
Jimmy dan Toro bekerja keras guna mencari face recognition ke orang yang dimaksud tapi tetap saja gagal. Mereka mencoba dengan akun BIN dan interpol pun juga belum berhasil.
"Jangan-jangan dia operasi plastik terus jari manusia baru dan membuat orang bingung" gumam Toro. "Ditambah identitas baru juga. Apa nggak bikin puyeng aplikasi?"
"Orang sinting mana yang berani permak wajah total hingga ke rahang?" tanya Jimmy.
"Ada tuh yang berasa menjadi Ken doll di dunia nyata atau jadi Barbie sampai semua dibongkar" sahut Randy yang sedang melihat YouTube tentang orang-orang gila yang berani merubah wajahnya totalitas. "Tanda orang yang tidak bersyukur atas apa yang diberikan Allah."
Jimmy dan Toro menoleh ke arah Randy. "Njih pak Ustadz."
Randy melirik ke arah Jimmy dan Toro. "Jamaaahh ..." ucapnya dramatis.
Fajar tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan atasannya ke para rekan forensiknya.
"Pengajian pindah kesini? Apa ada tausyiah?" goda David sambil membawa indo*mie di atas piringnya.
"Baru saja mendapatkan tausyiah dari Ustadz Randy agar tidak mengganti semua bagian tubuh" jawab Toro.
"Kalian apa lupa? Kita lagi berhubungan dengan orang-orang trans*gender lho" senyum David.
"Dang it! Aku lupa!" seru Toro. "Pak Ustadz Randy Hutabarat, Monggo paringi tausyiah ke apartemen sebelah."
"Reseh lu Teng!" cebik Randy kesal diangkat jadi ustadz dadakan.
"Gimana hasilnya Jim?" tanya David sambil memasukkan Indo*mie goreng ke mulutnya.
"Masih belum dapat, Let. Aku sampai harus pakai data interpol ini!" Jimmy mengucek matanya yang pedas. "Let, Indo*mie nya masih ada?"
"Masih. Kenapa?"
"Bikin aaahhh!" Jimmy pun bangkit dari kursinya menuju dapur.
"Jimbooonngg, titip buatin yaaa!" teriak Toro.
"Aku juga!" sahut Randy dan Fajar.
"Lu kira gue buka warung Indomie apa?" sungut Jimmy kesal tapi tetap mengambil empat bungkus Indomie.
"Sekalian lah. Orang yang memasakan makanan buat orang yang kelaparan, pahalanya banyak. Bener nggak pak Ustadz Randy?" senyum Toro.
"Betul itu!"
"Bilang aja lu pada malas bikin" kekeh David.
"Emaaaannggg!" cengir Toro dan Randy bersamaan.
Fajar hanya tertawa kecil melihat kerusuhan di apartemen itu. Dirinya sangat bersyukur bisa direkrut di tim kecil ini demi memecahkan kasus pembunuhan berantai yang sampai sekarang masih gelap.
Suara ponsel David berbunyi membuat si pemilik meletakkan disisi telinganya.
"Assalamualaikum Ga. Gimana?" tanya David.
"Wa'alaikum salam. Bang, ada yang mencoba gangguin Dhita" lapor Anarghya.
"Ganggu Didit dimana?" tanya David dengan nada sedikit panik.
"Di rumah sakit. Kan Ditha jadwal jaga hari ini. Pas dia sama suster Mira mau masuk ruang praktek, dihadang sama cewek yang dipanggil Dhita 'dokter Farah'."
Rahang David mengeras mendengar nama dokter Farah berani mendatangi Anandhita di rumah sakit tempatnya bekerja.
"Lalu?" tanya David sembari menahan emosinya.
"Dia mau menyerang Dhita tapi aku kan disana mengawasi sepupuku itu langsung aku cekal lah tangannya dan dibawa sekuriti keluar rumah sakit. Aku sudah mengancam kalau berani berulah lagi, akan aku laporkan ke IDI dan polisi."
"Thanks Ga. Kita tahu kan Dhita paling payah dan nggak bisa bela diri" ucap David tulus.
"Selama elu kagak bisa melindungi Dhita karena tugas bang, insyaallah aku akan menjaga Dhita seperti janji gue ke elu."
"Terimakasih adik ipar."
"Sama-sama kakak ipar. Jangan lupa bayarannya" gelak Anarghya.
"Ya Allah Ga, berapa sih gaji polisi?" ucap David dramatis.
"Diiihhh dikira gue kagak tahu tabungan elu dari saham bang?" kekeh Anarghya. "Jangan lupa, nggak ada yang lolos dari kita. Apalagi elu pacaran dah lama sama Dhita."
"Iya deh. Sekali lagi thanks Ga."
"Hati-hati bang. Assalamualaikum."
Fajar menatap wajah kesal David. "Ada apa pak?"
"Dokter Farah hendak menyerang Anandhita" ucap David kesal.
"Hah?" seru Randy terkejut.
"Neng Dhita diserang? Duh sayang Aa tidak disana" sahut Toro.
"Aa?" beo Fajar.
"Lho kan memang aku Aa buat neng Dhita" jawab Toro jumawa.
"Pak David, hati-hati nanti pacarnya ditikung pak Toro lho" kekeh Fajar.
"Tenang saja, Jar. Dhita nggak bakalan bisa kelain hati dari David. Mana mau dia sama cowok macam Toro yang nggak mau olah raga." Randy melirik Toro.
"Eh jangan salah. Aku akan mulai berolahraga kok!" sahut Toro.
"Kapan?" tanya David.
"Semua akan dimulai pada hari Senin" jawab Toro yakin.
David mencari gambar di ponselnya. "Kau itu macam ini saja, Teng!"
Fajar dan Randy tertawa sedangkan Toro hanya manyun.
"Ributin apa nih? Siapa mau Indo*mie?" Jimmy membawakan empat piring Indo*mie goreng.
"Neng Dhita diserang sama dokter Farah tapi ditolong sama Ga karena aku nggak tahu sapa 'Ga' bisa Gagak bisa Raga bisa Ga bener" cerocos Toro.
"Sembarangan bilang adik ipar gue Gagak!" David menatap judes ke Toro.
"Diiihhh sok yakin bakalan sama neng Dhita. Yakin deh neng Dhita bakal aye tikung bang" goda Toro. "Jangan remehkan kekuatan doa."
"Lha dia makin menjadi" gumam Randy. "Nggak boleh begitu kisanak, namanya teman makan teman itu. Tidak baik. Dengarkan apa kata pak Haji Randy Hutabarat ini."
"Lha emang lu udah naik haji Ran?" tanya Jimmy.
"Doanya, kisanak" Randy mengatupkan kedua tangannya.
David menggelengkan kepalanya merasa pusing mendengar ucapan absurd teman-teman dekatnya.
***
Anarghya membuka laptopnya untuk mencari tahu siapa itu dokter Farah. Setelah berselancar di dunia Maya, akhirnya Anarghya mendapatkan informasi tentang Dokter Farah Aulia yang merupakan dokter forensik asisten dokter Tini Srikandi.
Rupanya dia sempat pacaran dengan Faheem Mustafa, anak dokter Azzam Mustafa ( baca Bara dan Arum bonchap Bima Menjatuhkan Bom ). Kenapa sih mesti berhubungan dengan keluarga Mustafa lagi?
Anarghya membaca. lagi dan menemukan bahwa ayah Farah adalah seorang dokter gigi terkenal sedangkan ibunya seorang ahli gizi di RS Mount Elizabeth Singapura. Jadi kedua orangtuanya di Singapura? Jangan-jangan Oom Nathan dan Tante Haura kenal deh.
Dokter Farah Aulia berusia 27 tahun awalnya adalah seorang dokter bedah namun karena terjadi malpraktek, dia banting setir menjadi dokter forensik dan bekerja di rumah sakit Bhayangkara karena koneksi ayahnya.
"Wah kacau nih dokter" gumam Anarghya.
"Apanya yang kacau Ga?" tanya Anandhita setelah selesai melakukan sholat dhuhur.
"Ini rivalmu" kekeh Anarghya menunjukkan hasil penyelidikannya.
"Kamu nggak laporan ke mas David kan?" Anandhita menatap sepupunya.
"Laporan lah! Kan aku bertugas menjaga kamu, Dhita selama bang Dapid bertugas." Anarghya menatap wajah cantik sepupunya. "Memang bang Dapid pamitnya kemana Dhit?"
"Ke Padalarang katanya. Kemarin malah minta list skincare, pembersih muka dan sabun muka yang Bagus apa."
Anarghya mengerenyitkan dahinya. Sejak kapan bang Dapid jadi aware perawatan muka?
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️