
David memutuskan untuk menunda membongkar kamar dan meminta Randy untuk membuat surat kuasa pengadilan untuk memeriksa keuangan Yulianto berdasarkan buku tabungan yang ditemukan Jimmy di kamar pria yang tewas itu.
Buku tabungan yang ada tiga buah dari tiga bank berbeda itu tampaknya tertinggal karena masih ada sisa halaman disana.
"Aku sudah minta teman jaksa kita untuk meminta surat resmi untuk memeriksa semua tabungan dan rekening koran Yulianto" lapor Randy ketika David menelponnya.
"Kapan surat itu keluar?"
"Paling lambat besok karena ini sudah jam dua siang Dave."
David memutar otak. Bagas Hadiyanto. Salah satu buku tabungan yang ditemukan adalah dari bank milik Bagas, saudara iparnya. Siapa tahu dengan koneksinya yang banyak, aku bisa minta tolong sebelum surat kuasa penggeledahan keluar.
"Oke Randy. Thanks." David memutuskan panggilannya.
"Let, gimana? Suratnya keluar kapan?" tanya Jimmy penasaran karena tiga buku tabungan yang ditemukan itu memiliki saldo tidak sedikit.
"Keluar besok paling lambat. Aku akan coba cara lain" seringai nya lalu memencet nomor Bagas. "Assalamualaikum mas Bagas."
Jimmy dan Toro hanya saling berpandangan. Siapa itu Bagas?
***
Bagas Hadiyanto menatap David yang datang dengan seragam lengkap ke kantornya. Keduanya memang jarang bertemu di luar acara keluarga tapi Bagas dan David masuk ke dalam grup chat para pria generasi kelima.
"Ada apa Dave, kok sepertinya penting banget" ucap suami Safira Pratomo itu.
"Penting banget mas. Soalnya berhubungan dengan kasus pembunuhan. Biarpun rasanya nepotisme tapi aku nggak sabar" cengir David.
"Kira-kira seperti apa nepotisme nya Dave" kekeh Bagas.
David mengeluarkan tiga buku tabungan dan salah satunya dari bank milik Bagas sedangkan dua lainnya milik bank pemerintah.
"Buku tabungan siapa ini Dave?" tanya Bagas dan dirinya bersiul melihat nominal disana.
"Punya korban pembunuhan yang sedang aku selidiki kematiannya."
Bagas menaikkan sebelah alisnya. "Pembunuhan yang mana? Bukankah yang ditembak Dhita sudah mati?"
"Bukan dia, mas. Baru ditemukan mayatnya pagi tadi padahal dua hari lalu dia pamit padaku untuk pulang kampung tapi malah ditemukan tewas di sebuah gerbong kosong di stasiun pasar Senen."
"Lalu kamu ingin menyelidiki apa motif pembunuhannya?" Bagas menatap David intens.
"Bingo! Aku kalau menunggu surat dari pengadilan, kelamaan padahal aku penasaran."
Bagas tertawa. "Dasar detektif! Aku bisa sih membantu kamu tapi ini non resmi ya hanya sekedar menjawab rasa penasaran kamu."
"Nggak papa mas. Yang penting aku bisa meraba motifnya."
Bagas mengangguk lalu memanggil asistennya. "Indra, tolong ke ruangan saya."
***
Indra bergerak cepat untuk memeriksa semua rekening koran dan transaksi dari buku tabungan milik Yulianto yang merupakan nasabah bank Arta Jaya.
"Pak David, saldo tabungan milik nasabah Yulianto pada tiga hari lalu masih sejumlah 574,675,411 tapi per hari ini sudah berkurang hampir 100 juta" papar Indra sambil membaca kertas yang dibawanya.
"Yulianto tewas pada hari Senin lalu dan sekarang hari Kamis ini sudah berkurang hampir 100 juta? Dead man don't need money kan?" David menatap Indra. "Ditarik dari ATM atau transfer?"
"Yang ditarik dari ATM dua hari ini sampai maksimal limitnya 20 juta jadi 40 juta, yang 55 juta ditransfer melalui mobile banking milik bank Arta Jaya."
David tersentak. "Tunggu sebentar." Pria itu lalu menelpon Randy.
"Ran, ponsel milik korban Yulianto casingnya apa?"
"Casingnya rainbow."
"Tipe ponselnya?"
"iPhone 14 pro."
"Warna apa?"
"Warna putih."
David menyeringai. "Itu bukan ponsel Yulianto."
"HAAAAHH?"
"Ponsel Yulianto bewarna hijau. Aku tahu karena dia pernah membuka casingnya untuk memberikan catatan alamat rumahnya di Sragen kepadaku saat dia mau pamitan. Vino lah yang ponselnya bewarna putih. Aku tahu karena saat itu Vino memakai casing bening untuk ponselnya."
"Iya, motif pembunuhan ini besar kemungkinannya karena uang. Vino lah yang membunuh Yulianto. Vino lah yang menukar ponsel mereka berdua karena mereka memiliki iPhone yang sama hanya beda warna."
"Jadi ini tidak ada kaitannya dengan kasus kita sebelumnya Dave?" tanya Randy.
"No, ini murni rasa iri dengki dan serakah karena Vino tahu Yulianto memiliki tabungan yang ditotal mencapai 1,5milyar. Apakah ada kartu ATM milik Yulianto di dompetnya Ran?"
"Wah kalau aku ya sumbut!" gelak Randy. "Tidak, Dave. Aku tidak menemukan kartu ATM hanya kartu kerdit saja."
"Kamu hubungi Toro. Dia yang berhasil menemukan dimana Vino."
"Memang dia dimana sekarang, Dave?"
"Subang."
***
Bagas tersenyum kepada iparnya yang tampak puas bisa memecahkan kasusnya dalam waktu kurang dari seminggu.
"Syukurlah kasus ini tidak berhubungan dengan kasus mu sebelumnya Dave" ucap Bagas.
"Aku sebenarnya ingin langsung pites mereka bertiga tapi sayangnya mereka cukup rapi jadi semua bukti yang kita kumpulkan hanya berupa dugaan, asumsi, mengira-ngira dan beberapa tidak langsung yang agak sulit menjerat mereka. Apalagi si Tasya pakai acara mokat pula!" sungut David sebal.
"Hei, Tasya mokat kan salah dia sendiri, Dave! Kalau Dhita tidak menembak dia, elu yang mokat dodol!" hardik Bagas kesal.
"Iya sih" gumam David.
"Dasar!" Bagas menyesap teh chamomile nya.
"Tapi gila ah si Vino pakai acara bunuh Yulianto." David tampak berpikir.
"Harta, tahta dan wanita itu sumbernya bro. Kejahatan itu terjadi karena adanya niat pelakunya, Dave" cengir Bagas.
"Bah, kau kenapa jadi bang napi mas?" pendelik David. Bagas tertawa. "Eh tunggu dulu, aku lupa tanya Randy."
Pria itu lalu menelpon rekannya. "Ran, elu belum kirim rekaman CCTV nya."
"Masih didownload Dave karena gue minta satu Minggu sampai kemarin rekamannya."
David tampak berpikir lagi. Masa minta tolong Benji?
"Ya sudah, aku suruh Jimbong sama Ateng ketemuan di pasar Senen biar cepat. Aku kesana sekarang."
David pun bersiap-siap pergi dan tidak lupa dia memasukkan buku tabungan milik Yulianto ke dalam tas ranselnya.
"Jimbong, kamu bawa si Ateng ke stasiun pasar Senen sekarang! Jangan lupa kunci apartemennya!"
"Oke Dave!"
Bagas menatap David serius. "Hati-hati, Dave. Apa kamu sudah pakai kevlar yang diberikan Hideo?"
"Selalu aku pakai setiap aku bertugas, Mas. Aku tidak mau kejadian kemarin terulang lagi. Apalagi aku barusan menikah dengan Anandhita setelah sekian tahun pacaran."
"Iya Dave. Yang ngincar Dhita banyak, sampai psycho begitu. Apa kamu rela?"
"Oh no way Férguso! Enak saja! Didit cuma milikku!"
"Kalau begitu, berhati-hati lah dengan nyawamu" ucap Bagas serius.
***
David tiba di stasiun pasar Senen bersamaan dengan Jimmy dan Toro yang membawa dua tas ransel yang mereka bilang perlengkapan Pramuka forensik.
Setelah bertemu dengan kepala stasiun, akhirnya ketiganya masuk ke ruang kontrol yang berisikan banyak layar tv dari semua kamera CCTV yang dipasang.
"Saya sudah mendownload sampai satu hari sebelum ditemukan korban itu pak" ucap Romli, staf PT KAI yang bertugas di ruang monitor.
"Berikan pada saya, sisanya pak Romli lanjutkan" pinta Toro.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️