My Boyfriend Is Not a Trans Gender

My Boyfriend Is Not a Trans Gender
Ingatan Wanita



Taufan kini berada di ruang kerja Hoshi yang menatap asistennya dengan tatapan tajam.


"Sekarang jelaskan padaku. Apa yang terjadi kemarin?" suara Hoshi terdengar mengintimidasi.


Taufan hanya diam saja.


"Kamu pilih berhadapan dengan aku atau Oom Mark?"


Keringat dingin mulai terbit di dahi Taufan.


Simalakama benar dah!


"Sa... saya tidak tahu kalau Nat eh nona Neville kecelakaan, Pak Quinn."


"Bagaimana bisa kamu tidak tahu adikku kecelakaan? Kamu dimana waktu itu?"


"Saya di cafe Robusta di ruang VIP. Nona Neville pulang terlebih dahulu, pak, sedangkan saya masih disana."


Hoshi mengusap wajahnya gemas.


"Apa kamu sudah mengingat janjimu pada adikku 20 tahun lalu?" Hoshi menatap tajam ke arah asistennya.


"Saya baru ingat setelah nona Neville datang kemarin di acara tuan Ramadhan."


"Baru ingat? Baru ingat katamu?" bentak Hoshi.


Taufan mengangguk. "Maafkan saya pak Quinn, saya yang salah."


"Apa kamu tahu kalau Natasha selalu berkata sudah memiliki janji jari kelingking dengan seorang anak laki-laki dan aku tidak menyangka itu adalah kamu! Natasha menolak banyak pria karena menjaga hatinya tapi kamu... Astaghfirullah Taufan!" Hoshi memegang tengkuknya yang terasa kencang.



Sini Eike pijitin bang


Taufan hanya menunduk.


"Ceritakan bagaimana kamu bisa menjanjikan hal itu kepada Natasha?" Hoshi menatap asistennya dalam.


Taufan lalu menceritakan bagaimana dia pertama kali melihat seorang gadis cilik menangis karena kehilangan keluarganya.


"Saya sudah suka dengan nona Neville sejak melihat di wahana itu pak tapi begitu tahu, nona Neville adalah keponakan pak Bara, saya realistis. Saya hanya anak orang biasa yang bekerja dengan pak Bara."


"Lalu? Bagaimana bisa kamu bekerja disini?"


"Sebenarnya saya melamar pekerjaan di PRC Surabaya namun tidak diterima, malah di Giandra Otomotif Co saya diterima. Saya mulai bekerja disini dari staff biasa sampai menjadi asisten pak Julian dan sekarang asisten anda, pak Quinn."


"Dan selama itu kamu tidak mengingat janjimu?"


Taufan menggeleng. "Saya kira nona Neville pasti sudah melupakannya pak."


"Apakah kamu pernah mendengar bahwa ingatan wanita itu seperti seekor gajah? Istriku, Rina, bahkan masih mengingat dengan jelas apa saja kejadian saat kami belum menikah yang aku sendiri sudah lupa. Apalagi ini! Seorang anak perempuan yang bertemu dengan seorang pahlawan dan berjanji akan menikahinya, tidak akan dilupakan begitu saja."


Taufan hanya terdiam.


"Kamu tahu kenapa semalam aku memanggil dirimu ke rumah sakit? Karena saat Natasha keserempet mobil, aku berada disana bersama Rina. Aku yang membawanya ke rumah sakit dan pada saat dia diberikan bius ketika hendak dijahit lukanya, Natasha sempat mengigau 'Semua gara-gara Taufan Abisatya.' Makanya aku memanggil kamu!" Hoshi memijit pangkal hidungnya.


Taufan merasa bersalah. Gara-gara aku, Natasha menjadi terluka.


"Sekarang nona Neville dimana pak?" tanya Taufan dengan wajah panik.


"Sudah pulang ke Manchester tadi pagi!"


I'm so sorry Natasha.


***


Taufan melamun di mejanya. Semua adalah kesalahannya. Kalau saja dia tidak melupakan janji kelingking itu, seandainya aku memberanikan diri mencari Natasha, jika saja... andaikan... kalau...


Taufan menatap foto keluarga besar Natasha yang ada di ponselnya karena saat foto bareng, dialah yang mengambil gambar itu. Taufan langsung mengzoom wajah gadis cantik yang mengenakan blazer hitam.


Kamu cantik sekali Nat. Kenapa kamu menunggu aku yang melupakan janji padamu. Apakah aku pantas kamu tunggu Nat? Aku sudah mengecewakanmu.


Taufan pun berdiri dan mengetuk pintu ruang kerja Hoshi.


"Ada apa Fan?" tanya Hoshi setelah mengijinkan asistennya masuk.


"Pak Quinn, boleh kah saya minta ijin cuti lima tahunan saya yang belum pernah saya ambil?" tanya Taufan penuh harap.


Hoshi menatap asistennya. "Berarti tiga bulan kamu cuti? Mau kemana kamu?"


"Manchester."


***


Anandhita menatap tidak percaya kamar tamu yang sudah penuh dengan gambar, post it, berkas dan tali merah.



"Ini apa-apaan mas?" tanya Anandhita sambil menunjuk tembok.


"Ini namanya papan detektif sangat membantu mas untuk mengaitkan satu tersangka dengan tersangka lainnya."


Anandhita menatap satu persatu hasil penyelidikan David selama ini.


"Apakah kita akan segera memancing para pelaku secepat mungkin?" tanya Anandhita.


"Of course, dengan taktik yang sudah kita susun bersama papa, Adrian dan Anarghya."


"Aku ingin mereka segera ditangkap agar kita tenang."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Lanjut Besok coz Eike dah ngantuk


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️