsenik.
"Selamat tinggal David. Titip Calista di neraka!" Tasya hendak memasangkan jarum infus ke tangan David namun...
DOR!
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Maaf terlambat
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️