
Tristan Neville menuju rumah sakit setelah kembali dari pertandingan liga Champions antara Manchester United dan Paris Saint-Germain yang dimenangkan oleh Man Utd. Tristan bahkan menyumbangkan satu gol disana.
Melihat salah seorang pemain Manchester United datang ke rumah sakit, membuat banyak orang disana berbisik-bisik dan beberapa malah meminta foto bareng serta memberikan ucapan selamat atas golnya yang indah setelah dua Minggu istirahat akibat cedera ringan.
Pria tampan itu pun segera menuju ruang rawat sepupunya setelah melayani permintaan para penggemar yang berada di lantai bawah rumah sakit dan melihat Natasha dan Taufan sedang ribut.
"Ada apa ini?" tanya Tristan bingung.
bang Tristan bingung ada keributan
"Tristan! Suruh pria ini pulang ke Jakarta!" seru Natasha dengan wajah kesal.
"Aku tidak akan pulang sampai kamu benar-benar sembuh Nat!" eyel Taufan. "Jahitan kamu itu harus sampai kering dulu dan kamu sendiri masih suka kesakitan juga!"
"Bisa aku urus sendiri!"
"Urus sama siapa? Kamu saja nggak bisa urus diri kamu sendiri kok! Buktinya sampai usus buntumu radang begitu juga ga periksa! Masa harus nunggu sampai parah begitu dan itu pun aku yang nemuin kamu kesakitan!"
Natasha mendelik ke arah Taufan begitu juga dengan pria itu tampak tidak mau kalah dengan gadis itu.
Tristan hanya menggelengkan kepalanya. "Mau kamu apa Fan?"
"Mau aku? Aku akan tinggal bersama Natasha sampai dia benar - benar pulih karena menurut dokter butuh waktu tiga sampai enam Minggu sampai sehat. Dan selama itu, dia tidak boleh terlalu capek. Siapa yang bisa menemani dia? Daripada membayar perawat, lebih baik aku kan yang disana?" Taufan memberikan argumennya yang membuat Natasha mendengus kesal.
Tristan melihat sepupu cantiknya tidak mau bersama Taufan tapi dirinya sendiri tidak bisa menemani Natasha dan kalaupun tinggal di rumah orangtuanya, Natasha juga tidak nyaman dan tidak enak disana.
Alternatif paling baik memang Taufan yang tinggal bersama dengan Natasha apalagi pria itu tampak serius dengan sepupunya.
"Nat, kalau aku pikir, memang ada baiknya Taufan tinggal bersama kamu" ucap Tristan yang langsung mendapatkan sorotan tajam dari mata hijau sepupunya dan tatapan penuh kemenangan dari Taufan.
"Tapi Tristan..."
"Apa kamu mau tinggal di rumah papa mamaku?" tawar Tristan dan membuat wajah Natasha manyun.
"Aku tidak mau merepotkan Oom Remy dan Tante Caroline."
"Kamu kan lebih nyaman di apartemen kamu sendiri kan?" Tristan duduk di pinggir tempat tidur sepupunya.
Natasha mengangguk. "Tapi aku tidak nyaman ada dia!" tunjuknya ke Taufan.
"Tapi dia yang bisa menemani kamu, Nat." Tristan menatap lembut ke sepupunya yang tidak beda jauh usianya.
Natasha cemberut dan Taufan merasa gemas melihat bagaimana Natasha bisa kolokan ke Tristan, tapi tidak dengannya.
Gimana Natasha mau kolokan sama elu kalau elunya lupa soal janji ke dia. Begok ih lu Fan.
"Taufan!" panggil Tristan yang membuat lamunan Taufan buyar.
"Ya Tristan."
"Besok kalau elu sama Natasha, jangan macam-macam ya!" ancam Tristan. "Glock kamu masih di laci kan?" Tristan menoleh ke arah sepupunya.
"Masih!"
"Bagus. Kalau dia mulai aneh-aneh, tembak saja!" seringai Tristan durjana.
"You're really read my mind, Tri" gelak Natasha tidak kalah durjana.
Taufan pun berusaha menelan salivanya dengan susah payah.
***
Taufan merawat Natasha dengan penuh perhatian dan lembut meskipun gadis itu sering membuatnya dia kesal karena kejudesannya tapi pria itu hanya menghela nafas panjang dan berusaha sabar.
Seminggu di rumah sakit, Natasha akhirnya diijinkan pulang ke rumah dan Taufan bergaya sebagai kekasih yang perhatian.
Setelah memarkirkan Tesla milik Natasha, Taufan membantu gadis itu berjalan menuju lift khusus penghuni. Taufan membuka pintu apartemen dan Natasha pun bergegas masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya terasa lelah dan ingin tidur.
Betapa terkejutnya melihat kamarnya sudah rapi dan bersih padahal seingatnya kamarnya berantakan sebelum Taufan menggotongnya ke rumah sakit.
"Rapih kan? Aku yang merapikan saat kamu tidur" ucap Taufan cuek.
"Tidur?"
"Siapa yang mencuci dan setrika?" Natasha memicingkan matanya.
"Akulah!"
"Dan pakaian dalamku?"
"Akulah! Ternyata kamu paling suka pakai pakaian dalam dari bahan katun daripada yang beren... Aaddduuuhhh!"
Taufan meringis kesakitan saat gadis itu mencubit lengannya dengan keras.
"Astaghfirullah! Pedas Nat!" teriak Taufan ke gadis yang wajahnya memerah.
"Siapa yang suruh kamu cuci dan setrika semua?" Natasha teringat sehari sebelum mereka pulang, Taufan ijin akan pulang ke apartemen tapi dia tidak bilang kalau apartmennya bukan apartemen pria itu.
"Tidak ada yang nyuruh Nat, tapi aku risih lihat baju kotor kamu. Toh kalau kita tinggal bareng kan pasti juga akan melihat kan?" kekeh Taufan sambil mengusap-usap bahunya.
"Terserah!" Natasha mendorong Taufan untuk keluar dari kamarnya dan langsung menutupnya di depan wajah pria itu.
"Astaghfirullah! Untung hidung gue selamat" gumam Taufan yang kemudian tersenyum mengingat reaksi gadis itu.
Pria itu pun mulai bolak balik mengambil koper dan duffel bagnya lalu menyiapkan makan siang untuk gadis itu sebelum dia pergi jumatan.
***
Natasha keluar dari kamarnya setelah sempat terlelap sekitar satu jaman dan mendapatkan Taufan tidak ada disana.
Gadis itu menuju meja makan dan menemukan catatan disana.
Dearest Natasha,
Aku sudah buatkan bubur dengan sedikiiiiit garam biar ada rasanya dan ayam suwir. Dimakan ya. Aku jumatan dulu.
Love
T.A
Natasha membuka panci yang sudah ada bubur dan melihat sepiring ayam suwir rebus dan sedikit kaldu yang biasa diberikan tukang bubur ayam dalam mangkuk super kecil.
Merasa perutnya lapar, akhirnya Natasha mengambil bubur ayam itu dan mulai memakannya.
Setidaknya ada rasanya dibandingkan di rumah sakit.
Tak terasa semangkuk bubur ayam habis dimakannya dan lagi-lagi Natasha tersentuh melihat obat yang harus diminumnya sudah disiapkan oleh Taufan beserta memo disana.
Habis makan, jangan lupa minum obatnya cantik. Biar lekas sembuh.
Love
T.A
"Ih apa-apaan sih nih orang? Nggak jelas deh! Eh tapi apa aku harus hampir enam Minggu sama dia? Oh Astagaaa! Bahaya! Kan aku mau move on dari dia! Kenapa jadinya dia tinggal bareng aku sih? Haaaaahhh, mana si Tristan pakai acara kasih ijin pulak! Menyebalkan!" omelnya dan tanpa disadari Taufan sudah berada di pintu dapur tempat Natasha makan.
"Siapa yang mau move on, sayang?" bisik Taufan di sisi telinga Natasha yang membuat tubuhnya membeku.
"Sejak kapan kamu disitu?" tanya Natasha judes tanpa berani menoleh ke sisi kirinya.
Taufan meletakkan dagunya di ceruk leher gadis itu. "Sejak kamu bilang 'Kan aku mau move on. dari dia.' Tapi akunya tidak mau move on dari kamu, gimana Nat?"
Natasha menoleh ke arah Taufan yang langsung mencium bibir gadis itu.
***
yuuuhhuuu Up Siang Yaaaaaa
Maaf telat, momong bocah lagi
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️