My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Three Down



Berita penangkapan dua dokter forensik dari kepolisian ramai disiarkan di berbagai stasiun televisi dan media online. Tentu saja perbuatan dua dokter itu mencoreng nama kepolisian karena kecolongan menerima dokter yang ternyata mentalnya tidak stabil.


Nama dokter Tini Srikandi pun tidak luput dari kejaran para pencari berita karena dirinya adalah kepala forensik dan kamar mayat RS Bhayangkara. Tentu saja, masyarakat akan bertanya-tanya tentang hasil forensik yang sebelumnya dilakukan oleh kedua dokter itu karena diragukan keabsahannya.


Dokter Tini Srikandi dalam jumpa persnya pada sore hari menyatakan bahwa semua hasil pemeriksaan forensik yang sebelumnya dilakukan oleh kedua dokter itu sudah diperiksa olehnya dan tidak ada kesalahan prosedur. Bahkan dokter Tini mempersilahkan untuk dilakukan pemeriksaan ulang ke IDI.


Suster Mentari yang mendengar berita itu pun terkejut, dirinya tidak menyangka jika kedua dokter itu bisa tertangkap.


"Katanya dokter-dokter itu menculik dokter Anandhita, dokter bedah di rumah sakit milik PRC group dan letnan David, anggota kepolisian yang sering datang kemari kalau ada kasus pembunuhan" ucap salah seorang rekan suster Mentari.


"Lagian juga orang nggak suka kok dipaksa" balas suster lainnya.


"Katanya yang polisi sudah dibawa ke RS Bhayangkara sini tapi tampaknya disembunyikan."


"Suster Mentari" panggil dokter Dwi Hartono.


"Iya dok?"


"Tolong kamu ke ruang Dahlia Tiga. Ada pasien khusus."


"Baik dok. Saya bawa apa saja?"


"Alat tensi dan infus baru."


"Baik dok." Dengan cekatan suster Mentari mempersiapkan semuanya dan berjalan menuju ruang Dahlia. Sedikit terkejut melihat ada dua orang polisi berjaga disana.


Siapa yang masuk ke ruangan Dahlia Tiga?


"Maaf pak. Siapa nama pasiennya? Sebab saya butuh untuk data infus" tanya suster Mentari memberanikan diri bertanya.


"Oh suster..." anggota polisi itu membaca tag name di dada Mentari. "Suster Mentari. Yang di dalam atasan kami, letnan David Hakim."


"Kenapa?"


"Sempat terkena suntik bius."


"Oh baik. Saya periksa dulu." Suster Mentari pun membuka pintu dan wajahnya menyeringai saat membelakangi dua polisi itu.


Suster Mentari melihat wajah David yang pucat dan belum mendapatkan infus.


"Oh kasihan Davidku. Kamu disuntik apa sama si Farah gila itu? Harusnya kamu lebih aman denganku." Suster Mentari menyiapkan tiang infus dan berusaha mencari nadi David untuk dipasangkan jarum infus.


"Akhirnya kamu datang juga kemari, David. Apakah kamu tahu sudah lama aku jatuh cinta padamu tapi kamu seolah tidak melihatku. Hanya menganggap sebagai adik mas Fajar."


Suster Mentari duduk di tepi tempat tidur dan jarinya mengelus wajah David yang tertidur.


"Kamu tampak manis kalau tidur begini." Suster Mentari mengusap jarinya di bibir David. "Kamu tahu, aku berusaha keras untuk mendapatkan perhatianmu sampai-sampai aku harus have s3x dengan sahabatmu meski yang kubayangkan dirimu demi mendapatkan informasi kapan kamu dipindah ke bagian pembunuhan menggantikan iptu Hasan dan aku sampai harus membunuh wanita jadi-jadian agar kamu yang mengambil alih kasusnya. Sayang, kamu tetap tidak ditunjuk untuk menyelidiki."


Suster Mentari mencondongkan tubuhnya. "Baguslah kedua dokter gila itu sudah tertangkap, karena akulah yang akan menyingkirkan si Anandhita."


Suster Mentari berdiri dan menuju pintu. "Tunggu sebentar sayang, aku akan kembali."


***


David gedubrakan setelah mengetahui suster Mentari pergi. Dirinya sibuk mengusap wajah dan bibirnya dengan tissue basah yang tersedia di sana. Tubuhnya dikibaskan seperti menghilangkan kotoran disana.


"Bleh! Bisa-bisa aku mandi kembang campur Dettol!" desisnya. Namun sejurus kemudian dia tersenyum setelah mendapatkan bukti rekaman ucapan dari suster Mentari sendiri.


"Kalian sudah mendapatkan semuanya?" tanya David melalui earpiece nya yang terpasang di telinga kanannya dan tidak terlihat dari sisi kiri dimana suster Mentari duduk di sisi kiri pria itu.


"Sudah Let."


"Oke." David pun tiduran kembali berpura-pura masih pingsan.


***


Suster Mentari masuk kembali ke kamar David. Tadi dia beralasan ada yang ketinggalan dan harus mengambil di ruang farmasi.


Kini gadis itu menutup pelan pintu kamar rawat David dan dirinya sudah menyiapkan obat bius dosis tinggi yang akan membuat David tidak akan bangun hingga malam. Saat dimana dirinya bisa leluasa menguasai David karena tadi dirinya sempat mendengar bahwa tidak boleh ada anggota keluarga yang menjaga.


"Oh David. Beruntungnya aku yang bisa menguasai dirimu seutuhnya". Suster Mentari mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisikan valium dosis tinggi. "Kamu akan tidur nyenyak karena dengan aku suntikan valium ini, semua efek GHB akan berangsur menghilang dan kamu akan tenang."


Suster Mentari mengambil beberapa Mili valium dan hendak memasukkannya ke infus David ketika tangan kiri pria itu mencengkeram pergelangan suster itu dengan erat.


"Don't ever think about it!" desis David. sambil mengacungkan pistolnya.


Suara pintu terbuka dan tampak Fathur dan rekannya masuk sembari menodongkan senjatanya.


"Suster Mentari, anda kami tahan untuk percobaan penganiayaan dan pembunuhan yang anda lakukan enam bulan lalu." Fathur pun mengambil tangan Mentari dan membawanya ke belakang untuk diborgol.


"Apa buktinya?" teriak suster Mentari. "Apa buktinya saya membunuh?"


"Maaf, suster. Semua omonganmu sudah aku rekam." David pun menyeringai lalu memutarkan kembali rekamannya.


Wajah suster Mentari itu tampak pucat. Sialan!


"Bawa dia ke markas!" perintah David.


"Siap Let" ucap rekan Fathur dan di luar sudah terdapat beberapa anggota kepolisian yang mengawal suster Mentari. Aiptu Fajar dan dokter Dwi Hartono menatap gadis itu dengan perasaan tidak percaya.


"Dik, kenapa kamu menjadi seperti ini?" tanya Fajar sendu. "Kamu berubah..."


"Iya! Aku berubah karena cintaku tidak terbalas oleh atasan mu itu! Dia pria bodoh yang tidak bisa melihat siapa yang lebih mencintai dirinya!" teriak suster Mentari ke Fajar.


"Apakah hubungan kita tidak berarti Tari?" Wajah dokter Dwi Hartono masih tidak percaya bahwa kekasihnya selama ini ternyata menyimpan obsesi seperti itu.


"Hubungan? Hubungan? Aku hanya butuh uangmu! Apa kamu tahu, setiap kita ber*cinta yang aku bayangkan adalah David? Hatiku hanya untuk dia !" teriak suster Mentari ke arah dokter Dwi yang tampak terluka.


Setelahnya gadis itu dibawa ke dalam mobil patroli untuk dibawa ke markas kepolisian.


David yang berdiri melihat drama yang melebihi drama Korea yang ditonton Anandhita hanya bisa menghela nafas panjang.


"Let? Kamu tuh pakai susuk apa sih? Kok semua cewek termehek-mehek sama kamu?" celetuk Fathur.


"Aku sendiri tidak tahu. Kayaknya aku harus diruqyah, mandi kembang tujuh rupa terus tapa di bawah air terjun biar hilang peletnya ya?"


Fathur menoleh ke arah pria itu. "Astaghfirullah! Serius Let?"


"Ya nggak lah! Siapa juga mau tapa di bawah air terjun? Yang ada gue masuk angin dan hipotermia akut!" jawab David sambil ngeloyor menghampiri Fajar dan dokter Dwi Hartono.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️