My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Di Rumah Sakit



Taufan membawa Tesla milik Natasha dengan sedikit mengebut. Bodo amat nantinya dirinya kena surat cinta dari Samsat Manchester karena Inggris adalah salah satu negara yang jumlah CCTV nya tidak main-main.


Pria itu menoleh ke arah Natasha yang tampak menahan sakit di perutnya dengan manik-manik keringat bercucuran di wajah cantiknya. Mata hijau gadis yang biasanya menatapnya judes, kini tampak terpejam. Bibir seksihnya hanya keluar era*Ngan kesakitan.


"Sabar, sayang. Kita akan sampai di rumah sakit sebentar lagi" ucap Taufan sambil mengusap kening Natasha yang basah dengan keringat. Natasha tidak menjawab atau merespon apapun dari sikap Taufan padahal pria itu yakin jika Natasha sehat, tangannya sudah ditepis oleh gadis itu.


Mobil canggih itu pun tiba di Manchester Royal Infirmary dan segera berhenti di depan IGD. Taufan bergegas membuka pintu penumpang dan menggendong Natasha.


"Dokter! Suster! Tolong!" teriak Taufan panik. Beberapa perawat disana langsung mengambil alih tubuh Natasha yang segera diletakkan diatas brangkar.


"Apa yang terjadi?" tanya salah seorang suster sambil mencari nadi Natasha untuk dipasang infus.


"Saya tidak tahu. Pada saat menemukannya dia sudah meringkuk kesakitan" ucap Taufan.


"Kamu siapanya pasien?" tanya Suster itu lagi.


"Saya kekasihnya" jawab Taufan spontan.


"Bagaimana bisa kamu tidak tahu pacarmu sakit?"


"Kami tidak tinggal bersama dan tadi pagi aku datang menjemputnya tapi tidak ada respon jadi aku ke kamarnya dan menemukan dia sudah seperti ini."


Suster itu mengangguk. "Kami rawat dulu pacar anda." Para suster itu membawa Natasha ke ruang pemeriksaan meninggalkan Taufan yang menatap kepergian gadis itu.


"Maaf Sir tapi mobil anda menghalangi ambulans" bisik seorang satpam ke Taufan.


"Oh maaf. Baik, akan saya pindahkan." Taufan bersama dengan satpam itu pun segera menuju mobil Tesla milik Natasha.


***


"Usus buntu? Usus buntu?" Taufan menatap dokter yang memeriksa Natasha memberitahukan apa sakit yang didera gadis itu. "Apakah harus dioperasi, dok?"


"Menilik dari kondisinya yang serius, memang harus dioperasi hari ini juga, Mr. Abisatya."


"Tapi saya tidak punya hak untuk menandatangani izin melakukan tindakan. Coba saya hubungi sepupunya Tristan." Taufan pun mengambil ponselnya.


"Tidak perlu Mr Abisatya. Kami sudah menghubungi Mr Tristan Neville karena kami tahu ayah Miss Neville berada di Indonesia. Sayangnya Mr Tristan Neville sedang berada di Paris untuk pertandingan liga Champions dan sudah menyerahkan semuanya ke anda."


Taufan melongo. "Ke saya?"


"Iya, karena anda yang berada disini. Lagipula, Mr Neville sudah memberikan izin dengan tertulis yang dikirimkan melalui email bahwa beliau menyerahkan semuanya ke anda. Soal pembayaran, anda tidak usah khawatir. Miss Neville ada asuransinya dan sudah diurus oleh asistennya Miss McGee."


Kepala Taufan terasa kencang. "Jam berapa operasinya?"


"Begitu anda tanda tangan, operasinya langsung kami lakukan." Dokter itu memberikan lembar ijin melakukan tindakan operasi.


Taufan membaca dengan teliti lembar itu lalu mulai menandatanganinya.


***


Poppy McGee datang ke Manchester Royal Infirmary Hospital sembari membawakan bekal dan baju untuk Natasha. Wanita berambut merah itu mencari-cari Taufan dan menemukan pria itu sedang duduk termenung.


"Mr Abisatya?" panggil Poppy yang membuat pria itu mendongak.



"Miss McGee."


"Saya datang membawakan baju ganti untuk Miss Neville. Saya tadi ke apartemen beliau dan meminta Amy membukakan pintu. Lalu saya membereskan baju-baju untuk ganti Miss Neville." Poppy memberikan koper kecil Rimowa bewarna pink.


"Terimakasih miss McGee. Oh aku mau bertanya. Apakah Natasha sering mengeluh sakit pada perutnya?" Taufan menatap asisten Natasha.


"Biasanya hanya pada saat datang bulan saja, Mr Abisatya. Itu yang hanya tahu karena Miss Neville tidak pernah mengeluh apapun kecuali pas datang bulan saja" jawab Poppy.


Taufan mengangguk. Poppy pun duduk di sebelah pria itu yang menatap dengan cemas lampu operasi yang masih menyala.


Semoga operasinya berjalan lancar dan aku berjanji akan merawat kamu sampai kamu benar-benar sembuh dan sehat seperti sediakala.


***


Natasha merasakan matanya terasa berat dan perutnya perih. Perlahan-lahan mata hijaunya pun terbuka dan orang pertama yang dilihatnya adalah Taufan Abisatya.


"Alhamdulillah sudah sadar" ucap Taufan lembut.


"Di rumah sakit, sayang."


Mata indah Natasha membulat. "Rumah Sakit? Aku ... kenapa Fan?"


"Apa kamu tidak ingat apa yang terjadi tadi pagi?" tanya Taufan yang duduk di sebelah Natasha. Tangan kirinya terulur untuk mengusap kepala Natasha lembut.


"Tadi pagi?" gumam Natasha berusaha mengingat - ingat. "Aku... Perutku sakit. Apa yang terjadi Fan?"


"Usus buntumu meradang dan parah kondisinya namun belum sampai pecah. Kamu sudah dioperasi tadi dan aku yang bertanggung jawab atas dirimu mulai sekarang."


Natasha mendelik. "Kemana Tristan? Dialah yang menjadi keluarga terdekat aku!"


"Tristan ke Paris ada pertandingan dengan Paris Saint-Germain di liga Champions. Dia sudah menyerahkan semuanya padaku dan jika kamu tidak percaya, ini aku kasih lihat surat kuasa Tristan."


Taufan memberikan iPad nya dan Natasha hanya cemberut karena sepupunya sudah 'menitipkan' dirinya ke Taufan.


"Apakah kamu sudah menghubungi Daddy?" tanya Natasha yang berharap Mark Neville sang Daddy yang akan datang menjaganya.


"Mr Mark Neville juga menyerahkan semuanya kepadaku karena masih ada proyek dengan pak Quinn."


Natasha mendecih. "Benar-benar kesempatan ya kamu, Fan."


"Aku selalu berdoa bisa dekat denganmu untuk meyakinkan dirimu tapi bukan dengan kondisi seperti ini. Aku sedih melihat kamu sakit, Nat."


"Fan..."


"Ya?"


"Aku haus. Minta minum."


"Tentu saja sayang."


Natasha hanya menatap tajam ke arah pria itu. Seenaknya panggil sayang.


***


"Kamu nggak pulang?" tanya Natasha yang mulai mengantuk setelah dokter tadi memberikan obat anti perih dari hasil jahitan operasinya. Natasha sudah makan malam berupa bubur hambar dengan daging ayam kukus. Meskipun rasanya membuatnya eneg, tapi Taufan memaksa untuk mau memakannya agar segera pulih.


"Aku tidak akan pulang Nat. Aku akan menemanimu disini."


"Tapi..."


Taufan meletakkan jari telunjuknya di bibir seksih Natasha. "Kamu sendirian disini jadi biarkan aku menemani kamu. Lagipula, aku kan pengacara, pengangguran banyak acara."


"Siapa yang membawa koperku?"


"Poppy McGee, asistenmu."


"Apa kamu sudah..."


"Aku sudah minta tolong dirinya menghandle semua dulu selama kamu dirawat."


Mata Natasha mulai tampak sayu karena zat tidur yang ada di obat anti nyeri mulai bekerja.


"Aku ngantuk. Kamu kalau mau pulang, pulang saja" bisik Natasha yang tak lama dirinya langsung terlelap.


Taufan memegang tangan Natasha yang tidak terkena jarum infus dan membawa tangan itu ke bibirnya.


"Aku tidak akan pulang Nat. Aku akan menemanimu bahkan jika kamu sudah diijinkan pulang pun, aku akan berada di sisimu."


***


Yuuuhhuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️